ENSIKLOPEDIA
Socrates
| Sokrates | |
|---|---|
| Lahir | ca 470 SM Deme Alopeke, Athena |
| Meninggal | 399 SM (umur sekitar 71) Athena |
| Sebab meninggal | Bunuh diri paksa dengan racun |
| Suami/istri | Xanthippe, Myrto (diperdebatkan) |
| Anak | Lamprokles, Meneksenos, Sofroniskos |
| Keluarga | Sofroniskos (ayah), Fainarete (ibu), Patrokles (saudara tiri) |
| Era | Filsafat Yunani Kuno |
| Kawasan | Filsafat Barat |
| Aliran | Filsafat Yunani Klasik |
| Murid penting | |
Minat utama | |
Gagasan penting | |
Sokrates (/ˈsɒkrətiːz/;[2] Yunani Kuno: Σωκράτης, romanized: Sōkrátēscode: grc is deprecated ; ca 470 – 399 SM) adalah seorang filsuf Yunani kuno dari Athena Klasik, yang mungkin merupakan filsuf moral Barat pertama, dan inspirasi utama bagi muridnya, Plato, yang secara umum mendirikan tradisi filsafat Barat.[3] Sebagai tokoh yang penuh teka-teki, Sokrates tidak menulis satu pun teks dan dikenal terutama melalui catatan-catatan anumerta dari para penulis klasik, khususnya murid-muridnya yaitu Plato dan Xenophon. Catatan-catatan ini ditulis dalam bentuk dialog, di mana Sokrates dan lawan bicaranya menguji suatu subjek dengan gaya tanya jawab; karya-karya ini melahirkan genre sastra dialog Sokrates. Catatan mengenai Sokrates yang saling bertentangan membuat rekonstruksi filsafatnya nyaris mustahil untuk dilakukan, sebuah situasi yang dikenal sebagai masalah Sokrates. Sokrates adalah tokoh yang mempolarisasi dalam masyarakat Athena. Pada tahun 399 SM, ia dituduh melakukan kefasikan dan merusak pikiran kaum muda. Setelah melalui persidangan yang berlangsung selama satu hari, ia dijatuhi hukuman mati. Sebagaimana dituturkan oleh Plato, ia dihukum mati dengan cara diberi racun setelah menolak tawaran dari sekutu-sekutunya yang ingin membantunya melarikan diri.
Dialog Plato adalah salah satu catatan paling komprehensif mengenai Sokrates yang bertahan dari zaman kuno. Karya-karya tersebut menunjukkan pendekatan Sokrates terhadap berbagai bidang filsafat termasuk epistemologi dan etika. Sokrates dalam karya Platonis meminjamkan namanya pada konsep metode Sokrates, dan juga pada ironi Sokrates. Metode penyoalan Sokrates, atau elenkhos, terwujud dalam dialog menggunakan tanya jawab singkat, yang dicontohkan secara ideal oleh teks-teks Platonis tersebut di mana Sokrates dan lawan bicaranya menguji berbagai aspek dari suatu masalah atau makna abstrak, yang biasanya berkaitan dengan salah satu kebajikan, dan kemudian mereka mendapati diri mereka berada pada jalan buntu, tidak mampu mendefinisikan apa yang sebelumnya mereka pikir telah mereka pahami. Sokrates sering kali menyatakan ketidaktahuannya, dengan mengatakan bahwa ia hanya yakin bahwa ia tidak tahu.
Sokrates memberikan pengaruh yang kuat pada para filsuf di zaman kuno selanjutnya dan terus berlanjut hingga era modern. Ia dipelajari oleh para cendekiawan abad pertengahan dan Islam serta memainkan peran penting dalam pemikiran Renaisans Italia, khususnya dalam gerakan humanis. Ketertarikan terhadapnya terus berlanjut tanpa henti, sebagaimana tecermin dalam karya-karya Søren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche. Penggambaran Sokrates dalam seni, sastra, dan budaya populer telah menjadikannya sosok yang sangat dikenal dalam tradisi filsafat Barat.
Sumber dan masalah Sokrates
Sokrates tidak mendokumentasikan ajarannya. Semua yang diketahui tentangnya berasal dari catatan orang lain: terutama filsuf Plato dan sejarawan Xenophon, yang keduanya merupakan muridnya; penulis naskah komedi Athena Aristofanes (sezaman dengan Sokrates); dan murid Plato, Aristoteles, yang lahir setelah kematian Sokrates. Kisah-kisah yang sering kali bertentangan dari catatan kuno ini justru mempersulit kemampuan para cendekiawan untuk merekonstruksi pemikiran Sokrates yang sebenarnya secara andal, sebuah kondisi yang dikenal sebagai masalah Sokrates.[4] Karya-karya Plato, Xenophon, dan penulis lain yang menggunakan karakter Sokrates sebagai sarana investigasi, ditulis dalam bentuk dialog antara Sokrates dan lawan bicaranya serta menjadi sumber informasi utama mengenai kehidupan dan pemikiran Sokrates. Dialog Sokrates (logos sokratikos) adalah istilah yang dicetuskan oleh Aristoteles untuk menggambarkan genre sastra yang baru terbentuk ini.[5] Meskipun tanggal pasti penulisannya tidak diketahui, beberapa di antaranya kemungkinan ditulis setelah kematian Sokrates.[6] Sebagaimana pertama kali dicatat oleh Aristoteles, sejauh mana dialog-dialog tersebut menggambarkan Sokrates secara autentik masih menjadi perdebatan.[7]
Plato dan Xenophon
Sebagai orang yang jujur, Xenophon bukanlah seorang filsuf terlatih.[butuh rujukan] Ia tidak sepenuhnya mampu mengonseptualisasikan maupun mengartikulasikan argumen-argumen Sokrates.[butuh rujukan] Ia mengagumi Sokrates karena kecerdasannya, patriotismenya, dan keberaniannya di medan tempur.[butuh rujukan] Ia membahas Sokrates dalam empat karyanya: Memorabilia, Oeconomicus, Simposium, dan Apologi Sokrates. Ia juga menyebutkan sebuah kisah yang menampilkan Sokrates dalam Anabasis karyanya.[8] Oeconomicus menceritakan sebuah diskusi mengenai tata kelola rumah tangga secara praktis.[butuh rujukan] Seperti Apologi karya Plato, Apologia karya Xenophon mendeskripsikan persidangan Sokrates, tetapi karya-karya ini memiliki perbedaan substansial dan, menurut W. K. C. Guthrie, catatan Xenophon menggambarkan sosok Sokrates yang "memiliki rasa bangga dan kepuasan diri yang tidak tertahankan".[9] Simposium adalah dialog Sokrates dengan tokoh-tokoh terkemuka Athena lainnya selama diskusi setelah makan malam, tetapi cukup berbeda dengan Simposium karya Plato: tidak ada kesamaan dalam daftar tamu pada keduanya.[butuh rujukan] Dalam Memorabilia, ia membela Sokrates dari tuduhan merusak kaum muda dan menentang para dewa; pada dasarnya, karya ini merupakan kumpulan berbagai kisah yang disatukan untuk menyusun sebuah apologi baru bagi Sokrates.[10]
Representasi Plato mengenai Sokrates tidaklah bersifat gamblang.[11] Plato adalah murid Sokrates dan hidup lima dekade lebih lama darinya.[12] Seberapa tepercaya Plato dalam merepresentasikan atribut Sokrates masih menjadi bahan perdebatan; pandangan bahwa ia tidak mewakili pandangan lain selain pandangan Sokrates sendiri tidak banyak disetujui oleh para pakar kontemporer.[13] Salah satu pendorong keraguan ini adalah ketidakkonsistenan karakter Sokrates yang ia tampilkan.[14] Salah satu penjelasan umum—meskipun tidak diterima secara universal—mengenai ketidakkonsistenan ini adalah bahwa awalnya Plato berusaha mewakili Sokrates historis secara akurat, sementara dalam karya-karya berikutnya ia memasukkan pandangannya sendiri ke dalam mulut Sokrates. Berdasarkan pemahaman ini, terdapat perbedaan antara Sokrates yang Sokratis pada karya-karya awal Plato dan Sokrates yang Platonis pada karya-karya akhir Plato, meskipun batasan antara keduanya tampak kabur dan kronologi yang diasumsikan hanya bersandar pada sedikit bukti.[15]
Catatan Xenophon dan Plato berbeda dalam menyajikan sosok Sokrates sebagai manusia. Sokrates versi Xenophon lebih kaku, kurang humoris, dan kurang ironis dibandingkan versi Plato.[16][17] Sokrates versi Xenophon juga tidak memiliki fitur-fitur filosofis dari Sokrates versi Plato—ketidaktahuan, metode Sokrates atau elenkhos—serta lebih menekankan pada enkrateia (pengendalian diri) daripada Sokrates versi Plato.[18] Secara umum, logoi Sokratikoi tidak dapat membantu kita merekonstruksi Sokrates yang historis bahkan dalam kasus di mana narasi mereka saling tumpang tindih, karena para penulis tersebut mungkin saling memengaruhi catatan satu sama lain.[19]
Aristofanes dan sumber lainnya
Para penulis komedi Athena, termasuk Aristofanes, juga mengomentari Sokrates. Komedi Aristofanes yang paling penting sehubungan dengan Sokrates adalah The Clouds, di mana Sokrates menjadi karakter utamanya.[20] Dalam lakon ini, Aristofanes menampilkan sebuah karikatur Sokrates yang condong pada sofisme,[21] dan mengejek Sokrates sebagai seorang ateis yang absurd.[22] Sokrates di dalam The Clouds tertarik pada filsafat alam, yang sejalan dengan penggambaran Plato mengenainya dalam Phaedo. Hal yang pasti adalah, pada usia 45 tahun, Sokrates telah berhasil menarik minat penduduk Athena sebagai seorang filsuf.[23] Tidaklah jelas apakah karya Aristofanes berguna dalam merekonstruksi tokoh Sokrates historis.[24]
Penulis kuno lain yang menulis tentang Sokrates adalah Aeschines dari Sphettos, Antisthenes, Aristippos, Bryson, Kebes, Krito, Euklides dari Megara, Phaedo, dan Aristoteles, yang semuanya menulis setelah kematian Sokrates.[25] Aristoteles bukan tokoh yang sezaman dengan Sokrates; ia belajar pada Plato di Akademi selama dua puluh tahun.[26] Aristoteles memandang Sokrates tanpa bias dari Xenophon dan Plato, yang memiliki ikatan emosional dengan Sokrates, dan ia meneliti doktrin-doktrin Sokrates sebagai seorang filsuf.[27] Aristoteles familier dengan berbagai kisah tentang Sokrates, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.[28] Peranannya dalam memahami Sokrates sangat terbatas. Ia tidak menulis panjang lebar tentang Sokrates; dan, bilapun menulis tentangnya, ia sebagian besar terpaku pada dialog-dialog awal Plato.[29] Terdapat pula keraguan-keraguan umum mengenai keandalannya dalam sejarah filsafat.[30] Meski demikian, kesaksiannya sangatlah penting dalam memahami Sokrates.[31]
Masalah Sokrates
Dalam sebuah karya penting yang berjudul "Nilai Sokrates sebagai Seorang Filsuf" (1818), filsuf Friedrich Schleiermacher menyerang catatan-catatan Xenophon; serangannya ini diterima secara luas.[32] Schleiermacher mengkritik Xenophon karena representasinya yang naif mengenai Sokrates. Menurut argumen Schleiermacher, Xenophon adalah seorang prajurit, dan oleh karenanya tidak memiliki posisi yang tepat untuk mengartikulasikan ide-ide Sokrates. Selain itu, Xenophon bias dalam penggambarannya mengenai sang mantan teman dan gurunya itu: ia meyakini Sokrates diperlakukan tidak adil oleh Athena, dan berusaha untuk membuktikan sudut pandangnya tersebut alih-alih memberikan sebuah catatan yang netral. Hasilnya, kata Schleiermacher, Xenophon menggambarkan Sokrates sebagai filsuf yang tidak inspiratif.[33] Menjelang awal abad kedua puluh, catatan Xenophon sebagian besar telah ditolak.[34]
Filsuf Karl Joel, yang mendasarkan argumen-argumennya pada penafsiran Aristoteles mengenai logos sokratikos, mengemukakan bahwa dialog-dialog Sokrates sebagian besar fiktif: menurut Joel, para penulis dialog sekadar meniru beberapa ciri dialog Sokrates.[35] Pada pertengahan abad kedua puluh, para filsuf seperti Olof Gigon dan Eugène Dupréel, berdasarkan argumen-argumen Joel, mengusulkan agar studi mengenai Sokrates berfokus pada berbagai versi dari karakter serta pandangannya daripada bertujuan untuk merekonstruksi Sokrates historis.[36] Kemudian, pakar filsafat kuno Gregory Vlastos menyarankan bahwa dialog awal Sokrates karya Plato lebih selaras dengan bukti-bukti lain mengenai Sokrates historis dibandingkan dengan karya-karya terakhirnya, sebuah argumen yang didasarkan pada ketidakkonsistenan yang berkembang dalam penggambaran Sokrates oleh Plato itu sendiri. Vlastos sama sekali mengabaikan catatan Xenophon kecuali jika catatan tersebut bersesuaian dengan Plato.[36] Baru-baru ini, Charles H. Kahn telah memperkuat sikap skeptis terhadap masalah Sokrates yang tidak terpecahkan, dengan menyatakan bahwa hanya Apologi karya Plato yang memiliki signifikansi historis.[37]
