ENSIKLOPEDIA
Agnostik
| Artikel ini merupakan bagian dari seri |
| Teisme |
|---|
|
Tuhan menurut agama |
|
Sifat ketuhanan |
|
|
Topik terkait |
|
|
Agnostisisme adalah pandangan bahwa keberadaan Tuhan, para dewa, atau hal-hal supranatural tidak diketahui, belum diketahui, atau pada prinsipnya tidak dapat diketahui oleh manusia.[1][2] Dalam pengertian psikologis, agnostisisme merujuk pada sikap menangguhkan penilaian, yakni tidak menyatakan percaya maupun tidak percaya terhadap keberadaan Tuhan. Dalam pengertian filosofis yang lebih kuat, agnostisisme menyatakan bahwa pengetahuan pasti mengenai Tuhan atau realitas ilahi tidak tersedia bagi akal manusia.[3][4] Orang yang menganut atau mengidentifikasi diri dengan pandangan ini disebut agnostik.[5]
Agnostisisme biasanya dibedakan dari teisme, yang menyatakan bahwa Tuhan atau dewa-dewi ada, dan dari ateisme, yang dalam arti sempit menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. Namun hubungan antara ketiganya bergantung pada definisi yang digunakan. Jika ateisme dipahami secara luas sebagai ketiadaan kepercayaan kepada Tuhan, maka agnostisisme dapat dipandang sebagai salah satu bentuk ateisme negatif karena agnostik tidak mengafirmasi keberadaan Tuhan. Jika ateisme dipahami secara sempit sebagai penyangkalan aktif terhadap keberadaan Tuhan, maka agnostisisme menjadi posisi tersendiri di antara teisme dan ateisme.[2][6]
Istilah agnostic diperkenalkan oleh ahli biologi Inggris Thomas Henry Huxley pada tahun 1869 dalam pertemuan Metaphysical Society. Ia memakai istilah itu untuk menolak klaim-klaim teologis dan metafisik yang tidak didukung oleh bukti yang memadai.[7][8] Walaupun istilah modernnya baru muncul pada abad ke-19, gagasan serupa telah ditemukan dalam filsafat Yunani Kuno, filsafat India, Buddhisme, teologi negatif, dan perdebatan modern tentang batas-batas pengetahuan manusia.[1][9]
Definisi

Secara umum, agnostisisme adalah sikap yang mempertanyakan atau menangguhkan penilaian tentang keberadaan Tuhan atau yang ilahi. Seorang agnostik tidak menyatakan bahwa Tuhan pasti ada dan juga tidak menyatakan bahwa Tuhan pasti tidak ada. Sikap ini sering dipahami sebagai posisi netral yang tetap terbuka terhadap kemungkinan adanya bukti baru.[8][10]
Dalam pemakaian populer, agnostik sering diartikan sebagai orang yang "tidak tahu" apakah Tuhan ada atau tidak. Dalam pemakaian filosofis yang lebih ketat, agnostisisme adalah pandangan bahwa akal manusia tidak memiliki dasar rasional yang cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa Tuhan ada maupun keyakinan bahwa Tuhan tidak ada.[3] Karena itu, agnostisisme tidak selalu berarti ketidaktertarikan terhadap agama; ia dapat berupa sikap reflektif setelah seseorang menimbang argumen, bukti, dan keterbatasan pengetahuan manusia.[11]
Agnostisisme juga dapat digunakan di luar konteks agama. Dalam pengertian yang luas, seseorang dapat disebut agnostik terhadap suatu persoalan apabila ia menangguhkan penilaian tentang kebenaran klaim tertentu, misalnya mengenai kehendak bebas, teori fisika tertentu, atau kemungkinan adanya kehidupan cerdas di luar bumi.[8][9] Dalam bidang teknologi, kata "agnostik" juga digunakan secara metaforis untuk menyebut sistem yang tidak terikat pada platform, perangkat keras, atau bahasa pemrograman tertentu, seperti pada istilah platform-agnostic atau language-agnostic.[12]
Etimologi
Kata agnostik berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu awalan ἀ-code: grc is deprecated (a-, berarti "tidak" atau "tanpa") dan γνῶσιςcode: grc is deprecated (gnōsis, berarti "pengetahuan"). Secara harfiah, agnostic berarti "tanpa pengetahuan" atau "tidak mengetahui".[7][1] Huxley menggunakan istilah ini untuk menandai prinsip bahwa seseorang tidak boleh mengaku mengetahui sesuatu apabila ia tidak memiliki bukti yang cukup untuk membenarkan klaim tersebut.[13]
Agnostisisme tidak sama dengan Gnostisisme. Gnostisisme adalah rumpun gerakan keagamaan dan filosofis kuno yang menekankan gnosis atau pengetahuan spiritual khusus, sedangkan agnostisisme Huxley merujuk pada prinsip epistemologis tentang keterbatasan pengetahuan manusia.[14]
Prinsip Huxley
Huxley tidak memandang agnostisisme sebagai sekadar keyakinan, melainkan sebagai metode berpikir. Prinsip itu mengharuskan seseorang mengikuti akal sejauh mungkin, tetapi tidak mengaku pasti terhadap kesimpulan yang tidak dapat dibuktikan atau didemonstrasikan secara memadai.[13] Dalam tulisan lain, Huxley menyatakan bahwa agnostisisme menolak kewajiban untuk mempercayai proposisi yang tidak memiliki bukti memuaskan secara logis.[15]
