Agus Supriatna (lahir 28 Januari 1958) adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara yang menjabat sejak 2 Januari 2015 hingga 18 Januari 2017.[1] Agus pernah menjabat sebagai Pangkoopsau II, Wairjen Mabes TNI, dan Kepala Staf Umum TNI berdasarkan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin 3398/XII/2014 tanggal 30 Desember 2014.[2][3][4][5]
Sebelum menjadi KSAU, ia adalah perwira tinggi bintang dua TNI AU atau Marsekal Muda yang menjabat Wakil Inspektorat Jenderal TNI. Ia naik pangkat menjadi Marsekal Madya pada 31 Desember2014 dengan jabatan Kepala Staf Umum TNI untuk memenuhi syarat calon KSAU, yaitu perwira tinggi bintang tiga. Setelah menjabat Kepala Staf Umum TNI selama 2 hari, pada tanggal 2 Januari2015 ia dilantik menjadi KASAU ke-20 oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara.[6] Pengangkatan KSAU baru ini berdasarkan Keputusan Presiden No. 01/TNI/2015, yang ditetapkan tanggal 2 Januari2015, dan dibacakan oleh Sekretaris Militer Kepresidenan.[7]
Masa muda dan pendidikan
Agus adalah anak kelima dari sepuluh orang bersaudara pasangan Sumantri Martaatmadja dengan Tjitjih Mulyasih, dimana Sumantri adalah prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dengan pangkat Sersan Mayor (TNI) yang saat ia dilahirkan sedang menempuh pendidikan calon perwira di Bandung, Jawa Barat. Kakeknya, Dharma Martaadmadja, berasal dari Cirebon seorang "mantri suntik" (petugas penyuluh kesehatan yang memiliki lisensi untuk menyuntikkan obat guna menyembuhkan orang sakit) kala penjajahan Belanda. Sedangkan kakek buyutnya adalah seorang kuwu atau lurah yang berdinas di wilayah kekuasaan Keraton Cirebon.
Ibunya, adalah wanita kelahiran Kampung Duri, Tambora, Jakarta Barat. Ayah dari Ibunya berprofesi sebagai arsitektur pada zaman penjajahan Belanda yang berasal dari Pandeglang, Banten, Ia merupakan keturunan marga Tubagus, salah satu marga kalangan ningrat di Banten.[8]
Sebagai anak kelima, ia adalah anak laki-laki yang ditunggu setelah 3 kakaknya berjenis kelamin perempuan. Sebenarnya anak pertama juga laki-laki, bernama Dendi Suherman, tetapi sejak kecil, karena Ibu Tjitjih sakit keras, maka ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Dan ketika sembuh, Dendi tetap dalam asuhan mereka. Anak kedua Ibu Tjitjih bernama Eti Rohati, perempuan, anak ketiganya, Titien Rohayati, juga perempuan, begitu juga anak keempat bernama Heni Rustini. Agus dilahirkan di Rumah Sakit Angkatan Darat Sariningsih, Kota Bandung, Jawa Barat. Dan pada saat kelahirannya kakeknya sudah menyebutnya sebagai "Gatotkaca" dengan senangnya sehingga diadakan syukuran tujuh hari tujuh malam. Ketika ia kecil, sering dipanggil dengan nama kesayangan "Topik" yang berarti restu dari Alloh, sebagai rasa syukur karena mendapatkan anak lak-laki lagi. Adiknya adalah seorang wanita bernama Dewi Rusmani. Dan anak ketujuh hingga kesepuluh semuanya laki-laki dengan nama, Deden Sulian, Budi Safaat, Cecep Subekti dan Mulana Saptaji. Dari sepuluh anak tersebut, selain Agus, Cecep Subekti juga seorang pilot, pilot pesawat komersial[9]
Tahun 1962, ketika Agus berusia 3 tahun, ayahnya dipindah tugaskan ke Depo Pendidikan Infanteri XI (DODIK IF XI), Ambon, Maluku, sehingga mereka pindah kesana mempergunakan kapal milik tentara. Di tengah Laut Banda dan sudah dekat pulau Maluku, kapal terbakar dan semuanya menyelamatkan diri dengan sekoci, tetapi dalam proses penyelamatan tersebut, Agus tertinggal di kapal dan hampir saja terjun ke laut untuk mengejar sekoci, tetapi berhasil diselamatkan oleh Pak Purba, tentara bawahan Sumantri sehingga ia selamat dari maut karena Agus belum bisa berenang.[10]