Biografi

Sokrates lahir pada tahun 470 atau 469 SM dari pasangan Sofroniskos dan Fainarete, yang masing-masing merupakan seorang pemahat batu dan bidan, di deme Athena, Alopeke; oleh karena itu, ia adalah seorang warga negara Athena, yang lahir dari keluarga Athena yang relatif makmur.[39] Ia tinggal di dekat kerabat ayahnya dan mewarisi, sebagaimana tradisi pada masa itu, sebagian dari harta milik ayahnya, yang menjamin kehidupannya relatif bebas dari masalah keuangan.[40] Pendidikannya mengikuti hukum dan adat istiadat Athena. Ia mempelajari keterampilan dasar membaca dan menulis dan, seperti kebanyakan orang Athena yang kaya, menerima pelajaran tambahan di berbagai bidang lain seperti senam, puisi, dan musik.[41] Ia menikah dua kali (tidak jelas mana yang lebih dulu): pernikahannya dengan Xanthippe terjadi ketika Sokrates berusia lima puluhan, dan pernikahan lainnya adalah dengan seorang putri Aristides, seorang negarawan Athena.[42] Ia memiliki tiga putra dari Xanthippe.[43] Sokrates menunaikan wajib militernya selama Perang Peloponnesos dan tampil menonjol dalam tiga kampanye militer, menurut Plato.[44]
Insiden lain yang mencerminkan rasa hormat Sokrates terhadap hukum adalah penangkapan Leon dari Salamis. Sebagaimana digambarkan Plato dalam Apologi karyanya, Sokrates dan empat orang lainnya dipanggil ke Tholos dan diperintahkan oleh perwakilan dari Tiga Puluh Tiran (yang mulai memerintah pada 404 SM) untuk menangkap Leon guna dieksekusi. Sekali lagi Sokrates menjadi satu-satunya yang menolak, ia lebih memilih menanggung risiko kemarahan dan pembalasan para tiran daripada berpartisipasi dalam apa yang ia anggap sebagai kejahatan.[45]
Sokrates menarik minat besar dari publik Athena dan khususnya kaum muda Athena.[46] Ia terkenal berwajah jelek, memiliki hidung pesek yang mendongak, mata melotot, dan perut buncit; teman-temannya sering bercanda mengenai penampilannya.[47] Sokrates tidak peduli dengan kesenangan material, termasuk penampilannya sendiri dan kenyamanan pribadinya. Ia mengabaikan kebersihan diri, jarang mandi, berjalan tanpa alas kaki, dan hanya memiliki satu mantel usang.[48] Ia membatasi makan, minum, dan aktivitas seksualnya, meskipun ia tidak sepenuhnya berpantang.[48] Meskipun Sokrates tertarik pada kaum muda, ia menahan hasratnya terhadap mereka karena, sebagaimana digambarkan Plato, ia lebih tertarik untuk mendidik jiwa mereka dan tidak mencari kepuasan seksual dari murid-muridnya.[49][50] Secara politis, ia tidak memihak dalam persaingan antara kelompok demokrat dan oligarki di Athena; ia mengkritik keduanya.[51] Karakter Sokrates sebagaimana ditampilkan dalam Apologi, Krito, Phaedo, dan Simposium sejalan dengan sumber-sumber lain sedemikian rupa sehingga memberikan keyakinan bahwa penggambaran Sokrates oleh Plato dalam karya-karya ini merupakan representasi dari Sokrates yang sebenarnya.[52]
Sokrates meninggal di Athena pada tahun 399 SM setelah menjalani persidangan atas tuduhan kefasikan (asebeia) dan merusak pikiran kaum muda.[53] Ia menghabiskan hari terakhirnya di penjara bersama teman-teman dan para pengikutnya yang menawarkannya jalan untuk melarikan diri, namun ia tolak. Ia meninggal keesokan paginya, sesuai dengan hukumannya, setelah meminum racun hemlock.[54] Menurut Phaedo, kata-kata terakhirnya adalah: “Krito, kita berutang seekor ayam jago pada Asklepios. Jangan lupa untuk membayar utang tersebut.”[55]
Pengadilan Sokrates
Pada tahun 399 SM, Sokrates secara resmi dituduh merusak pikiran kaum muda Athena, dan atas asebeia (kefasikan), yaitu menyembah dewa-dewa palsu dan gagal menyembah dewa-dewa Athena.[56] Pada persidangan tersebut, Sokrates membela dirinya sendiri namun tidak berhasil. Ia dinyatakan bersalah melalui pemungutan suara mayoritas oleh juri yang terdiri dari ratusan warga negara pria Athena dan, sesuai kebiasaan, ia mengusulkan hukumannya sendiri: bahwa ia harus diberi makanan dan tempat tinggal gratis oleh negara atas jasa-jasanya kepada kota tersebut,[57] atau sebagai alternatif, ia didenda satu mina perak (menurutnya, hanya itu yang ia miliki).[57] Para juri menolak tawarannya dan menjatuhkan hukuman mati.[57]
Dari semua karya yang ditulis mengenai pengadilan Sokrates, hanya tiga yang bertahan: Apologi karya Plato, Apologi karya Xenophon, dan Memorabilia karya Xenophon.[58]
Sokrates didakwa dalam iklim politik yang tegang.[59] Pada 404 SM, pasukan Athena telah dihancurkan oleh bangsa Sparta pada pertempuran laut yang menentukan di Pertempuran Aigospotamoi, dan selanjutnya, bangsa Sparta mengepung Athena. Mereka mengganti pemerintahan demokratis dengan pemerintahan baru yang pro-oligarki, yang diberi nama Tiga Puluh Tiran.[59] Akibat tindakan tirani mereka, beberapa penduduk Athena mengorganisasi diri untuk menggulingkan para Tiran—dan, pada kenyataannya, mereka berhasil melakukannya secara singkat—hingga permintaan bantuan Sparta dari Tiga Puluh Tiran tersebut tiba dan kompromi pun dicari. Namun, ketika pasukan Sparta pergi lagi, kelompok demokrat mengambil kesempatan untuk membunuh kaum oligarki dan merebut kembali pemerintahan Athena.[59]
Tuduhan terhadap Sokrates diprakarsai oleh seorang penyair, Meletos, yang meminta hukuman mati sesuai dengan dakwaan asebeia.[59] Penuduh lainnya adalah Anytos dan Lykon. Setelah satu atau dua bulan, pada akhir musim semi atau awal musim panas, persidangan dimulai dan kemungkinan besar berlangsung hampir sepanjang hari.[59] Ada dua sumber utama atas tuduhan berbasis agama tersebut. Pertama, Sokrates telah menolak antropomorfisme agama tradisional Yunani dengan menyangkal bahwa para dewa melakukan hal-hal buruk seperti yang dilakukan manusia. Kedua, ia tampak memercayai sebuah daimonion—sebuah suara batin yang, seperti disugestikan para penuduhnya, berasal dari ilahi.[59]
Apologi karya Plato dimulai dengan Sokrates menjawab berbagai rumor terhadapnya yang telah memunculkan dakwaan tersebut.[60] Pertama, Sokrates membela diri dari rumor bahwa ia adalah seorang ateis maupun filsuf naturalis, seperti yang digambarkan dalam The Clouds karya Aristofanes; atau seorang sofis.[61] Terhadap tuduhan merusak kaum muda, Sokrates menjawab bahwa ia tidak pernah merusak siapa pun secara sengaja, karena merusak seseorang akan membawa risiko ia juga dirusak sebagai balasannya, dan hal itu tidaklah logis, karena kerusakan adalah hal yang tidak diinginkan.[62] Atas tuduhan kedua, Sokrates meminta klarifikasi. Meletos merespons dengan mengulangi tuduhan bahwa Sokrates adalah seorang ateis. Sokrates mencatat adanya kontradiksi antara ateisme dan menyembah dewa-dewa palsu.[63] Ia kemudian mengklaim bahwa ia adalah "hadiah dari Tuhan" bagi penduduk Athena, karena aktivitas-aktivitasnya pada akhirnya menguntungkan Athena; dengan demikian, dalam menghukum mati dirinya, Athena sendiri yang akan menjadi pihak yang paling merugi.[64] Setelah itu, ia mengatakan bahwa meskipun tidak ada manusia yang dapat mencapai kebijaksanaan, mencarinya adalah hal terbaik yang dapat dilakukan seseorang, yang menyiratkan bahwa uang dan martabat tidaklah seberharga seperti yang dipikirkan secara umum.[65]

Sokrates diberi kesempatan untuk menawarkan hukuman alternatif bagi dirinya sendiri setelah dinyatakan bersalah. Ia bisa saja meminta izin untuk melarikan diri dari Athena dan hidup dalam pengasingan, tetapi ia tidak melakukannya. Menurut Xenophon, Sokrates tidak mengajukan usulan apa pun, sementara menurut Plato ia menyarankan agar makanan gratis disediakan baginya setiap hari sebagai pengakuan atas nilainya bagi Athena atau, dengan lebih sungguh-sungguh, agar denda dikenakan padanya.[67] Para juri lebih memilih hukuman mati dengan membuatnya meminum secangkir hemlock (cairan beracun).[68] Sebagai balasannya, Sokrates memperingatkan para juri dan penduduk Athena bahwa kritik terhadap mereka oleh banyak muridnya tidak akan terhindarkan, kecuali jika mereka menjadi orang baik.[57] Setelah penundaan yang disebabkan oleh upacara keagamaan Athena, Sokrates menghabiskan hari terakhirnya di penjara. Teman-temannya mengunjunginya dan menawarkannya kesempatan untuk melarikan diri, yang ia tolak.[69]
Pertanyaan mengenai apa yang memotivasi orang Athena untuk menghukum Sokrates tetap menjadi perdebatan di antara para cendekiawan.[70] Terdapat dua teori. Pertama adalah bahwa Sokrates dihukum atas dasar agama; kedua, bahwa ia dituduh dan dihukum karena alasan politik.[70] Interpretasi lain yang lebih baru menyintesis teori agama dan politik, dengan argumen bahwa agama dan negara tidaklah terpisah pada zaman Athena kuno.[71]
Argumen mengenai penganiayaan agama didukung oleh fakta bahwa catatan Plato dan Xenophon tentang persidangan tersebut sebagian besar berfokus pada tuduhan kefasikan. Dalam catatan-catatan tersebut, Sokrates digambarkan tidak berusaha untuk membantah fakta bahwa ia tidak memercayai dewa-dewa Athena. Berlawanan dengan argumen ini, terdapat fakta bahwa banyak kaum skeptis dan filsuf ateis pada masa tersebut yang tidak dituntut.[72] Menurut argumen mengenai penganiayaan politik, Sokrates dijadikan sasaran karena ia dianggap sebagai ancaman bagi demokrasi. Memang benar bahwa Sokrates tidak membela demokrasi selama masa pemerintahan Tiga Puluh Tiran dan bahwa sebagian besar muridnya menentang kelompok demokrat.[73] Pendapat bahwa peristiwa tersebut merupakan penganiayaan politik biasanya ditantang oleh adanya amnesti yang diberikan kepada warga Athena pada tahun 403 SM untuk mencegah eskalasi menuju perang saudara pascajatuhnya Tiga Puluh Tiran. Namun, sebagaimana diungkapkan oleh teks dari persidangan Sokrates dan teks-teks lainnya, para penuduh dapat memanaskan retorika mereka menggunakan peristiwa-peristiwa sebelum tahun 403 SM.[74]
Filsafat
Metode Sokrates