Bagi Huxley, agnostisisme berkaitan erat dengan metode ilmiah. Klaim yang tidak dapat diuji, tidak memiliki bukti objektif, atau tidak dapat diperiksa melalui penyelidikan rasional tidak boleh disajikan sebagai pengetahuan. Karena itu, agnostisisme Huxley sering dipahami sebagai bentuk kehati-hatian intelektual terhadap teologi spekulatif, metafisika, dan klaim supranatural yang tidak terverifikasi.[1][4]
Tipe-tipe agnostisisme
Para filsuf membedakan beberapa bentuk agnostisisme berdasarkan sikap, tingkat komitmen, lingkup persoalan, dan hubungannya dengan agama.[10][8]
Berdasarkan sikap
- Agnostisisme psikologis atau doksastik
- Agnostisisme psikologis adalah keadaan mental ketika seseorang menangguhkan penilaian tentang keberadaan Tuhan. Orang tersebut tidak percaya dan juga tidak tidak percaya. Bentuk ini menggambarkan keadaan pikiran seseorang, tanpa dengan sendirinya menyatakan apakah sikap tersebut rasional atau wajib diambil oleh semua orang.[2][11]
- Agnostisisme epistemologis atau kognitif
- Agnostisisme epistemologis menyatakan bahwa keberadaan Tuhan tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Bentuk ini lebih kuat karena bukan hanya menggambarkan keadaan pribadi, melainkan mengajukan klaim tentang batas pengetahuan manusia. Dalam bentuk ini, manusia dinilai tidak memiliki bukti atau kemampuan kognitif yang cukup untuk memperoleh pengetahuan pasti mengenai Tuhan.[3][4]
- Agnostisisme lemah
- Agnostisisme lemah, juga disebut agnostisisme lunak, terbuka, empiris, atau sementara, menyatakan bahwa seseorang saat ini tidak mengetahui apakah Tuhan ada atau tidak, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa pengetahuan tersebut mungkin dicapai di masa depan. Seorang agnostik lemah dapat berkata, "Saya tidak tahu apakah Tuhan ada, tetapi mungkin suatu hari bukti yang cukup dapat ditemukan."[9][16]
- Agnostisisme kuat
- Agnostisisme kuat, juga disebut agnostisisme keras, ketat, tertutup, atau permanen, menyatakan bahwa pertanyaan tentang keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui pada prinsipnya. Pandangan ini menilai bahwa keterbatasan pengalaman, bahasa, dan akal manusia membuat pengetahuan objektif tentang Tuhan tidak mungkin dicapai.[9][3]
- Agnostisisme apatis
- Agnostisisme apatis, atau apatheistic agnosticism, berpendapat bahwa perdebatan tentang keberadaan Tuhan tidak memiliki dampak praktis yang cukup besar terhadap kehidupan manusia. Penganutnya dapat berkata, "Saya tidak tahu apakah Tuhan ada, dan saya tidak terlalu peduli apakah Tuhan ada atau tidak."[17][18]
Berdasarkan penyelidikan
- Agnostisisme berdasar
- Agnostisisme berdasar muncul setelah seseorang melakukan penyelidikan serius terhadap argumen teistik dan ateistik. Setelah menimbang bukti dan bantahan, ia menyimpulkan bahwa tidak ada posisi yang cukup menentukan untuk diterima.[10]
- Agnostisisme tidak berdasar
- Agnostisisme tidak berdasar adalah penangguhan penilaian tanpa penyelidikan mendalam. Orang tersebut memahami persoalan secara umum, tetapi tidak melakukan kajian lebih jauh karena menganggapnya tidak penting atau belum mendesak.[10]
- Agnostisisme optimistis, pesimistis, dan ragu-ragu
- Agnostisisme optimistis menilai bahwa persoalan keberadaan Tuhan mungkin dapat diselesaikan melalui penyelidikan masa depan. Agnostisisme pesimistis menilai bahwa persoalan tersebut tidak akan pernah terselesaikan. Agnostisisme ragu-ragu tidak hanya ragu tentang keberadaan Tuhan, tetapi juga ragu apakah penyelidikan lebih lanjut dapat menghasilkan jawaban yang menentukan.[9][19]
Berdasarkan hubungan dengan agama
- Agnostisisme sekuler
- Agnostisisme sekuler biasanya beriringan dengan gaya hidup nonreligius. Penganutnya tidak mengikuti ritual keagamaan tradisional dan cenderung mengutamakan penjelasan naturalistik, nilai humanistik, atau etika sekuler.[9][20]
- Agnostisisme religius
- Agnostisisme religius adalah sikap agnostik yang masih memberi tempat bagi praktik, pengalaman, atau komitmen keagamaan. Seseorang dapat menjalankan ibadah, tradisi, atau etika agama sambil tetap menangguhkan klaim pengetahuan pasti tentang Tuhan. Bentuk ini terlihat dalam teisme agnostik, agnostisisme Kristen, dan beberapa tradisi yang menekankan misteri ilahi atau teologi negatif.[1][20]
