Rudolf Julianus 'Dolf' Metekohy adalah seorang politisi keturunan suku Ambon yang pernah menjabat dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur. Ia dikenal sebagai seorang tokoh konservatif yang pro-Belanda dalam Revolusi Nasional Indonesia.
Karier Awal
Dolf Metekohy kemungkinan lahir di Saparua. Ia tercatat sebagai pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda pada bagian keuangan, dan pernah ditempatkan di Tual, Semarang, dan Batavia sebelum masa pendudukan Jepang.
Negara Indonesia Timur
Setelah kembalinya Belanda ke Indonesia, Metekohy menjadi salah satu suara pro-Belanda di kalangan masyarakat Ambon. Pada tanggal 10 Februari 1946, Metekohy bersama 500 orang yang berasal dari elemen militer dan sipil Ambon di Jakarta mendirikan Partai Kesatuan Maluku (Moluksche Eenheidspartij) yang bercita-cita bekerja sama secara setia dengan pemerintah Belanda. Metekohy sendiri menjabat sebagai ketua umum partai tersebut.[1] Organisasi ini juga berkeinginan mewujudkan konsep Gemeenebest Molukken (Persemakmuran Maluku) yang meliputi Maluku, Maluku Utara, dan Niugini Belanda.[2]
Selain Partai Kesatuan Maluku, Metekohy juga aktif dalam gerakan Partai Timur Besar yang pro-Belanda. Salah satu agenda Metekohy melalui organisasi-organisasi ini adalah untuk memperjuangkan pemisahan Maluku Selatan dari struktur federal Indonesia (separatisme) dan menjadi bagian langsung dari Kerajaan Belanda (seperti kedudukan Suriname).
Metekohy ikut serta dalam Konferensi Malino mewakili daerah Maluku Selatan, dan kemudian dalam Konferensi Denpasar. Dengan demikian, ia diangkat menjadi salah satu anggota Badan Perwakilan Sementara Indonesia Timur. Namun demikian, ia tidak sempat duduk dalam badan tersebut karena ia diangkat menjadi Wakil Menteri Keuangan dalam Kabinet Nadjamuddin Daeng Malewa. Ia menduduki jabatan ini sampai 12 Januari 1949, ketika Kabinet Ida Anak Agung Gde Agung dibubarkan.
Setelah berhenti dari jabatannya sebagai wakil menteri, Metekohy diangkat menjadi Inspektur/Kepala Departemen pada Badan Audit Negara Indonesia Timur.
Peristiwa Andi Azis
Sebagai seorang loyalis Belanda, Metekohy tidak menginginkan dileburnya Negara Indonesia Timur ke dalam Republik Indonesia. Bersama Menteri Kehakiman Negara Indonesia Timur Christiaan Soumokil, Metekohy merancang skenario untuk memerdekakan Negara Indonesia Timur dari Republik Indonesia Serikat, yang dinamakan "Metekohy Plan". Metekohy Plan menskenariokan pengambilalihan kekuasaan di Makassar oleh Andi Azis yang dapat "memaksa" NIT untuk menyatakan kemerdekaan, namun gagalnya kudeta Andi Azis dan kurangnya dukungan dalam Negara Indonesia Timur menggagalkan rencana tersebut.[2]
Sebagai rencana terakhir, Presiden Tjokorda Gde Raka Soekawati direncanakan akan menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia Timur bersama Soumokil, Metekohy, dan Perdana Menteri Diapari, namun rencana ini juga gagal. Menyusul kegagalan kudeta Andi Azis dan hilangnya harapan kemerdekaan Indonesia Timur, Soumokil pergi ke Ambon, di mana pada tanggal 25 April 1950 ia menyatakan kemerdekaan Republik Maluku Selatan.
Akhir hidup
Riwayat Metekohy setelah gagalnya kudeta Andi Azis tidak diketahui.
Referensi
↑Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia (1946-02-12). "Moluksche Eenheidspartij". Het dagblad.