Karakteristik mendasar dari Sokrates versi Plato adalah metode Sokrates, atau metode sanggahan (elenkhos).[76] Hal ini paling menonjol dalam karya-karya awal Plato, seperti Apologi, Krito, Gorgias, Republik I, dan lain-lain.[77] Elenkhos yang khas berlangsung sebagai berikut. Sokrates memulai diskusi tentang suatu topik dengan seseorang yang dianggap ahli dalam subjek tersebut, biasanya ditemani oleh beberapa pria muda dan anak laki-laki, dan melalui dialog ia membuktikan bahwa keyakinan dan argumen sang ahli saling bertentangan.[78] Sokrates memulai dialog dengan meminta lawan bicaranya untuk mendefinisikan subjek tersebut. Saat ia mengajukan lebih banyak pertanyaan, jawaban lawan bicaranya akhirnya bertentangan dengan definisi pertama. Kesimpulannya adalah bahwa sang ahli pada awalnya sebenarnya tidak mengetahui definisi tersebut.[79] Lawan bicaranya mungkin akan muncul dengan definisi yang berbeda. Definisi baru itu, pada gilirannya, berada di bawah pengawasan ketat penyoalan Sokrates. Dengan setiap putaran tanya jawab, Sokrates dan lawan bicaranya berharap untuk mendekati kebenaran. Lebih sering lagi, mereka terus mengungkap ketidaktahuan mereka sendiri.[80] Karena definisi lawan bicara paling umum mewakili opini arus utama tentang suatu masalah, diskusi tersebut menempatkan keraguan pada opini umum tersebut.[81]
Sokrates juga menguji pendapatnya sendiri melalui metode Sokrates. Oleh karena itu, Sokrates tidak mengajarkan doktrin filosofis yang tetap. Alih-alih, ia mengakui ketidaktahuannya sendiri sembari mencari kebenaran bersama murid-murid dan lawan bicaranya.[81]
Para cendekiawan telah mempertanyakan keabsahan dan sifat pasti dari metode Sokrates, atau bahkan apakah metode Sokrates itu memang ada.[82] Pada tahun 1982, pakar filsafat kuno Gregory Vlastos mengklaim bahwa metode Sokrates tidak dapat digunakan untuk menetapkan kebenaran atau kepalsuan dari suatu proposisi. Sebaliknya, Vlastos berpendapat, metode tersebut adalah sebuah cara untuk menunjukkan bahwa keyakinan lawan bicara tidaklah konsisten.[83] Terdapat dua alur pemikiran utama mengenai pandangan ini, bergantung pada apakah diterima bahwa Sokrates sedang berusaha membuktikan bahwa suatu klaim itu salah.[84] Menurut alur pemikiran pertama, yang dikenal sebagai pendekatan konstruktivis, Sokrates memang berusaha membantah sebuah klaim melalui metode ini, dan metode ini membantu dalam mencapai pernyataan afirmatif.[85] Pendekatan non-konstruktivis berpendapat bahwa Sokrates hanya ingin menetapkan ketidakkonsistenan antara premis dan kesimpulan dari argumen awal.[86]
Prioritas definisi Sokrates
Sokrates memulai diskusinya dengan memprioritaskan pencarian definisi.[87] Dalam sebagian besar kasus, Sokrates memulai diskursusnya dengan seorang ahli mengenai suatu subjek dengan mencari definisi—misalnya, dengan menanyakan apa itu kebajikan, kebaikan, keadilan, atau keberanian.[88] Untuk menetapkan sebuah definisi, Sokrates pertama-tama mengumpulkan contoh-contoh nyata dari sebuah kebajikan dan kemudian berusaha menetapkan apa kesamaan yang dimilikinya.[89] Menurut Guthrie, Sokrates hidup di zaman ketika kaum sofis menantang makna dari berbagai kebajikan, mempertanyakan substansinya; pencarian Sokrates akan sebuah definisi adalah sebuah upaya untuk menjernihkan suasana dari skeptisisme radikal mereka.[90]
Sebagian cendekiawan berpendapat bahwa Sokrates tidak mendukung prioritas definisi sebagai sebuah prinsip, karena mereka telah mengidentifikasi kasus-kasus di mana ia tidak melakukan hal itu.[91] Sebagian pihak berpendapat bahwa prioritas definisi ini berasal dari Plato alih-alih Sokrates.[92] Filsuf Peter Geach, sembari menerima bahwa Sokrates mendukung prioritas definisi, menganggap teknik tersebut keliru. Menurut Geach, seseorang mungkin saja mengetahui sebuah proposisi bahkan jika ia tidak dapat mendefinisikan istilah-istilah di mana proposisi tersebut dinyatakan.[93]
Ketidaktahuan Sokrates

Sokrates versi Plato sering kali mengklaim bahwa ia menyadari kurangnya pengetahuannya sendiri, terutama ketika membahas konsep-konsep etika seperti arete (yaitu, kebaikan, keberanian) karena ia tidak mengetahui sifat dasar dari konsep-konsep tersebut.[95] Sebagai contoh, selama persidangannya, dengan nyawa yang menjadi taruhannya, Sokrates berkata: "Saya menganggap Evenus sebagai orang yang bahagia, jika ia memang memiliki seni ini (tekhnē), dan mengajar dengan biaya yang begitu murah. Tentu saja saya akan berbangga dan menyombongkan diri jika saya mengetahui (epistamai) hal-hal ini, tetapi saya tidak mengetahuinya (epistamai), Tuan-tuan".[96] Dalam beberapa dialog Plato, Sokrates tampaknya mengakui dirinya memiliki sejumlah pengetahuan, dan bahkan bisa terlihat sangat berpendirian kuat untuk ukuran seseorang yang mengaku tidak tahu apa-apa.[97]
Terdapat berbagai penjelasan mengenai ketidakkonsistenan Sokrates (selain dari fakta bahwa Sokrates sekadar tidak konsisten).[98] Salah satu penjelasan adalah bahwa Sokrates bersikap ironis atau rendah hati untuk tujuan pedagogis: ia bertujuan membiarkan lawan bicaranya berpikir untuk dirinya sendiri alih-alih membimbingnya ke arah jawaban yang telah ditetapkan sebelumnya untuk pertanyaan-pertanyaan filosofisnya.[99] Penjelasan lain adalah bahwa Sokrates memiliki interpretasi yang berbeda tentang makna "pengetahuan". Pengetahuan, baginya, mungkin berarti pemahaman sistematis tentang suatu subjek etika, di mana Sokrates dengan tegas menolak segala jenis penguasaan di bidang itu; atau mungkin merujuk pada kognisi tingkat rendah, yang mungkin Sokrates terima bahwa ia memilikinya.[100] Bagaimanapun juga, ada konsensus bahwa Sokrates menerima pandangan bahwa mengakui kurangnya pengetahuan diri sendiri adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan.[101]
Sokrates dikenal menyangkal pengetahuannya, sebuah klaim yang dirangkum dalam ungkapan "Saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa". Hal ini sering dikaitkan dengan Sokrates berdasarkan sebuah pernyataan dalam Apologi karya Plato, meskipun pandangan yang sama berulang kali ditemukan di tempat lain dalam tulisan-tulisan awal Plato mengenai Sokrates.[102] Namun dalam pernyataan-pernyataan lain, ia menyiratkan atau bahkan mengklaim bahwa ia memang memiliki pengetahuan. Sebagai contoh, dalam Apologi karya Plato, Sokrates berkata: "...tetapi untuk berbuat tidak adil dan tidak mematuhi atasan saya, baik dewa maupun manusia, hal ini saya tahu sebagai perbuatan yang jahat dan hina..." (Apologi, 29b6–7).[103] Dalam perdebatannya dengan Kallikles, ia berkata: "...saya tahu benar bahwa jika Anda setuju dengan saya tentang hal-hal yang diyakini jiwa saya, hal-hal itu akan menjadi kebenaran yang sesungguhnya..."[103]
Apakah Sokrates benar-benar berpikir bahwa ia kurang pengetahuan atau sekadar berpura-pura meyakini ketidaktahuannya sendiri masih menjadi bahan perdebatan. Interpretasi yang umum adalah bahwa ia memang berpura-pura rendah hati. Menurut Norman Gulley, Sokrates melakukan hal ini untuk memikat lawan bicaranya agar bersedia berbicara dengannya. Di sisi lain, Terence Irwin mengklaim bahwa kata-kata Sokrates harus ditanggapi secara harfiah.[104]
Gregory Vlastos berpendapat bahwa terdapat cukup bukti untuk membantah kedua klaim tersebut. Dalam pandangannya, bagi Sokrates, ada dua arti "pengetahuan" yang terpisah: Pengetahuan-C dan Pengetahuan-E (C singkatan dari "certain" atau pasti, dan E singkatan dari elenkhos, yaitu metode Sokrates). Pengetahuan-C adalah sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi sedangkan Pengetahuan-E adalah pengetahuan yang diperoleh dari elenkhos Sokrates.[105] Dengan demikian, Sokrates berbicara kebenaran ketika ia mengatakan bahwa ia mengetahui-C suatu hal, dan ia juga jujur ketika mengatakan bahwa ia mengetahui-E, misalnya, bahwa merupakan suatu kejahatan jika seseorang tidak mematuhi atasannya, seperti yang ia klaim dalam Apologi.[106] Tidak semua cendekiawan setuju dengan dualisme semantik ini. James H. Lesher berpendapat bahwa Sokrates mengklaim dalam berbagai dialog bahwa satu kata dikaitkan dengan satu makna (yakni dalam Hippias Mayor, Meno, dan Laches).[107] Lesher menyarankan bahwa meskipun Sokrates mengklaim bahwa ia tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat kebajikan, ia berpikir bahwa dalam beberapa kasus, orang dapat mengetahui beberapa proposisi etis.[108]
Ironi Sokrates
Terdapat asumsi luas bahwa Sokrates adalah seorang ironis, yang sebagian besar didasarkan pada penggambaran Sokrates oleh Plato dan Aristoteles.[109] Ironi Sokrates sangat halus dan sedikit humoris sehingga sering kali membuat pembaca bertanya-tanya apakah Sokrates sedang membuat permainan kata yang disengaja.[110] Euthyphro karya Plato penuh dengan ironi Sokrates. Kisah ini dimulai ketika Sokrates bertemu dengan Euthyphro, seorang pria yang telah menuduh ayahnya sendiri melakukan pembunuhan. Ketika Sokrates pertama kali mendengar rincian ceritanya, ia berkomentar, "Saya kira bukan sembarang orang yang bisa melakukan ini [menuntut ayahnya sendiri] dengan benar, melainkan pastilah orang yang sudah jauh melangkah dalam kebijaksanaan". Ketika Euthyphro menyombongkan pemahamannya tentang keilahian, Sokrates menanggapi bahwa "sangat penting bagi saya untuk menjadi murid Anda".[111] Sokrates umumnya dianggap ironis ketika menggunakan pujian untuk merayu atau ketika berbicara kepada lawan bicaranya.[112]
Para cendekiawan terbagi dalam pandangan mengenai alasan Sokrates menggunakan ironi. Menurut pendapat yang dikemukakan sejak zaman Helenistik, ironi Sokrates adalah cara yang jenaka untuk menarik perhatian audiens.[113] Alur pemikiran lain berpendapat bahwa Sokrates menyembunyikan pesan filosofisnya dengan ironi, sehingga hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu memisahkan bagian dari pernyataannya yang bersifat ironis dari bagian yang tidak.[114] Gregory Vlastos telah mengidentifikasi pola ironi yang lebih kompleks pada diri Sokrates. Dalam pandangan Vlastos, kata-kata Sokrates memiliki makna ganda, baik yang ironis maupun tidak. Salah satu contohnya adalah ketika ia menyangkal memiliki pengetahuan. Vlastos menyarankan bahwa Sokrates bersikap ironis ketika ia mengatakan dirinya tidak memiliki pengetahuan (di mana "pengetahuan" berarti bentuk kognisi yang lebih rendah); sementara, menurut pengertian "pengetahuan" yang lain, Sokrates bersungguh-sungguh ketika mengatakan ia tidak memiliki pengetahuan tentang masalah etika. Pendapat ini tidak dibagikan oleh banyak cendekiawan lainnya.[115]
Eudaimonisme dan intelektualisme Sokrates
Bagi Sokrates, pengejaran eudaimonia memotivasi semua tindakan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.[116] Kebajikan dan pengetahuan, dalam pandangan Sokrates, dikaitkan dengan eudaimonia, namun seberapa erat hubungan keduanya masih diperdebatkan. Beberapa pihak berpendapat bahwa Sokrates berpikir kebajikan dan eudaimonia adalah identik. Menurut pandangan lain, kebajikan berfungsi sebagai sarana menuju eudaimonia (masing-masing disebut tesis "identitas" dan "kecukupan").[117] Poin perdebatan lainnya adalah apakah, menurut Sokrates, manusia menginginkan apa yang sebenarnya baik—atau, sebaliknya, hanya apa yang mereka persepsikan sebagai baik.[117]