- Teisme agnostik
- Teisme agnostik adalah pandangan bahwa seseorang percaya kepada Tuhan, tetapi menganggap bahwa keberadaan atau hakikat Tuhan tidak dapat diketahui secara pasti. Dalam pandangan ini, iman tidak selalu bergantung pada pengetahuan rasional yang lengkap.[9][21]
- Ateisme agnostik
- Ateisme agnostik adalah pandangan yang menggabungkan ketiadaan kepercayaan kepada Tuhan dengan klaim bahwa keberadaan Tuhan tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Orang yang mengambil posisi ini tidak percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mengklaim memiliki pengetahuan pasti bahwa Tuhan tidak ada.[22][23]
Agnostisisme metodologis
Dalam studi agama, agnostisisme metodologis adalah pendekatan penelitian yang menangguhkan penilaian tentang benar atau salahnya doktrin agama. Peneliti mendeskripsikan, menganalisis, dan membandingkan kepercayaan serta praktik keagamaan tanpa menyatakan bahwa klaim agama tersebut benar atau salah. Tujuannya adalah menjaga netralitas akademik dan menghindari pemaksaan asumsi naturalistik maupun supranaturalistik ke dalam objek penelitian.[24][25]
Hubungan dengan pandangan lain
Teisme dan ateisme
Teisme adalah pandangan bahwa Tuhan atau dewa-dewi ada. Bentuknya dapat berupa monoteisme, yaitu kepercayaan pada satu Tuhan, atau politeisme, yaitu kepercayaan pada banyak dewa. Sebaliknya, ateisme dalam arti sempit adalah pandangan bahwa Tuhan tidak ada, sedangkan ateisme dalam arti luas adalah ketiadaan kepercayaan kepada Tuhan.[2][6]
Agnostisisme dapat ditempatkan dengan dua cara. Pertama, ia dapat dipandang sebagai posisi ketiga di antara teisme dan ateisme sempit: teisme percaya, ateisme menyangkal, dan agnostisisme menangguhkan penilaian. Kedua, jika ateisme didefinisikan secara luas sebagai ketiadaan kepercayaan, maka agnostisisme dapat dianggap sebagai bentuk ateisme negatif. Kerancuan ini menjelaskan mengapa sebagian orang dapat menyebut diri mereka "agnostik dan ateis" sekaligus.[2][26]
Skeptisisme dan fallibilisme
Agnostisisme berkaitan dengan skeptisisme, yaitu sikap meragukan klaim pengetahuan. Skeptisisme radikal menolak kemungkinan pengetahuan secara umum, sedangkan agnostisisme biasanya bersifat lokal, yaitu hanya menangguhkan pengetahuan tentang Tuhan atau persoalan tertentu.[27][2]
Agnostisisme juga berkaitan dengan fallibilisme, yakni pandangan bahwa keyakinan manusia selalu mungkin keliru. Namun fallibilisme tidak selalu berujung pada agnostisisme. Seorang teis fallibilis atau ateis fallibilis dapat tetap mempertahankan keyakinannya sambil mengakui bahwa keyakinan itu tidak pasti secara mutlak.[28][16]
Ignostisisme dan apateisme
Ignostisisme atau igtheism menyatakan bahwa konsep "Tuhan" belum cukup jelas untuk dinilai benar atau salah. Menurut pandangan ini, sebelum bertanya apakah Tuhan ada, seseorang harus terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksud dengan "Tuhan". Agnostisisme berbeda karena biasanya menerima bahwa pertanyaan tentang keberadaan Tuhan bermakna, tetapi menangguhkan jawaban atas pertanyaan tersebut.[6]
Apateisme menekankan ketidakpedulian terhadap keberadaan Tuhan. Apateis menganggap pertanyaan tersebut tidak relevan bagi kehidupan sehari-hari. Agnostik apatis dapat tumpang tindih dengan apateisme, tetapi agnostisisme secara umum tidak selalu bersifat acuh tak acuh; banyak agnostik tetap aktif meneliti, berdiskusi, atau menjalani pencarian spiritual.[11]
Naturalisme, empirisme, dan positivisme
Agnostisisme sering diasosiasikan dengan naturalisme, empirisme, dan positivisme, tetapi tidak identik dengan ketiganya. Naturalisme menekankan bahwa alam semesta dijelaskan melalui hukum-hukum alam; empirisme menyatakan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi; sedangkan positivisme menekankan verifikasi ilmiah. Seorang agnostik dapat mendasarkan sikapnya pada empirisme atau positivisme, tetapi seseorang juga dapat menjadi agnostik karena alasan teologis, mistik, atau keterbatasan bahasa manusia.[4][1]
Argumen yang mendukung agnostisisme
Argumen utama bagi agnostisisme adalah bahwa bukti tentang keberadaan Tuhan tidak cukup menentukan. Dalam pandangan ini, argumen teistik dan ateistik sama-sama memiliki kelemahan, tidak konklusif, atau saling menyeimbangkan. Karena bukti belum mendukung salah satu posisi secara meyakinkan, sikap yang paling hati-hati adalah menangguhkan penilaian.[2][11]