Agus “Dingo” Supriatna mengawali kariernya di militer sejak tahun 1983, saat lulus dari Akademi Angkatan Udara. Selepas mengikuti Sekolah Penerbang TNI AU jurusan tempur ia mulai meniti karier sebagai penerbang pesawat tempur A-4 Skyhawk Skadron 11 yang berpangkalan di Lanud Iswahjudi, Madiun. Ia mulai karier sebagai Kasi Opslat Skadud 11 Lanud Iswahjudi (1987), setelah menjalani pendidikan Instruktur Penerbang ia konversi ke pesawat F-5 Skadron Udara 14 Lanud Iswahyudi dan selanjutnya bergabung menjadi penerbang pesawat F-16Skadron Udara 3Lanud Iswahyudi. Papok Instruktur Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi (1992), Danflightops D Skadron Udara 3Lanud Iswahjudi (1994), Kadisops Skadud 3 Wing 3 Lanud Iswahjudi (1996) selanjutnya Danskadik 102 Wingdikterbang Lanud Adi Soemarmo (1998). Sebagai penerbang tempur ia berpengalaman mengikuti berbagai macam operasi tempur dan latihan di seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga. Kariernya terus menanjak sebagai Pabandya Opsudstrat Paban II/ Ops Sopsau (2000), Kabadan Uji Koopsau I (2001), Athan RI KBRI Singapura (2003), Paban Utama B-3 Dit “B” Bais TNI (2006), Danlanud Hasanudin (2010), Kaskoopsau I Jakarta (2011), Panglima Koopsau II Makassar (2012), Wairjen TNI (2014), Kasum TNI (2014) hingga menjadi KASAU seperti sekarang.[12]
Tim Aerobatik Elang Biru
Tim Aerobatik Elang Biru saat itu benar-benar mengundang decak kagum seluruh penonton yang ada baik yang melihat langsung maupun yang melihat lewat televisi. Sebuah majalah ibu kota menggambarkan, “kegesitan manuvernya, gelegar suaranya, mengundang siapa saja menoleh ke atas. Ribuan pasang mata,
seperti terbetot takjub menyaksikan liak-liuknya. Itulah akrobatik udara Tim Aerobatik Elang Biru milik TNI Angkatan Udara” Demikian gambaran dahsyatnya penampilan tim kebanggaan TNI Angkatan Udara ini seperti tertulis di buku Elang Biru oleh Eny DA Purwanto. Pada penampilan tersebut, selain Agus “Dingo” Supriatna (MarsekalTNI) dan Muhammad “Wild Geese” Syaugi (Marsekal MudaTNI) tim tim Elang Biru lainnya adalah Letkol Pnb Rodi “Cobra” Suprasodjo (leader/Marsekal MudaTNI), Mayor Pnb Bambang “Puffin” Samoedro (Marsekal MudaTNI), Kapten Pnb Tatang “Phyton” Harlyansyah (Marsekal PertamaTNI) serta Kapten Pnb Anang “Morgan” Nurhadi Susilo (Marsekal PertamaTNI). Sebagai lead solo, “Dingo” tidak saja melakukan manuver “cross over break” tetapi beberapa manuver lain yang tidak kalah mendebarkan di antaranya “calypso” dan “inverted to inverted”. “Calypso” adalah formasi dua pesawat terbang dengan leader inverted (terbalik), dalam hal ini dilakukan dengan Mayor Pnb M Syaugi sebagai opposing solo. Penuturan “Dingo” sebagaimana Siang itu, ribuan pasang mata terhenyak dan menahan napas sejenak, melihat dua pesawat F-16 terbang silang dengan kecepatan 425 knots atau 765 kilometer/jam seolah kehilangan keseimbangan dan hendak saling bertabrakan. Cross over break, manuver yang membuat jantung berdebar-debar itu dimainkan oleh Mayor Pnb Agus “Dingo” Supriatna dan Mayor Pnb Muhammad “Wild Geese” Syaugi ketika Tim Aerobatik Elang Biru memeriahkan peringatan Hari Emas (50 tahun) ABRI/TNI, 5 Oktober 1995, di Jakarta.