Intelektualisme moral merujuk pada peran menonjol yang diberikan Sokrates pada pengetahuan. Ia percaya bahwa semua kebajikan didasarkan pada pengetahuan (karena itulah Sokrates dicirikan sebagai seorang intelektualis *kebajikan*). Ia juga percaya bahwa manusia dipandu oleh kekuatan kognitif untuk memahami apa yang mereka inginkan, sambil meminimalkan peran dorongan impulsif (pandangan yang disebut intelektualisme *motivasional*).[118] Dalam Protagoras (345c4–e6) karya Plato, Sokrates menyiratkan bahwa "tidak ada seorang pun yang berbuat salah dengan sukarela", yang telah menjadi ciri khas intelektualisme kebajikan Sokrates.[119] Dalam filsafat moral Sokrates, prioritas diberikan pada intelek sebagai cara untuk menjalani hidup yang baik; Sokrates kurang menekankan pada keyakinan atau hasrat yang tidak rasional.[120] Dialog-dialog Plato yang mendukung *motivisme intelektual* Sokrates—sebagaimana tesis ini dinamai—terutama adalah Gorgias (467c–8e, di mana Sokrates membahas tindakan seorang tiran yang tidak menguntungkan dirinya) dan Meno (77d–8b, di mana Sokrates menjelaskan kepada Meno pandangannya bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan hal-hal buruk, kecuali mereka tidak tahu apa yang baik dan buruk sejak awal).[121] Para cendekiawan merasa bingung dengan pandangan Sokrates bahwa akrasia (bertindak karena hasrat yang tidak rasional, bertentangan dengan pengetahuan atau keyakinan seseorang) adalah mustahil. Sebagian besar percaya bahwa Sokrates tidak menyisakan ruang bagi hasrat yang tidak rasional, meskipun beberapa pihak mengklaim bahwa Sokrates mengakui keberadaan motivasi yang tidak rasional, tetapi menyangkal bahwa motivasi tersebut memainkan peran utama dalam pengambilan keputusan.[122]
Agama

Ketidaksesuaian agama Sokrates menantang pandangan pada zamannya dan kritikannya membentuk kembali diskursus keagamaan selama berabad-abad mendatang.[125] Di Yunani Kuno, agama terorganisasi terfragmentasi, dirayakan dalam sejumlah festival untuk dewa-dewa tertentu, seperti Dionysia Kota, atau dalam ritual domestik, dan tidak ada teks suci. Agama bercampur dengan kehidupan sehari-hari warga, yang menjalankan kewajiban agama pribadi mereka terutama dengan pengorbanan kepada berbagai dewa.[126] Apakah Sokrates adalah seorang pria yang taat beragama atau 'ateis provokator' telah menjadi poin perdebatan sejak zaman kuno; persidangannya mencakup tuduhan kefasikan, dan kontroversi tersebut belum berhenti hingga saat ini.[127]
Sokrates membahas ketuhanan dan jiwa terutama dalam Alkibiades, Euthyphro, dan Apologi.[128] Dalam Alkibiades, Sokrates menghubungkan jiwa manusia dengan keilahian, menyimpulkan "Maka bagian dari dirinya ini menyerupai Tuhan, dan siapa pun yang melihat ini, dan datang untuk mengetahui semua yang bersifat ilahi, akan memperoleh pengetahuan terbaik tentang dirinya sendiri melalui hal tersebut."[129] Diskusi-diskusinya mengenai agama selalu berada di bawah lensa rasionalismenya.[130] Sokrates, dalam Euthyphro, mencapai kesimpulan yang membawanya jauh dari praktik lazim pada zamannya: ia menganggap pengorbanan kepada para dewa tidak berguna, terutama jika didorong oleh harapan untuk menerima imbalan sebagai balasan. Sebaliknya, ia menyerukan agar filsafat dan pengejaran pengetahuan menjadi cara utama untuk menyembah para dewa.[131] Penolakannya terhadap bentuk-bentuk kesalehan tradisional, yang menghubungkannya dengan kepentingan pribadi, menyiratkan bahwa penduduk Athena harus mencari pengalaman religius melalui pemeriksaan diri.[132]
Sokrates berpendapat bahwa para dewa pada dasarnya bijaksana dan adil, sebuah persepsi yang jauh dari agama tradisional pada masa itu.[133] Dalam Euthyphro, muncullah Dilema Euthyphro. Sokrates bertanya kepada lawan bicaranya tentang hubungan antara kesalehan dan kehendak dewa yang kuat: Apakah sesuatu itu baik karena merupakan kehendak dewa ini, atau apakah itu merupakan kehendak dewa ini karena sesuatu itu baik?[134] Dengan kata lain, apakah kesalehan mengikuti kebaikan, atau mengikuti sang dewa? Lintasan pemikiran Sokrates kontras dengan teologi Yunani tradisional, yang menerima begitu saja lex talionis (prinsip mata ganti mata). Sokrates berpikir bahwa kebaikan tidak bergantung pada dewa, dan para dewa sendiri haruslah saleh.[135]
Sokrates menegaskan kepercayaan pada dewa-dewa dalam Apologi karya Plato, di mana ia mengatakan kepada para juri bahwa ia mengakui dewa-dewa lebih daripada para penuduhnya.[136] Bagi Sokrates versi Plato, keberadaan dewa-dewa dianggap sebagai sesuatu yang lumrah; dalam dialog-dialognya, ia tidak pernah menyelidiki apakah dewa itu ada atau tidak.[137] Dalam Apologi, sebuah argumen bahwa Sokrates adalah seorang agnostik dapat dibuat, berdasarkan diskusinya tentang ketidaktahuan besar setelah kematian,[138] dan dalam Phaedo (dialog dengan murid-muridnya di hari terakhirnya) Sokrates mengungkapkan keyakinan yang jelas pada keabadian jiwa.[139] Ia juga memercayai ramalan, nujum, dan pesan-pesan lain dari para dewa. Tanda-tanda ini tidak menawarkan keyakinan positif apa pun kepadanya mengenai masalah moral; sebaliknya, tanda-tanda tersebut merupakan prediksi peristiwa buruk di masa depan.[140]
Dalam Memorabilia karya Xenophon, Sokrates menyusun argumen yang mirip dengan argumen kontemporer perancangan cerdas teleologis. Ia mengklaim bahwa karena ada banyak fitur di alam semesta yang menunjukkan "tanda-tanda pemikiran sebelumnya" (misalnya, kelopak mata), maka pencipta ilahi pastilah telah menciptakan alam semesta.[137] Ia kemudian menyimpulkan bahwa sang pencipta pastilah omniscien dan omnipotens dan juga bahwa ia menciptakan alam semesta demi kemajuan umat manusia, karena manusia secara alami memiliki banyak kemampuan yang tidak dimiliki hewan lain.[141] Terkadang, Sokrates berbicara tentang satu dewa tunggal, sementara di lain waktu ia merujuk pada "dewa-dewa" jamak. Hal ini ditafsirkan berarti bahwa ia entah percaya bahwa dewa tertinggi memerintahkan dewa-dewa lain, atau bahwa berbagai dewa adalah bagian, atau manifestasi, dari dewa tunggal ini.[142]
Hubungan antara keyakinan agama Sokrates dengan kepatuhannya yang ketat pada rasionalisme telah menjadi subjek perdebatan.[143] Profesor filsafat Mark McPherran menyarankan bahwa Sokrates menafsirkan setiap tanda ilahi melalui rasionalitas sekuler untuk konfirmasi.[144] Profesor filsafat kuno A. A. Long menyarankan bahwa adalah anakronistis untuk menganggap bahwa Sokrates percaya ranah agama dan ranah rasional itu terpisah.[145]
Daimonion Sokrates

Dalam beberapa teks (misalnya, Euthyphro 3b5; Apologi 31c–d karya Plato; Memorabilia 1.1.2 karya Xenophon), Sokrates mengklaim bahwa ia mendengar tanda daimōnik—sebuah suara batin yang biasanya terdengar ketika ia hendak melakukan kesalahan. Sokrates memberikan deskripsi singkat tentang daimonion ini pada saat persidangannya (Apologi 31c–d): "...Alasannya adalah sesuatu yang sering Anda dengar saya sebutkan di berbagai tempat—yaitu, fakta bahwa saya mengalami sesuatu yang bersifat ilahi dan daimonik, sebagaimana yang dituliskan Meletos dalam dakwaannya, sebagai bentuk ejekan. Hal itu dimulai pada masa kecil saya, berupa kemunculan suara tertentu. Setiap kali suara itu muncul, ia selalu menghalangi saya dari tindakan yang hendak saya lakukan, namun ia tidak pernah memberikan nasihat positif. Hal inilah yang menentang saya untuk terlibat dalam politik, dan saya pikir tindakannya tersebut sudah sangat tepat."[147] Cendekiawan modern secara beragam menafsirkan daimōnion Sokrates ini sebagai sumber pengetahuan yang rasional, sebuah dorongan, mimpi, atau bahkan pengalaman paranormal yang dirasakan oleh Sokrates yang asketik.[148]
Kebajikan dan pengetahuan
Teori kebajikan Sokrates menyatakan bahwa semua kebajikan pada dasarnya adalah satu, karena kebajikan merupakan suatu bentuk pengetahuan.[149] Bagi Sokrates, alasan seseorang tidak baik adalah karena mereka kekurangan pengetahuan. Karena pengetahuan itu bersatu, maka kebajikan pun bersatu. Adagium terkenal lainnya—"tidak ada seorang pun yang berbuat salah dengan sukarela"—juga berasal dari teori ini.[150] Dalam Protagoras, Sokrates berargumen untuk kesatuan kebajikan dengan menggunakan contoh keberanian: jika seseorang mengetahui apa bahaya yang relevan, mereka dapat mengambil risiko.[149] Aristoteles berkomentar: "... Sokrates yang lebih tua berpikir bahwa tujuan hidup adalah pengetahuan tentang kebajikan, dan ia biasa mencari definisi keadilan, keberanian, dan setiap bagian dari kebajikan, dan ini adalah pendekatan yang masuk akal, karena ia berpikir bahwa semua kebajikan adalah ilmu, dan bahwa segera setelah seseorang mengetahui [misalnya] keadilan, ia akan menjadi adil..."[151]
Cinta

Beberapa teks menyarankan bahwa Sokrates memiliki hubungan asmara dengan Alkibiades dan orang-orang muda lainnya; teks lain menyarankan bahwa persahabatan Sokrates dengan anak laki-laki muda hanya bertujuan untuk memperbaiki diri mereka dan tidak bersifat seksual. Dalam Gorgias, Sokrates mengklaim bahwa ia adalah pencinta ganda bagi Alkibiades dan filsafat, dan sikap genitnya terlihat jelas dalam Protagoras, Meno (76a–c), dan Phaedrus (227c–d). Namun, sifat hubungan yang tepat dengan Alkibiades tidaklah jelas; Sokrates dikenal karena pengendalian dirinya, sementara Alkibiades mengakui dalam Simposium bahwa ia telah mencoba merayu Sokrates namun gagal.[152]
Teori cinta Sokrates sebagian besar disimpulkan dari Lysis, tempat Sokrates membahas cinta[153] di sebuah sekolah gulat ditemani oleh Lysis dan teman-temannya. Mereka memulai dialog dengan menyelidiki kasih sayang orang tua dan bagaimana hal itu terwujud sehubungan dengan kebebasan serta batasan yang ditetapkan orang tua bagi anak-anak mereka. Sokrates menyimpulkan bahwa jika Lysis sama sekali tidak berguna, tidak ada seorang pun yang akan mencintainya—bahkan orang tuanya sendiri. Meskipun kebanyakan cendekiawan percaya bahwa teks ini dimaksudkan untuk bersifat humoris, telah disarankan pula bahwa Lysis menunjukkan Sokrates memegang pandangan egoistik tentang cinta, di mana kita hanya mencintai orang-orang yang berguna bagi kita dengan cara tertentu.[154] Cendekiawan lain tidak setuju dengan pandangan ini, dengan argumen bahwa doktrin Sokrates menyisakan ruang bagi cinta non-egoistik untuk pasangan; pihak lain bahkan menyangkal bahwa Sokrates menyarankan motivasi egoistik sama sekali.[155] Dalam Simposium, Sokrates berpendapat bahwa anak-anak memberikan kesan palsu tentang keabadian kepada orang tua mereka, dan kesalahpahaman ini menghasilkan bentuk kesatuan di antara mereka.[156] Para cendekiawan juga mencatat bahwa bagi Sokrates, cinta itu rasional.[156]
Sokrates, yang mengaku hanya tahu bahwa dirinya tidak tahu, membuat pengecualian (dalam Simposium karya Plato), di mana ia mengatakan akan mengatakan yang sebenarnya tentang Cinta, yang ia pelajari dari seorang 'wanita cerdas'. Klasisis Armand D'Angour telah berpendapat bahwa Sokrates semasa mudanya dekat dengan Aspasia, dan bahwa Diotima, yang kepadanya Sokrates mengaitkan pemahamannya tentang cinta dalam Simposium, didasarkan pada sosok tersebut;[157] namun, ada kemungkinan juga bahwa Diotima benar-benar ada.