Sebagian argumen agnostik berakar pada empirisme. David Hume berpendapat bahwa pengetahuan tentang dunia bergantung pada pengalaman; karena Tuhan dipahami sebagai realitas yang melampaui pengalaman indrawi, maka klaim tentang Tuhan sulit dibuktikan secara empiris.[1][29] Immanuel Kant juga membatasi pengetahuan manusia pada ranah fenomena atau penampakan, sehingga realitas pada dirinya sendiri, termasuk Tuhan sebagai objek metafisik, tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan teoritis.[30]
Argumen lain menekankan kerendahan hati intelektual. Karena manusia memiliki keterbatasan kognitif, sejarah kekeliruan, dan perbedaan mendalam di antara para ahli, agnostisisme dinilai sebagai sikap yang lebih berhati-hati daripada klaim kepastian. Pandangan ini juga menganggap agnostisisme mendukung keterbukaan, toleransi, dan koeksistensi dalam masyarakat majemuk.[8][20]
Beberapa argumen religius juga dapat mendukung bentuk agnostisisme tertentu. Dalam teologi negatif, Tuhan dianggap melampaui konsep dan bahasa manusia. Karena itu, manusia mungkin hanya dapat mengatakan apa yang bukan Tuhan, bukan menjelaskan hakikat Tuhan secara positif. Pandangan serupa ditemukan dalam sebagian tradisi Kristen, Yahudi, Islam, Hindu, dan mistik.[1][31]
Kritik terhadap agnostisisme
Kritik teistik terhadap agnostisisme biasanya berupaya menunjukkan bahwa ada bukti kuat bagi keberadaan Tuhan. Argumen yang sering diajukan meliputi argumen kosmologis, yaitu bahwa alam semesta memerlukan sebab pertama; argumen teleologis, yaitu bahwa keteraturan dan kompleksitas alam menunjukkan adanya perancang; argumen moral, yaitu bahwa nilai moral objektif memerlukan dasar ilahi; serta argumen dari pengalaman religius dan wahyu.[32][16]
Sebagian filsuf teistik, seperti Alvin Plantinga, juga menyatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan dapat menjadi keyakinan dasar, mirip dengan kepercayaan terhadap ingatan atau persepsi. Jika demikian, kepercayaan kepada Tuhan tidak selalu membutuhkan bukti eksternal yang sama seperti klaim ilmiah biasa.[33]
Kritik ateistik terhadap agnostisisme menilai bahwa ketiadaan bukti justru menjadi alasan untuk tidak percaya, bukan untuk menangguhkan penilaian. Menurut pandangan ini, beban pembuktian berada pada pihak yang mengajukan klaim bahwa Tuhan ada. Jika bukti yang memadai tidak tersedia, maka sikap yang lebih tepat adalah tidak percaya. Ilustrasi terkenal dari pandangan ini adalah teko Russell, yaitu analogi Bertrand Russell tentang teko kecil yang diklaim mengorbit Matahari tetapi tidak dapat diamati.[9][34]
Kritik lain menyatakan bahwa agnostisisme dapat terlalu pasif atau tidak praktis. Taruhan Pascal, misalnya, menyatakan bahwa dalam kondisi ketidakpastian, lebih menguntungkan untuk percaya kepada Tuhan karena kemungkinan imbalan religiusnya sangat besar. Sebaliknya, beberapa ateis berpendapat bahwa sikap agnostik dapat mempertahankan keraguan yang tidak perlu terhadap klaim-klaim yang tidak memiliki dasar bukti.[9][35]
Positivisme logis mengkritik agnostisisme dari arah lain. Menurut pandangan ini, pernyataan tentang Tuhan tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi, sehingga tidak bermakna secara kognitif. Jika demikian, teisme, ateisme, dan agnostisisme sama-sama keliru karena mengandaikan bahwa ada proposisi bermakna yang sedang diperdebatkan.[4][36]
Gaya hidup dan implikasi sosial
Agnostisisme sering diasosiasikan dengan gaya hidup sekuler. Dalam bentuk ini, agnostik dapat mengutamakan nilai-nilai seperti kesejahteraan duniawi, etika humanistik, kebebasan berpikir, dan pencarian rasional. Secara praktis, beberapa agnostik hidup mirip dengan ateis karena tidak mengikuti ritual atau kewajiban agama tertentu.[9][20]
Namun agnostisisme tidak selalu menolak agama. Seorang agnostik dapat tetap menghadiri ibadah, mengikuti tradisi keluarga, mempraktikkan doa, atau menghayati nilai keagamaan tanpa mengklaim pengetahuan pasti tentang Tuhan. Dalam bentuk lain, seseorang dapat percaya kepada Tuhan sebagai soal iman, tetapi menolak bahwa Tuhan dapat diketahui secara objektif.[1][11]
Kajian psikologi agama menunjukkan bahwa agnostik dan ateis tidak selalu membentuk kelompok yang sama. Beberapa penelitian menemukan bahwa orang yang mengidentifikasi diri sebagai agnostik cenderung lebih terbuka terhadap spiritualitas, lebih prososial, dan lebih menekankan ketidakpastian dibandingkan ateis, sedangkan ateis cenderung lebih mengaitkan identitasnya dengan penalaran analitis dan ketidakpercayaan yang lebih tegas.[37][38] Penelitian lain pada 2026 menyoroti bahwa istilah "agnostik" dapat mencakup beberapa dimensi, termasuk identifikasi diri, ketidakpastian keyakinan, dan pandangan tentang ketidakdapattahuan Tuhan.[39]