Filsafat politik Sokrates
Meskipun Sokrates terlibat dalam debat politik dan budaya publik, sulit untuk mendefinisikan filsafat politiknya secara pasti. Dalam Gorgias karya Plato, ia mengatakan kepada Kallikles: "Saya percaya bahwa saya adalah salah satu dari sedikit orang Athena—agar tidak dikatakan sebagai satu-satunya, tetapi satu-satunya di antara orang-orang sezaman kita—yang mengambil keahlian politik yang sejati dan mempraktikkan politik yang sejati. Hal ini karena pidato-pidato yang saya buat pada setiap kesempatan tidak bertujuan untuk kepuasan, melainkan pada apa yang terbaik."[158] Klaimnya menggambarkan keengganannya terhadap majelis dan prosedur demokrasi yang mapan seperti pemungutan suara—karena Sokrates melihat para politisi dan ahli retorika menggunakan trik untuk menyesatkan publik.[159] Ia tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan atau mengusulkan undang-undang apa pun.[160] Sebaliknya, ia bertujuan membantu kota berkembang dengan "memperbaiki" warganya.[159] Sebagai warga negara, ia mematuhi hukum. Ia menaati aturan dan menjalankan tugas militernya dengan berperang di luar negeri. Namun, dialog-dialognya sedikit menyebutkan keputusan politik kontemporer, seperti Ekspedisi Sisilia.[160]
Sokrates menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan warga, di antaranya anggota masyarakat Athena yang berpengaruh, meneliti keyakinan mereka, dan mengungkap kontradiksi dalam ide-ide mereka. Sokrates percaya bahwa ia melakukan kebaikan bagi mereka karena, baginya, politik adalah tentang membentuk lanskap moral kota melalui filsafat alih-alih melalui prosedur elektoral.[161] Terdapat perdebatan mengenai posisi Sokrates dalam iklim politik Athena yang terpolarisasi, yang terbagi antara oligarki dan demokrat. Meskipun tidak ada bukti tekstual yang jelas, satu teori yang dianut secara luas menyatakan bahwa Sokrates condong ke arah demokrasi: ia tidak mematuhi satu perintah yang diberikan oleh pemerintahan oligarkis Tiga Puluh Tiran; ia menghormati hukum dan sistem politik Athena (yang dirumuskan oleh kaum demokrat); dan menurut argumen ini, afinitasnya terhadap cita-cita Athena demokratis adalah alasan mengapa ia tidak ingin melarikan diri dari penjara dan hukuman mati. Di sisi lain, terdapat beberapa bukti bahwa Sokrates condong ke arah oligarki: sebagian besar temannya mendukung oligarki, ia meremehkan pendapat orang banyak dan kritis terhadap proses demokrasi, serta Protagoras menunjukkan beberapa elemen anti-demokratis.[162] Argumen yang kurang umum menunjukkan bahwa Sokrates menyukai republikanisme demokratis, sebuah teori yang memprioritaskan partisipasi aktif dalam kehidupan publik dan kepedulian terhadap kota.[163]
Saran lain adalah bahwa Sokrates mendukung pandangan yang sejalan dengan liberalisme, sebuah ideologi politik yang terbentuk pada Abad Pencerahan. Argumen ini sebagian besar didasarkan pada Krito dan Apologi, di mana Sokrates berbicara tentang hubungan yang saling menguntungkan antara kota dan warganya. Menurut Sokrates, warga negara secara moral otonom dan bebas meninggalkan kota jika mereka mau—tetapi, dengan tetap tinggal di dalam kota, mereka juga menerima hukum dan otoritas kota atas mereka.[164] Di sisi lain, Sokrates telah dipandang sebagai pendukung pertama pembangkangan sipil. Keberatan kuat Sokrates terhadap ketidakadilan, bersama dengan penolakannya untuk melayani perintah Tiga Puluh Tiran untuk menangkap Leon, menunjukkan ke arah ini. Sebagaimana dikatakannya dalam Kritias, "Seseorang tidak boleh bertindak tidak adil, bahkan untuk membalas kesalahan yang telah dilakukan terhadap dirinya sendiri."[165] Dalam gambaran yang lebih luas, saran Sokrates adalah agar warga mengikuti perintah negara, kecuali jika, setelah banyak perenungan, mereka menganggap perintah tersebut tidak adil.[166]
Warisan
Zaman kuno klasik
Dampak Sokrates sangat besar dalam filsafat setelah kematiannya. Dengan pengecualian para Epikurean dan Pirronis, hampir semua arus filsafat setelah Sokrates melacak akar mereka kepadanya: Akademi Plato, Lykeion Aristoteles, kaum Sinis, dan kaum Stoik.[167] Minat terhadap Sokrates terus meningkat hingga abad ketiga Masehi.[168] Berbagai mazhab berbeda dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti tujuan hidup atau hakikat arete (kebajikan), karena Sokrates tidak memberikan jawaban yang pasti kepada mereka, dan oleh karena itu, mazhab-mazhab filsafat selanjutnya sangat berbeda dalam menafsirkan pemikirannya.[169] Ia dianggap telah mengalihkan fokus filsafat dari studi tentang dunia alam, sebagaimana yang terjadi pada para filsuf pra-Sokratik, ke studi tentang urusan manusia.[170]
Pengikut langsung Sokrates adalah murid-muridnya, Euklides dari Megara, Aristippos, dan Antisthenes, yang menarik kesimpulan berbeda di antara mereka sendiri dan mengikuti jalur independen.[171] Doktrin lengkap murid-murid Sokrates sulit untuk direkonstruksi.[172] Antisthenes memiliki penghinaan mendalam terhadap barang-barang material. Baginya, kebajikan adalah segalanya yang penting. Diogenes dan kaum Sinis melanjutkan alur pemikiran ini.[173] Sebaliknya, Aristippos mendukung akumulasi kekayaan dan menjalani kehidupan yang mewah. Setelah meninggalkan Athena dan kembali ke kota asalnya Kirene, ia mendirikan mazhab filsafat Kirene yang didasarkan pada hedonisme, dan mendukung kehidupan yang mudah dengan kesenangan fisik. Mazhabnya diwariskan kepada cucunya, yang menyandang nama yang sama. Terdapat dialog dalam karya Xenophon di mana Aristippos mengklaim bahwa ia ingin hidup tanpa keinginan untuk memerintah atau diperintah oleh orang lain.[174] Selain itu, Aristippos mempertahankan sikap skeptis pada epistemologi, dengan mengklaim bahwa kita hanya bisa yakin pada perasaan kita sendiri. Pandangan ini selaras dengan pemahaman Sokrates tentang ketidaktahuan.[175] Euklides adalah tokoh yang sezaman dengan Sokrates. Setelah persidangan dan kematian Sokrates, ia meninggalkan Athena menuju kota terdekat Megara, tempat ia mendirikan sebuah mazhab, yang dinamai kaum Megarian. Teorinya dibangun di atas monisme pra-Sokratik dari Parmenides. Euklides melanjutkan pemikiran Sokrates, dengan fokus pada hakikat kebajikan.
Kaum Stoik sangat mengandalkan Sokrates.[176] Mereka menerapkan metode Sokrates sebagai alat untuk menghindari ketidakkonsistenan. Doktrin moral mereka berfokus pada cara menjalani hidup yang mulus melalui kebijaksanaan dan kebajikan. Kaum Stoik memberikan peran krusial pada kebajikan dalam mencapai kebahagiaan dan juga memprioritaskan hubungan antara kebaikan dan keunggulan etis, yang semuanya menggemakan pemikiran Sokrates.[177] Pada saat yang sama, arus filsafat Platonisme mengklaim Sokrates sebagai pendahulunya, baik dalam etika maupun teori pengetahuannya. Arkesilaos, yang menjadi kepala Akademi sekitar 80 tahun setelah didirikan oleh Plato, secara radikal mengubah doktrin Akademi menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai Skeptisisme Akademik, yang berpusat pada filsafat ketidaktahuan Sokrates. Kaum Skeptis Akademik bersaing dengan kaum Stoik mengenai siapa pewaris sejati Sokrates dalam hal etika.[178] Sementara kaum Stoik bersikeras pada etika berbasis pengetahuan, Arkesilaos mengandalkan ketidaktahuan Sokrates. Balasan kaum Stoik kepada Arkesilaos adalah bahwa ketidaktahuan Sokrates hanyalah bagian dari ironi Sokrates (mereka sendiri tidak menyetujui penggunaan ironi), sebuah argumen yang pada akhirnya menjadi narasi dominan tentang Sokrates di kemudian hari pada zaman kuno.[179]
Meskipun Aristoteles menganggap Sokrates sebagai filsuf penting, Sokrates bukanlah tokoh sentral dalam pemikiran Aristotelian. Salah satu murid Aristoteles, Aristoksenos, bahkan menulis buku yang merinci skandal-skandal Sokrates.
Kaum Epikurean bersikap antagonis terhadap Sokrates.[180] Mereka menyerangnya karena takhayul, mengkritik keyakinannya pada daimonion-nya dan penghormatannya terhadap ramalan di Delphi.[181] Mereka juga mengkritik Sokrates karena karakter dan berbagai kesalahannya, serta terutama berfokus pada ironinya, yang dianggap tidak pantas bagi seorang filsuf dan tidak elok bagi seorang guru.[182]
Kaum Pirronis juga bersikap antagonis terhadap Sokrates, menuduhnya sebagai orang yang banyak bicara tentang etika, yang terlibat dalam kerendahan hati palsu, serta orang yang mencemooh dan mengejek orang lain.[183]
Dunia abad pertengahan

Pemikiran Sokratik menemukan jalannya ke Timur Tengah Islam bersama dengan pemikiran Aristoteles dan kaum Stoik. Karya-karya Plato tentang Sokrates, serta literatur Yunani kuno lainnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh para cendekiawan Muslim awal seperti Al-Kindi, Jabir bin Hayyan, dan kaum Muʿtazila. Bagi para cendekiawan Muslim, Sokrates dipuji dan dikagumi karena menggabungkan etika dengan gaya hidupnya, mungkin karena kemiripannya dalam hal ini dengan kepribadian Muhammad.[184] Doktrin Sokratik diubah agar sesuai dengan keyakinan Islam: menurut para cendekiawan Muslim, Sokrates membuat argumen untuk monoteisme serta untuk kesementaraan dunia ini dan imbalan di kehidupan berikutnya.[185] Pengaruhnya di dunia berbahasa Arab terus berlanjut hingga hari ini.[186]
Pada abad pertengahan, hanya sedikit pemikiran Sokrates yang bertahan di dunia Kristen secara keseluruhan; namun, karya-karya tentang Sokrates dari para cendekiawan Kristen seperti Lactantius, Eusebius, dan Agustinus tetap dipelihara di Kekaisaran Bizantium, tempat Sokrates dipelajari melalui lensa Kristen.[187] Setelah jatuhnya Konstantinopel, banyak dari teks tersebut dibawa kembali ke dunia Kekristenan Romawi, tempat mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Secara keseluruhan, filsafat Sokratik kuno, seperti literatur klasik lainnya sebelum Renaisans, pada awalnya disikapi dengan skeptisisme di dunia Kristen.[188]
Selama masa awal Renaisans Italia, dua narasi berbeda tentang Sokrates berkembang.[189] Di satu sisi, gerakan humanis membangkitkan minat pada penulis-penulis klasik. Leonardo Bruni menerjemahkan banyak dialog Sokratik Plato, sementara muridnya Giannozzo Manetti menulis sebuah buku yang beredar luas, sebuah Kehidupan Sokrates. Keduanya menyajikan versi Sokrates sebagai warga sipil, di mana Sokrates digambarkan sebagai seorang humanis dan pendukung republikanisme. Bruni dan Manetti tertarik untuk membela sekularisme sebagai cara hidup yang tidak berdosa; menyajikan pandangan tentang Sokrates yang selaras dengan moralitas Kristen membantu tujuan mereka. Dengan melakukan itu, mereka harus menyensor bagian-bagian dari dialognya, terutama bagian yang tampak mempromosikan homoseksualitas atau kemungkinan adanya pederasti (dengan Alkibiades), atau yang menyarankan bahwa daimon Sokrates adalah dewa.[190] Di sisi lain, gambaran berbeda tentang Sokrates disajikan oleh kaum Neoplatonis Italia, yang dipimpin oleh filsuf dan pendeta Marsilio Ficino. Ficino terkesan dengan cara mengajar Sokrates yang tidak hierarkis dan informal, yang ia coba tiru. Ficino menggambarkan citra suci tentang Sokrates, dengan menemukan kesejajaran dengan kehidupan Yesus Kristus. Bagi Ficino dan para pengikutnya, ketidaktahuan Sokrates menandakan pengakuannya bahwa semua kebijaksanaan adalah pemberian Tuhan (melalui daimon Sokratik).[191]
Masa modern

Di Prancis modern awal, citra Sokrates lebih didominasi oleh fitur-fitur kehidupan pribadinya alih-alih pemikiran filosofisnya, dalam berbagai novel dan drama satir.[193] Beberapa pemikir menggunakan Sokrates untuk menyoroti dan mengomentari kontroversi pada era mereka sendiri, seperti Théophile de Viau yang menggambarkan Sokrates yang dikristenkan dan dituduh ateisme,[194] sementara bagi Voltaire, sosok Sokrates mewakili seorang teis berbasis akal.[195] Michel de Montaigne menulis secara luas tentang Sokrates, menghubungkannya dengan rasionalisme sebagai penyeimbang bagi para fanatik agama kontemporer.[196]
Pada abad ke-18, idealisme Jerman membangkitkan minat filosofis terhadap Sokrates, terutama melalui karya Hegel. Bagi Hegel, Sokrates menandai titik balik dalam sejarah umat manusia dengan diperkenalkannya prinsip subjektivitas bebas atau penentuan nasib sendiri. Meskipun Hegel memuji Sokrates atas kontribusinya, ia tetap membenarkan pengadilan Athena, karena desakan Sokrates pada penentuan nasib sendiri akan merusak Sittlichkeit (istilah Hegelian yang menandakan cara hidup yang dibentuk oleh institusi dan hukum Negara).[197] Selain itu, Hegel melihat penggunaan rasionalisme oleh Sokrates sebagai kelanjutan dari fokus Protagoras pada penalaran manusia (sebagaimana dirangkum dalam moto homo mensura: "manusia adalah ukuran dari segala sesuatu"), namun dimodifikasi: penalaran kitalah yang dapat membantu kita mencapai kesimpulan objektif tentang realitas.[198] Selain itu, Hegel menganggap Sokrates sebagai pendahulu para filsuf skeptis kuno di kemudian hari, meskipun ia tidak pernah menjelaskan dengan jelas mengapa.[199]
Søren Kierkegaard menganggap Sokrates sebagai gurunya,[200] dan menulis tesis magisternya tentang dia, Konsep Ironi dengan Referensi Terus-menerus kepada Sokrates.[201] Di sana ia berargumen bahwa Sokrates bukanlah filsuf moral melainkan seorang ironis murni.[202] Ia juga berfokus pada penghindaran Sokrates terhadap tulis-menulis: bagi Kierkegaard, penghindaran ini adalah tanda kerendahan hati, yang berasal dari penerimaan Sokrates akan ketidaktahuannya.[203] Tidak hanya Sokrates tidak menulis apa pun, menurut Kierkegaard, tetapi orang-orang sezamannya secara keliru menafsirkan dan salah memahami dia sebagai seorang filsuf, meninggalkan kita dengan tugas yang nyaris mustahil dalam memahami pemikiran Sokratik.[201] Hanya Apologi karya Plato yang mendekati sosok Sokrates yang asli, dalam pandangan Kierkegaard.[204] Dalam tulisan-tulisannya, ia cukup sering meninjau kembali Sokrates; dalam karya selanjutnya, Kierkegaard menemukan elemen etis dalam pemikiran Sokratik.[202] Sokrates tidak hanya menjadi subjek studi bagi Kierkegaard, ia juga merupakan model: Kierkegaard menyamakan tugasnya sebagai filsuf dengan Sokrates. Ia menulis, "Satu-satunya analogi yang saya miliki di depan saya adalah Sokrates; tugas saya adalah tugas Sokratik, untuk mengaudit definisi tentang apa artinya menjadi seorang Kristen", dengan tujuannya adalah membawa masyarakat lebih dekat ke ideal Kristen, karena ia percaya bahwa Kekristenan telah menjadi formalitas, kosong dari esensi Kristen apa pun.[205] Kierkegaard menyangkal dirinya sebagai seorang Kristen, sebagaimana Sokrates menyangkal memiliki pengetahuan apa pun.[206]
Friedrich Nietzsche membenci kontribusi Sokrates terhadap budaya Barat.[207] Dalam buku pertamanya, Kelahiran Tragedi (1872), Nietzsche menganggap Sokrates bertanggung jawab atas apa yang ia lihat sebagai kemerosotan peradaban Yunani kuno selama abad ke-4 SM dan setelahnya. Bagi Nietzsche, Sokrates mengalihkan cakupan filsafat dari naturalisme pra-Sokratik ke rasionalisme dan intelektualisme. Ia menulis: "Saya menganggap [para filsuf Pra-Sokratik] sebagai pendahulu reformasi bangsa Yunani: tetapi bukan Sokrates"; "dengan Empedokles dan Demokritos, orang-orang Yunani berada di jalur yang benar untuk mengukur eksistensi manusia, ketidakmasukakalannya, penderitaannya; mereka tidak pernah mencapai tujuan ini, berkat Sokrates".[208] Dampaknya, menurut Nietzsche, adalah situasi menyimpang yang berlanjut hingga zamannya: budaya kita adalah budaya Sokratik, menurutnya.[207] Dalam publikasi kemudian, Senjakala Para Berhala (1887), Nietzsche melanjutkan serangannya terhadap Sokrates, dengan berfokus pada hubungan sewenang-wenang antara akal dengan kebajikan dan kebahagiaan dalam pemikiran Sokratik. Ia menulis: "Saya mencoba memahami dari keadaan parsial dan idiosinkratik mana masalah Sokratik diturunkan: persamaannya tentang akal = kebajikan = kebahagiaan. Adalah dengan absurditas doktrin identitas inilah ia memikat: filsafat kuno tidak pernah lagi membebaskan dirinya [dari daya pikat ini]".[209] Dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, penjelasan paling umum mengenai permusuhan Nietzsche terhadap Sokrates adalah anti-rasionalismenya; ia menganggap Sokrates sebagai bapak rasionalisme Eropa. Pada pertengahan abad ke-20, filsuf Walter Kaufmann menerbitkan artikel yang berpendapat bahwa Nietzsche mengagumi Sokrates. Pendapat utama saat ini adalah bahwa Nietzsche bersikap ambivalen terhadap Sokrates.[210]
Hannah Arendt, Leo Strauss, dan Karl Popper, setelah mengalami kengerian Perang Dunia II, di tengah kebangkitan rezim totaliter, melihat Sokrates sebagai ikon hati nurani individu.[211] Arendt, dalam Eichmann di Yerusalem (1963), menyarankan bahwa penyoalan konstan dan refleksi diri Sokrates dapat mencegah banalitas kejahatan.[212] Strauss menganggap pemikiran politik Sokrates sejajar dengan Plato. Ia melihat Sokrates yang elitis dalam Republik karya Plato sebagai contoh mengapa polis bukanlah, dan tidak mungkin menjadi, cara ideal untuk mengatur kehidupan, karena kebenaran filosofis tidak dapat dicerna oleh massa.[213] Popper mengambil pandangan sebaliknya: ia berpendapat bahwa Sokrates menentang ide-ide totaliter Plato. Bagi Popper, individualisme Sokratik, bersama dengan demokrasi Athena, menyiratkan konsep Popper tentang "masyarakat terbuka" sebagaimana dijelaskan dalam bukunya Masyarakat Terbuka dan Para Musuhnya (1945).[214]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Amy C. Smith (2003), “Athenian Political Art from the fifth and fourth centuries BCE: Images of Historical Individuals,” p. 14, in C.W. Blackwell, ed., Dēmos: Classical Athenian Democracy. The Stoa: a consortium for electronic publication in the humanities.
- ↑ Jones 2006.
- ↑ "Socrates (469—399 B.C.E.)". Internet encyclopedia of philosophy. Diakses tanggal 27 August 2024.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 5–7; Dorion 2011, hlm. 1–2; May 2000, hlm. 9; Waterfield 2013, hlm. 1.
- ↑ May 2000, hlm. 20; Dorion 2011, hlm. 7; Waterfield 2013, hlm. 1.
- ↑ Doering 2011, hlm. 24–25.
- ↑ Dorion 2011, hlm. 7–9.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 335.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 339.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 345.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 29–31; Dorion 2011, hlm. 6.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 30.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 29–33; Waterfield 2013, hlm. 3–4.