Dalam masyarakat plural, agnostisisme kadang dipandang sebagai dasar toleransi karena menolak klaim kepastian mutlak. Namun dalam masyarakat yang sangat religius, agnostik dapat mengalami prasangka atau diskriminasi karena dianggap tidak memiliki komitmen keagamaan yang jelas.[6][40]
Dalam konteks kontemporer, sebagian sarjana menilai bahwa agnostisisme tidak selalu harus dipahami hanya sebagai posisi ontologis tentang ada atau tidaknya Tuhan. Peder Thalén, misalnya, membahas kemungkinan konsep agnostisisme baru dalam masyarakat pascasekuler, ketika sebagian orang tidak lagi merasa cocok dengan oposisi tegas antara religius dan sekuler.[41]
Sejarah
Akar kuno
Walaupun istilah agnostisisme baru diciptakan pada abad ke-19, gagasan tentang keterbatasan pengetahuan manusia telah muncul jauh sebelumnya.[1][9] Dalam Yunani Kuno, Protagoras menyatakan bahwa mengenai para dewa, ia tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah mereka ada atau tidak. Pandangan ini sering dianggap sebagai salah satu ungkapan agnostik paling awal dalam filsafat Barat.[42]
Socrates juga sering dikaitkan dengan kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia melalui gagasan bahwa kebijaksanaan dimulai dari pengakuan atas ketidaktahuan. Sementara itu, Pyrrho dan tradisi skeptisisme Pyrrhonian menekankan penangguhan penilaian terhadap berbagai klaim sebagai jalan menuju ketenangan batin.[9]
Dalam filsafat India, gagasan agnostik terlihat dalam Nasadiya Sukta dari Rigveda, yang mempertanyakan apakah asal-usul alam semesta benar-benar dapat diketahui, bahkan oleh para dewa. Aliran Ajñana di India kuno juga menolak kepastian tentang persoalan metafisik dan sering disebut sebagai salah satu bentuk skeptisisme atau agnostisisme awal.[43][44]
Dalam tradisi Buddhis awal, Sanjaya Belatthiputta dikenal menolak memberikan jawaban pasti tentang pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti kehidupan setelah mati. Beberapa teks Buddhis juga menampilkan sikap berhati-hati terhadap spekulasi metafisik yang tidak berkaitan langsung dengan pembebasan dari penderitaan.[45]
Abad pertengahan
Dalam filsafat Kristen abad pertengahan, teologi negatif menekankan bahwa Tuhan melampaui konsep manusia. Pseudo-Dionysius Areopagita menyatakan bahwa bahasa manusia tidak mampu menangkap hakikat ilahi secara positif.[46] Thomas Aquinas mengakui bahwa keberadaan Tuhan dapat dibahas secara rasional, tetapi hakikat Tuhan tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal manusia.[47]
Dalam filsafat Yahudi, Maimonides menyatakan bahwa esensi Tuhan tidak dapat diketahui dan bahwa pernyataan manusia tentang Tuhan lebih tepat dirumuskan secara negatif, yakni dengan mengatakan apa yang bukan Tuhan. Dalam filsafat Islam, sebagian pemikir seperti Abu Bakar ar-Razi mengkritik klaim kenabian dan wahyu, meskipun kritik tersebut tidak selalu identik dengan penyangkalan terhadap Allah.[1][48]
Masa modern
Pada masa modern awal, Blaise Pascal mengemukakan bahwa sekalipun pengetahuan pasti tentang Tuhan tidak tersedia, manusia dapat memiliki alasan praktis untuk percaya kepada Tuhan. Pemikiran ini dikenal sebagai Taruhan Pascal.[9]
David Hume memberikan pengaruh penting bagi agnostisisme modern melalui kritiknya terhadap argumen mukjizat dan teologi alam. Ia menilai bahwa keyakinan rasional harus sebanding dengan bukti. Immanuel Kant kemudian membatasi pengetahuan teoretis manusia pada dunia fenomenal, sehingga Tuhan, kebebasan, dan keabadian jiwa berada di luar pengetahuan teoretis murni.[1]
Sir William Hamilton dan Henry Longueville Mansel mengembangkan gagasan bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas dan relatif. Herbert Spencer kemudian membedakan wilayah yang dapat diketahui oleh ilmu pengetahuan dan wilayah "yang tidak dapat diketahui" yang sering dikaitkan dengan agama. Pemikiran-pemikiran ini turut membentuk latar intelektual tempat Huxley memperkenalkan istilah agnostisisme.[1][49]
Abad ke-19 dan Huxley
Pada abad ke-19, teori evolusi Charles Darwin melemahkan beberapa penjelasan keagamaan tradisional tentang asal-usul kehidupan dan memperkuat perdebatan tentang hubungan ilmu pengetahuan dan agama. Huxley, yang dikenal sebagai pembela Darwin, memperkenalkan istilah agnostic untuk menandai sikap intelektual yang menolak klaim tanpa bukti cukup.[1][7]
Agnostisisme kemudian menyebar melalui kuliah umum, jurnal populer, dan perdebatan filsafat. Di Inggris, tokoh-tokoh seperti John Stuart Mill, George Eliot, dan Leslie Stephen dikaitkan dengan iklim intelektual agnostik Victoria. Di Amerika Serikat, Robert G. Ingersoll membantu memopulerkan istilah agnostik melalui pidato-pidato publiknya.[50][51]
Abad ke-20 dan kontemporer
Pada abad ke-20, Bertrand Russell membela bentuk agnostisisme yang condong ke ateisme. Ia berpendapat bahwa tidak ada bukti menentukan bagi atau melawan keberadaan Tuhan, tetapi dalam praktiknya ia sering dipahami sebagai ateis terhadap Tuhan agama-agama tradisional.[52] A. J. Ayer, dari tradisi positivisme logis, menganggap pernyataan tentang Tuhan tidak bermakna secara kognitif karena tidak dapat diverifikasi.[53]
Sebaliknya, Søren Kierkegaard dan beberapa pemikir religius menekankan kemungkinan iman yang melampaui kepastian objektif. Dalam filsafat kontemporer, Anthony Kenny merumuskan pembelaan agnostisisme yang menyoroti kelemahan argumen-argumen teistik, persoalan makna bahasa religius, dan kesulitan memahami atribut ilahi. Alvin Plantinga mengkritik model pembuktian semata dengan menyatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan dapat menjadi keyakinan dasar.[20][33]
Dalam beberapa dekade terakhir, agnostisisme tidak hanya dibahas sebagai posisi antara teisme dan ateisme, tetapi juga sebagai sikap epistemik yang berdiri sendiri. Karya-karya mutakhir dalam filsafat analitik membahas agnostisisme sebagai sikap bertanya, penangguhan penilaian, dan posisi normatif terhadap bukti.[8][10] Sementara itu, kajian sosial dan psikologi agama meneliti agnostik sebagai kategori identitas nonreligius yang berbeda dari ateis, humanis, dan kelompok "tidak beragama" lainnya.[54][55]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Flew, Antony Garrard Newton (2026-01-30). "Agnosticism". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica, Inc. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- 1 2 3 4 5 6 7 Draper, Paul (2022). "Atheism and Agnosticism". Dalam Zalta, Edward N. (ed.). The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- 1 2 3 4 Rowe, William L. (1998). "Agnosticism". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. doi:10.4324/9780415249126-K001-1. ISBN 9780415250696.
- 1 2 3 4 5 Hepburn, Ronald W. (2006). "Agnosticism". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. Vol. 1 (Edisi 2). Thomson Gale/Macmillan Reference. hlm. 92–95. ISBN 978-0-02-865781-3. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ "Arti kata agnostik". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- 1 2 3 4 Oppy, Graham (2018). Atheism and Agnosticism. Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-63843-2.
- 1 2 3 Dixon, Thomas (2008). Science and Religion: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-929551-7. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- 1 2 3 4 5 6 Archer, Avery (2024). The Attitude of Agnosticism. Cambridge University Press. doi:10.1017/9781009214759. ISBN 978-1-009-21475-9. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Le Poidevin, Robin (2010). Agnosticism: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-957526-8.
- 1 2 3 4 5 Ferrari, Filippo; Incurvati, Luca (2022). "The Varieties of Agnosticism". The Philosophical Quarterly. 72 (2): 365–380. doi:10.1093/pq/pqab038. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- 1 2 3 4 5 Wilczewska, Sylwia (2022-01-05). "Agnosticism about God's Existence". 1000-Word Philosophy: An Introductory Anthology. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Woodrooffe, Sophie; Levy, Dan (2012-09-09). "What Does Platform Agnostic Mean?". Sparksheet. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-14. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- 1 2 Huxley, Thomas Henry (1889). "Agnosticism". The Popular Science Monthly. 34 (46): 768–788. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Moore, Edward. "Gnosticism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Huxley, Thomas Henry (1899). "Agnosticism and Christianity". Collected Essays V. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- 1 2 3 Oppy, Graham (2006). Arguing about Gods. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-86386-5.