- ↑ May 2000, hlm. 20; Dorion 2011, hlm. 6–7.
- ↑ May 2000, hlm. 20; Waterfield 2013, hlm. 3–4.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 15.
- ↑ May 2000, hlm. 19–20.
- ↑ Dorion 2011, hlm. 4, 10.
- ↑ Waterfield 2013, hlm. 10–13.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 39–41.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 39–51.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 5.
- ↑ Konstan 2011, hlm. 85, 88.
- ↑ Waterfield 2013, hlm. 7–8.
- ↑ Vlastos 1991, hlm. 52; Kahn 1998, hlm. 1–2.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 35–36; Waterfield 2013, hlm. 8.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 38.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 38–39.
- ↑ Dorion 2011, hlm. 11, 16; Waterfield 2013, hlm. 11.
- ↑ Waterfield 2013, hlm. 8–11.
- ↑ Waterfield 2013, hlm. 11.
- ↑ Dorion 2011, hlm. 1–3.
- ↑ Dorion 2011, hlm. 2–3.
- ↑ Dorion 2011, hlm. 5.
- ↑ Dorion 2011, hlm. 7–10.
- 1 2 Dorion 2011, hlm. 12–14.
- ↑ Dorion 2011, hlm. 17–18.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 2.
- ↑ Ober 2010, hlm. 159–160; Ahbel-Rappe 2011, hlm. 1; Guthrie 1972, hlm. 58; Dorion 2011, hlm. 12; Nails 2020, A chronology of the historical Socrates in the context of Athenian history and the dramatic dates of Plato's dialogues.
- ↑ Ober 2010, hlm. 160–161.
- ↑ Ober 2010, hlm. 161–162.
- ↑ Ober 2010, hlm. 161.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 65.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 59.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 65; Ober 2010, hlm. 167–171.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 78.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 66–67.
- 1 2 Guthrie 1972, hlm. 69.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 70–75; Nails 2020, Socrates's strangeness.
- ↑ Obdrzalek 2013, hlm. 210–211; Nails 2020, Socrates's strangeness.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 92–94; Nails 2020, Socrates's strangeness.
- ↑ Kahn 1998, hlm. 75.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 15–19.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 17, 21.
- ↑ Plato. "Phaedo". Perseus. Diakses tanggal 1 March 2024.
See §118a
- ↑ May 2000, hlm. 30, 40.
- 1 2 3 4 May 2000, hlm. 47–48.
- ↑ Danzig, Gabriel. 2003. "Apologizing for Socrates: Plato and Xenophon on Socrates' Behavior in Court." Transactions of the American Philological Association. Vol. 133, No. 2, pp. 285.
- 1 2 3 4 5 6 Nails 2020, A Chronology of the historical Socrates.
- ↑ May 2000, hlm. 31.
- ↑ May 2000, hlm. 33–39.
- ↑ May 2000, hlm. 41–42.
- ↑ May 2000, hlm. 42.
- ↑ May 2000, hlm. 43.
- ↑ May 2000, hlm. 45–46.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 65–66.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 63–65; Ahbel-Rappe 2011; Ober 2010, hlm. 146.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 64–65.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 20, 65–66; Ober 2010, hlm. 146.
- 1 2 Ralkowski 2013, hlm. 302.
- ↑ Ralkowski 2013, hlm. 323.
- ↑ Ralkowski 2013, hlm. 319–322.
- ↑ Ralkowski 2013, hlm. 307–308.
- ↑ Ralkowski 2013, hlm. 303–304.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 53.
- ↑ Benson 2011, hlm. 179; Wolfsdorf 2013, hlm. 34–35.
- ↑ Wolfsdorf 2013, hlm. 34: Lainnya meliputi Charmides, Krito, Euthydemus, Euthyphro, Hippias Mayor, Hippias Minor, Ion, Laches, Lysis, Protagoras. Benson 2011, hlm. 179, juga menambahkan bagian-bagian dari Meno.
- ↑ Benson 2011, hlm. 182–184; Wolfsdorf 2013, hlm. 34–35.
- ↑ Benson 2011, hlm. 184.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 125–127.
- 1 2 Guthrie 1972, hlm. 128–129.
- ↑ Benson 2011, hlm. 179, 185–193.
- ↑ Benson 2011, hlm. 185; Wolfsdorf 2013, hlm. 34–35; Ambury 2020, The Elenchus: Socrates the Refuter.
- ↑ Benson 2011, hlm. 185; Wolfsdorf 2013, hlm. 44; Ambury 2020, The Elenchus: Socrates the Refuter.
- ↑ Benson 2011, hlm. 185.
- ↑ Ambury 2020, The Elenchus: Socrates the Refuter: Benson (2011) menyebutkan dalam sebuah catatan para pakar yang menggunakan pendekatan konstruktivis dan non-konstruktivisme: "Di antara kelompok "konstruktivis" yang bersedia melakukan hal tersebut adalah Brickhouse dan Smith 1994, bab. 6.1; Burnet 1924, hlm. 136–137; McPherran 1985; Rabinowitz 1958; Reeve 1989, bab. 1.10; Taylor 1982; dan Vlastos 1991, bab. 6. Mereka yang tidak memandang penjelasan Sokrates mengenai kesalehan tersirat dalam teks tersebut ("antikonstruktivis") meliputi Allen 1970, hlm. 6–9, 67; dan Grote 1865, hlm. 437–457. Beckman 1979, bab. 2.1; Calef 1995; dan Versényi 1982" hlm.118
- ↑ Benson 2013, hlm. 136.
- ↑ Benson 2013, hlm. 136–139; Ahbel-Rappe 2011, hlm. 71.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 112.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 110–111.
- ↑ Benson 2013, hlm. 143–145; Bett 2011, hlm. 228.
- ↑ Benson 2013, hlm. 143–145, 147; Bett 2011, hlm. 229.
- ↑ Benson 2013, hlm. 145.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 144.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 122; Bett 2011, hlm. 215; McPartland 2013, hlm. 94–95.
- ↑ McPartland 2013, hlm. 98.
- ↑ McPartland 2013, hlm. 108–109.
- ↑ McPartland 2013, hlm. 117.
- ↑ McPartland 2013, hlm. 119.
- ↑ McPartland 2013, hlm. 117–119.
- ↑ McPartland 2013, hlm. 118–119.
- ↑ Vlastos 1985, hlm. 1.
- 1 2 Vlastos 1985, hlm. 6–7.
- ↑ Vlastos 1985, hlm. 1–2; Lesher 1987, hlm. 275.
- ↑ Lesher 1987, hlm. 276.
- ↑ Lesher 1987, hlm. 276; Vasiliou 2013, hlm. 28.
- ↑ Lesher 1987, hlm. 278; McPartland 2013, hlm. 123.
- ↑ McPartland 2013, hlm. 123–124.
- ↑ Lane 2011, hlm. 239.
- ↑ Vasiliou 2013, hlm. 20.
- ↑ Vasiliou 2013, hlm. 24; Lane 2011, hlm. 239.
- ↑ Lane 2011, hlm. 249–251.
- ↑ Lane 2011, hlm. 241–242.
- ↑ Lane 2011, hlm. 243.
- ↑ Vasiliou 2013, hlm. 28–29.
- ↑ Brickhouse & Smith 2013, hlm. 185; Vlastos 1991, hlm. 203.
- 1 2 Reshotko 2013, hlm. 158.
- ↑ Brickhouse & Smith 2013, hlm. 185.
- ↑ Segvic 2006, hlm. 171–173.
- ↑ Segvic 2006, hlm. 171.
- ↑ Brickhouse & Smith 2013, hlm. 185–186.
- ↑ Brickhouse & Smith 2013, hlm. 190–191.
- ↑ Ausland 2019, hlm. 686–687.
- ↑ McPherran 2011, hlm. 117.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 257.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 259–260.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 257–258.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 151–153.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 153.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 260–262; McPherran 2011, hlm. 111.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 265.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 266.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 263–266.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 263:Lihat juga catatan 30 untuk referensi lebih lanjut; McPherran 2011, hlm. 117.
- ↑ McPherran 2011, hlm. 117–119.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 272–273.
- 1 2 McPherran 2013, hlm. 270–271.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 157–158.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 160–164.
- ↑ McPherran 2011, hlm. 123–127.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 270–271; Long 2009, hlm. 63.
- ↑ McPherran 2013, hlm. 272; Long 2009, hlm. 63.
- ↑ McPherran 2011, hlm. 114–115.
- ↑ McPherran 2011, hlm. 124.
- ↑ Long 2009, hlm. 64.
- ↑ Lapatin 2009, hlm. 146.
- ↑ Long 2009, hlm. 63–64.
- ↑ Long 2009, hlm. 65–66, 70.
- 1 2 Guthrie 1972, hlm. 131.
- ↑ Rowe 2006, hlm. 164–165.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 131; Ahbel-Rappe & Kamtekar 2009, hlm. 72.
- ↑ Obdrzalek 2013, hlm. 210–211.
- ↑ Obdrzalek 2013, hlm. 211–212; Rudebusch 2009, hlm. 187.
- ↑ Obdrzalek 2013, hlm. 214–215.
- ↑ Obdrzalek 2013, hlm. 212.
- 1 2 Obdrzalek 2013, hlm. 230.
- ↑ D'Angour 2019.
- ↑ Griswold 2011, hlm. 333–341; Johnson 2013, hlm. 234.
- 1 2 Johnson 2013, hlm. 234.
- 1 2 Griswold 2011, hlm. 334.
- ↑ Johnson 2013, hlm. 235.
- ↑ Johnson 2013, hlm. 236–237.
- ↑ Johnson 2013, hlm. 238.
- ↑ Johnson 2013, hlm. 239–241.
- ↑ Johnson 2013, hlm. 241–242.
- ↑ Johnson 2013, hlm. 255–256.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 99, 165; Long 2011, hlm. 355; Ahbel-Rappe 2011, hlm. 95–96.
- ↑ Long 2011, hlm. 355–356.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 165–166; Long 2011, hlm. 355–357.
- ↑ Long 2011, hlm. 358.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 169.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 179–183.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 170.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 170–174.
- ↑ Guthrie 1972, hlm. 175–177.
- ↑ Long 2011, hlm. 362.
- ↑ Long 2011, hlm. 362–264.
- ↑ Long 2011, hlm. 364–365.
- ↑ Long 2011, hlm. 367.
- ↑ Long 2011, hlm. 368–369.
- ↑ Long 2011, hlm. 374.
- ↑ Campos-Daroca 2019, hlm. 240; Lane 2011, hlm. 244; Long 2011, hlm. 370.
- ↑ "Diogenes Laertius, Lives of the Eminent Philosophers Book II, Chapter 5, Section 19". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 January 2022. Diakses tanggal 24 January 2022.
- ↑ Alon 2009, hlm. 317–318.
- ↑ Alon 2009, hlm. 325–326.
- ↑ Alon 2009, hlm. 332.
- ↑ Trizio 2019, hlm. 609–610; Hankins 2009, hlm. 352.
- ↑ Hankins 2009, hlm. 337–340.
- ↑ Hankins 2009, hlm. 348–349.
- ↑ Hankins 2009, hlm. 341–346.
- ↑ Hankins 2009, hlm. 346–348.
- ↑ Lapatin 2009, hlm. 133–139.
- ↑ McLean 2009, hlm. 353–354.
- ↑ McLean 2009, hlm. 355.
- ↑ Loughlin 2019, hlm. 665.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 12.
- ↑ Bowman 2019, hlm. 751–753.
- ↑ Bowman 2019, hlm. 753, 761–763.
- ↑ White 2009, hlm. 373–374.
- ↑ Schur & Yamato 2019, hlm. 820.
- 1 2 Schur & Yamato 2019, hlm. 824.
- 1 2 Muench 2009, hlm. 389.
- ↑ Schur & Yamato 2019, hlm. 824–825.
- ↑ Muench 2009, hlm. 390.