- ↑ Tyrrell, John (1996). "Commentary on the Articles of Faith". Apathetic Agnostic Church. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-08-07. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Rauch, Jonathan (Mei 2003). "Let It Be: Three Cheers for Apatheism". The Atlantic Monthly.
- ↑ Ferrari, Filippo; Susanna, Gioia (2025). "The Normative Profile of Agnosticism: Some Case Studies in the Philosophy of Mathematics". Dalam Wagner, Verena; Zinke, Alexandra (ed.). Suspension in Epistemology and Beyond. Taylor & Francis. hlm. 125–143. ISBN 978-1-040-34131-5.
- 1 2 3 4 5 Fallon, Francis; Hyman, Gavin, ed. (2020). Agnosticism: Explorations in Philosophy and Religious Thought. Oxford University Press. doi:10.1093/oso/9780198859123.001.0001. ISBN 978-0-19-885912-3. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Alican, Necip Fikri (2025). The Devil's Advocate versus God's Honest Truth: A Dialectical Inquiry into the Rationality of Religion. Brill. ISBN 978-90-04-71485-4. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Smith, George H. (1979). Atheism: The Case Against God. Prometheus Books. ISBN 978-0-87975-124-1.
- ↑ Barker, Dan (2008). Godless: How an Evangelical Preacher Became One of America's Leading Atheists. Ulysses Press. ISBN 978-1-56975-677-5.
- ↑ Martin, Craig (2018). "Incapacitating Scholarship: Or, Why Methodological Agnosticism Is Impossible". Dalam Blum, Jason N. (ed.). The Question of Methodological Naturalism. Brill. hlm. 53–73. doi:10.1163/9789004372436_004.
- ↑ Porpora, Douglas V. (2006). "Methodological Atheism, Methodological Agnosticism and Religious Experience". Journal for the Theory of Social Behaviour. 36 (1): 57–75. doi:10.1111/j.1468-5914.2006.00296.x.
- ↑ Smith, George H. (1979). Atheism: The Case Against God. Prometheus Books. ISBN 978-0-87975-124-1.
- ↑ Hookway, Christopher (2005). "Scepticism". Oxford University Press. ;
- ↑ Hetherington, Stephen. "Fallibilism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Hume, David (1748). An Enquiry Concerning Human Understanding.
- ↑ Kant, Immanuel (1781). Critique of Pure Reason. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Corrigan, Kevin; Harrington, L. Michael (2023). "Pseudo-Dionysius the Areopagite". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Plantinga, Alvin (1998). "God, Arguments for the Existence of". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. doi:10.4324/9780415249126-K029-1.
- 1 2 Plantinga, Alvin (1998). "God, Arguments for the Existence of". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. doi:10.4324/9780415249126-K029-1.
- ↑ Dawkins, Richard (2006). The God Delusion. Bantam Press. ISBN 978-0-593-05548-9.
- ↑ Nyman, Bill (2024). "Pascal's Wager and Its Postmodern Counterpart". Koers. 89 (1). doi:10.19108/KOERS.89.1.2505.
- ↑ Ayer, A. J. (1936). Language, Truth and Logic. Victor Gollancz.
- ↑ Karim, Moise; Saroglou, Vassilis (2023). "Being Agnostic, Not Atheist: Personality, Cognitive, and Ideological Differences". Psychology of Religion and Spirituality. 15 (1): 118–127. doi:10.1037/rel0000461.
- ↑ Karim, Moise; Saroglou, Vassilis (2024). "'I Am Agnostic, Not Atheist': The Role of Open-minded, Prosocial, and Believing Dispositions". Self and Identity. 23 (3–4): 248–267. doi:10.1080/15298868.2024.2357845.
- ↑ Galen, Luke (2026). "What Do We Mean by Agnosticism?: Self-Identification, Belief Uncertainty, and the Unknowability of God". The International Journal for the Psychology of Religion. doi:10.1080/10508619.2026.2640278. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Zuckerman, Phil; Galen, Luke W.; Pasquale, Frank L. (2016). The Nonreligious: Understanding Secular People and Societies. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-939383-1.
- ↑ Thalén, Peder (2025). "Agnosticism Without Ontology? The Search for New Conceptual Tools to Describe the Semi-Secular Condition in Sweden". Philosophies. 10 (1): 26. doi:10.3390/philosophies10010026. Diakses tanggal 26 Juni 2026. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ↑ "Protagoras". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Tull, Herman W. (1989). The Vedic Origins of Karma. SUNY Press. ISBN 978-0-7914-0094-4.
- ↑ Chakravarty, Anish (2022). "Sañjaya's Ajñānavāda and Mahāvīra's Anekāntavāda: From Agnosticism to Pluralism". Dalam Pathak, Krishna Mani (ed.). Quietism, Agnosticism and Mysticism: Mapping the Philosophical Discourse of the East and the West. Springer Nature Singapore. hlm. 93–108. ISBN 978-981-16-3223-5.
- ↑ Bhikkhu, Thanissaro. "Samaññaphala Sutta: The Fruits of the Contemplative Life". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-02-09. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ Corrigan, Kevin; Harrington, L. Michael (2023). "Pseudo-Dionysius the Areopagite". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 Juni 2026.
- ↑ O'Grady, Paul (2020). "Aquinas and Agnosticism". Dalam Fallon, Francis; Hyman, Gavin (ed.). Agnosticism: Explorations in Philosophy and Religious Thought. Oxford University Press. hlm. 163–186. ISBN 978-0-19-885912-3.
- ↑ Dilek, Oğuz (2017). "Agnosticism". Dalam Çakmak, Cenap (ed.). Islam: A Worldwide Encyclopedia. Bloomsbury. hlm. 67–69. ISBN 978-1-61069-217-5.
- ↑ Lightman, Bernard (1987). The Origins of Agnosticism: Victorian Unbelief and the Limits of Knowledge. Johns Hopkins University Press. ISBN 978-0-8018-3375-5.
- ↑ Huff, Peter A. (2021). Atheism and Agnosticism: Exploring the Issues. Bloomsbury. ISBN 978-1-4408-7083-5.
- ↑ Lightman, Bernard (1987). The Origins of Agnosticism: Victorian Unbelief and the Limits of Knowledge. Johns Hopkins University Press. ISBN 978-0-8018-3375-5.
- ↑ Russell, Bertrand (1957). Why I Am Not a Christian. Simon & Schuster. ISBN 978-0-671-20323-8.
- ↑ Ayer, A. J. (1936). Language, Truth and Logic. Victor Gollancz.
- ↑ Galen, Luke (2026). "What Do We Mean by Agnosticism?: Self-Identification, Belief Uncertainty, and the Unknowability of God". The International Journal for the Psychology of Religion. doi:10.1080/10508619.2026.2640278.
- ↑ Karim, Moise; Saroglou, Vassilis (2024). "'I Am Agnostic, Not Atheist': The Role of Open-minded, Prosocial, and Believing Dispositions". Self and Identity. 23 (3–4): 248–267. doi:10.1080/15298868.2024.2357845.
Bacaan lanjutan
- Archer, Avery (2024). The Attitude of Agnosticism. Cambridge University Press. doi:10.1017/9781009214759. ISBN 978-1-009-21475-9.
- Fallon, Francis; Hyman, Gavin, ed. (2020). Agnosticism: Explorations in Philosophy and Religious Thought. Oxford University Press. doi:10.1093/oso/9780198859123.001.0001. ISBN 978-0-19-885912-3.
- Ferrari, Filippo; Incurvati, Luca (2022). "The Varieties of Agnosticism". The Philosophical Quarterly. 72 (2): 365–380. doi:10.1093/pq/pqab038.
- Flew, Antony Garrard Newton (2026). "Agnosticism". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica, Inc.
- Huff, Peter A. (2021). Atheism and Agnosticism: Exploring the Issues. Bloomsbury. ISBN 978-1-4408-7083-5.
- Le Poidevin, Robin (2010). Agnosticism: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-957526-8.
- Lightman, Bernard (1987). The Origins of Agnosticism: Victorian Unbelief and the Limits of Knowledge. Johns Hopkins University Press. ISBN 978-0-8018-3375-5.
- Oppy, Graham (2018). Atheism and Agnosticism. Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-63843-2.
- Russell, Bertrand (1957). Why I Am Not a Christian. Simon & Schuster. ISBN 978-0-671-20323-8.
- Thalén, Peder (2025). "Agnosticism Without Ontology? The Search for New Conceptual Tools to Describe the Semi-Secular Condition in Sweden". Philosophies. 10 (1): 26. doi:10.3390/philosophies10010026. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
Pranala luar
- (Inggris) Agnosticism di Encyclopædia Britannica
- (Inggris) Atheism and Agnosticism di Stanford Encyclopedia of Philosophy
- (Inggris) Protagoras di Internet Encyclopedia of Philosophy
- (Inggris) Agnosticism about God’s Existence di 1000-Word Philosophy
- (Inggris) Agnosticism oleh Thomas Henry Huxley di Wikisource
Abrahamisme · Akosmisme · Agnostisisme · Animisme · Antiagama · Ateisme · Dharmisme · Deisme · Dualisme · Esoterikisme · Teologi feminis · Gnostisisme · Henoteisme · Humanisme · Immanenke · Monisme · Monoteisme · Mistisisme · Naturalisme · Nondualisme · Pandeisme · Panteisme · Politeisme · Teologi Proses · Syamanisme · Taois · Teisme · Transenden · Zaman Baru | ||