- ↑ Muench 2009, hlm. 390–391:Kutipan dari esai Kierkegaard Tugas Saya (1855)
- ↑ Muench 2009, hlm. 394.
- 1 2 Raymond 2019, hlm. 837.
- ↑ Porter 2009, hlm. 408–409; Ambury 2020, Legacy: How Have Other Philosophers Understood Socrates?.
- ↑ Porter 2009, hlm. 410–411.
- ↑ Raymond 2019, hlm. 837–839.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 127.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 137–138.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 138–140.
- ↑ Ahbel-Rappe 2011, hlm. 140–142.
Sumber
- Ahbel-Rappe, Sara; Kamtekar, Rachana (2009). A Companion to Socrates. Wiley. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Ahbel-Rappe, Sara (2011). Socrates: A Guide for the Perplexed. A&C Black. ISBN 978-0-8264-3325-1.
- Alon, Ilai (2009). "Socrates in Arabic Philosophy". Dalam Ahbel-Rappe, Sara; Kamtekar, Rachana (ed.). A Companion to Socrates. Wiley. hlm. 313–326. doi:10.1002/9780470996218.ch20. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Ambury, James M. (2020). "Socrates". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 August 2017. Diakses tanggal 2 June 2021.
- Ausland, Hayden W. (2019). "Socrates in the Early Nineteenth Century, Become Young and Beautiful". Dalam Kyriakos N. Demetriou (ed.). Brill's Companion to the Reception of Socrates. Brill. hlm. 685–718. ISBN 978-90-04-39675-3.
- Benson, Hugh H. (2011). "Socratic Method". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 179–200. doi:10.1017/CCOL9780521833424.008. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Benson, Hugh H. (2013). "The priority of definition". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 136–155. ISBN 978-1-4411-1284-2.
- Bett, Richard (2011). "Socratic Ignorance". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 215–236. doi:10.1017/CCOL9780521833424.010. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Bowman, Brady (2019). "Hegel on Socrates and the Historical Advent of Moral Self-Consciousness". Dalam Kyriakos N. Demetriou (ed.). Brill's Companion to the Reception of Socrates. Brill. hlm. 749–792. doi:10.1163/9789004396753_030. ISBN 978-90-04-39675-3. S2CID 181666253.
- Brickhouse, Thomas C.; Smith, Nicholas D. (2013). "Socratic Moral Psychology". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 185–209. ISBN 978-1-4411-1284-2.
- Campos-Daroca, F. Javier (2019). "Epicurus and the Epicureans on Socrates and the Socratics". Dalam Moore, Christopher (ed.). Brill's Companion to the Reception of Socrates. Brill Publishers. hlm. 237–265. doi:10.1163/9789004396753_010. ISBN 978-90-04-39675-3. S2CID 182098719.
- D'Angour, Armand (2019). Socrates in Love. Bloomsbury. ISBN 978-14-08-88391-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 October 2022. Diakses tanggal 6 March 2022.
- Doering, Klaus (2011). "The Students of Socrates". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 24–47. doi:10.1017/CCOL9780521833424.002. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Dorion, Louis André (2011). "The Rise and Fall of the Socratic Problem". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 1–23. doi:10.1017/CCOL9780521833424.001. hdl:10795/1977. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Guthrie, W. K. C. (1972). A History of Greek Philosophy: Volume 3, The Fifth Century Enlightenment, Part 2, Socrates. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511518454. ISBN 978-0-521-09667-6.
- Griswold, Charles L. (2011). "Socrates' Political Philosophy". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 333–352. doi:10.1017/CCOL9780521833424.014. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Hankins, James (2009). "Socrates in the Italian Renaissance". Dalam Ahbel-Rappe, Sara; Kamtekar, Rachana (ed.). A Companion to Socrates. Wiley. hlm. 337–352. doi:10.1002/9780470996218.ch21. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Johnson, Curtis (2013). "Socrates' political philosophy". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 233–256. ISBN 978-1-4411-1284-2.
- Jones, Daniel (2006). English Pronouncing Dictionary. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-68086-8.
- Kahn, Charles H. (1998). Plato and the Socratic Dialogue: The Philosophical Use of a Literary Form. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511585579. ISBN 978-0-521-64830-1.
- Konstan, David (2011). "Socrates in Aristophanes' Clouds". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 75–90. doi:10.1017/CCOL9780521833424.004. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Lane, Melissa (2011). "Reconsidering Socratic Irony". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 237–259. doi:10.1017/CCOL9780521833424.011. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Lapatin, Keneth (2009). "Picturing Socrates". Dalam Sara Ahbel-Rappe (ed.). A Companion to Socrates. Rachana Kamtekar. Wiley. hlm. 110–155. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Lesher, J. H. (James H.) (1987). "Socrates' Disavowal of Knowledge". Journal of the History of Philosophy. 25 (2). Project Muse: 275–288. doi:10.1353/hph.1987.0033. ISSN 1538-4586. S2CID 171007876. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 February 2023. Diakses tanggal 11 November 2022.
- Long, A.A. (2009). "How Does Socrates' Divine Sign Communicate with Him?". Dalam Sara Ahbel-Rappe (ed.). A Companion to Socrates. Rachana Kamtekar. Wiley. hlm. 63–74. doi:10.1002/9780470996218.ch5. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Long, A.A. (2011). "Socrates in Later Greek Philosophy". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 355–379. doi:10.1017/CCOL9780521833424.015. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Loughlin, Felicity P. (2019). "Socrates and Religious Debate in the Scottish Enlightenment". Dalam Kyriakos N. Demetriou (ed.). Brill's Companion to the Reception of Socrates. Brill. hlm. 658–683. doi:10.1163/9789004396753_027. ISBN 978-90-04-39675-3. S2CID 182644665.
- May, Hope (2000). On Socrates. Wadsworth/Thomson Learning. ISBN 978-0-534-57604-2.
- McPherran, Mark L. (2011). "Socratic religion". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 111–127. doi:10.1017/CCOL9780521833424.006. ISBN 978-0-521-83342-4.
- McPherran, Mark L. (2013). "Socratic theology and piety". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 257–277. ISBN 978-1-4411-1284-2.
- McPartland, Keith (2013). "Socratic Ignorance and Types of Knowledge". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 94–135. ISBN 978-1-4411-1284-2.
- McLean, Daniel R. (2009). "The Private Life of Socrates in Early Modern France". Dalam Ahbel-Rappe, Sara; Kamtekar, Rachana (ed.). A Companion to Socrates. Wiley. hlm. 353–367. doi:10.1002/9780470996218.ch22. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Muench, Paul (2009). "Kierkegaard's Socratic Point of View". Dalam Sara Ahbel-Rappe (ed.). A Companion to Socrates. Rachana Kamtekar. Wiley. hlm. 389–405. doi:10.1002/9780470996218.ch24. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Nails, Debra (2020). Edward N. Zalta (ed.). "Socrates". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 October 2022. Diakses tanggal 2 June 2021.
- Ober, Josiah (2010). "Socrates and Democratic Athens". Dalam Donald R. Morrison (ed.). The Cambridge Companion to Socrates. Cambridge University Press. hlm. 138–178. doi:10.1017/CCOL9780521833424.007. ISBN 978-0-521-83342-4.
- Obdrzalek, Suzanne (2013). "Socrates on Love". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 210–232. ISBN 978-1-4411-1284-2.
- Porter, James I. (2009). "Nietzsche and 'The Problem of Socrates'". Dalam Sara Ahbel-Rappe (ed.). A Companion to Socrates. Rachana Kamtekar. Wiley. hlm. 406–425. doi:10.1002/9780470996218.ch25. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Ralkowski, Mark (2013). "The politics of impiety why was Socrates prosecuted by the Athenian democracy ?". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 301–327. ISBN 978-1-4411-1284-2.
- Raymond, Christopher C. (2019). "Nietzsche's Revaluation of Socrates". Dalam Kyriakos N. Demetriou (ed.). Brill's Companion to the Reception of Socrates. Brill. hlm. 837–683. doi:10.1163/9789004396753_033. ISBN 978-90-04-39675-3. S2CID 182444038.
- Reshotko, Naomi (2013). "Socratic eudaimonism". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 156–184. ISBN 978-1-4411-1284-2.
- Rowe, Christopher (2006). "Socrates in Plato's Dialogues". Dalam Sara Ahbel-Rappe (ed.). A Companion to Socrates. Rachana Kamtekar. Wiley. hlm. 159–170. doi:10.1002/9780470996218.ch10. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Rudebusch, George (2009). "Socratic Love". Dalam Sara Ahbel-Rappe (ed.). A Companion to Socrates. Rachana Kamtekar. Wiley. hlm. 186–199. doi:10.1002/9780470996218.ch11. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Segvic, Heda (2006). "No One Errs Willingly: The Meaning of Socratic Intellectualism". Dalam Sara Ahbel-Rappe (ed.). A Companion to Socrates. Rachana Kamtekar. Wiley. hlm. 171–185. doi:10.1002/9780470996218.ch10. ISBN 978-1-4051-5458-1.
- Schur, David; Yamato, Lori (2019). "Kierkegaard's Socratic Way of Writing". Dalam Kyriakos N. Demetriou (ed.). Brill's Companion to the Reception of Socrates. Brill Publishers. hlm. 820–836. doi:10.1163/9789004396753_032. ISBN 978-90-04-39675-3. S2CID 181535294. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 February 2024. Diakses tanggal 18 June 2021.
- Trizio, Michele (2019). "Socrates in Byzantium". Dalam Moore, Christopher (ed.). Brill's Companion to the Reception of Socrates. Brill Publishers. hlm. 592–618. doi:10.1163/9789004396753_024. ISBN 978-90-04-39675-3. S2CID 182037431. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 February 2024. Diakses tanggal 18 June 2021.
- Vasiliou, Iakovos (2013). "Socratic irony". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 20–33. ISBN 978-1-4411-1284-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 February 2024. Diakses tanggal 1 June 2021.
- Vlastos, Gregory (1985). "Socrates' Disavowal of Knowledge". The Philosophical Quarterly. 35 (138). Oxford University Press (OUP): 1–31. doi:10.2307/2219545. ISSN 0031-8094. JSTOR 2219545.
- Vlastos, Gregory (1991). Socrates, Ironist and Moral Philosopher. Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-9787-2.
- Waterfield, Robin (2013). "Quest for the historical Socrates". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 1–19. ISBN 978-1-4411-1284-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 February 2024. Diakses tanggal 1 June 2021.
- Wolfsdorf, David (2013). "Quest for the historical Socrates". Dalam Nicholas D. Smith (ed.). The Bloomsbury Companion to Socrates. John Bussanich. A&C Black. hlm. 34–67. ISBN 978-1-4411-1284-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 February 2024. Diakses tanggal 1 June 2021.
- White, Nicholas (2009). "Socrates in Hegel and Others". Dalam Sara Ahbel-Rappe (ed.). A Companion to Socrates. Rachana Kamtekar. Wiley. hlm. 368–387. doi:10.1002/9780470996218.ch23. ISBN 978-1-4051-5458-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 February 2024. Diakses tanggal 12 June 2021.
Bacaan lanjutan
| Sumber pustaka mengenai Socrates |
| By Socrates |
|---|
- Brun, Jean (1978). Socrate (dalam bahasa Prancis) (Edisi 6th). Presses universitaires de France. hlm. 39–40. ISBN 978-2-13-035620-2.
- Benson, Hugh (1992). Essays on the philosophy of Socrates. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-506757-6. OCLC 23179683.
- Rudebusch, George (2009). Socrates. Chichester, UK; Malden, MA: Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-5085-9. OCLC 476311710.
- Taylor, C. C. W. (1998). Socrates. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-287601-0.
- Taylor, C. C. W. (2019). Socrates: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-883598-1.
- Vlastos, Gregory (1994). Socratic Studies. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-44735-5.
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Sokrates pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Entri basisdata #Q913 di Wikidata | |
- (Inggris) Sokrates di Indiana Philosophy Ontology Project
- The Dialogues of Plato at Project Gutenberg
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Akademik | |
| Seniman | |
| Orang | |
| Lain-lain | |