Para antariksawan dan partisipan penerbangan antariksa melakukan kegiatan keagamaan mereka saat berada di luar angkasa; terkadang secara terbuka, terkadang secara tertutup. Penerapan agama di luar angkasa atau agama di antariksa menghadapi tantangan dan kesempatan unik bagi para penganutnya. Para penjelajah antariksa melaporkan adanya perubahan dalam cara mereka memandang keyakinan mereka sehubungan dengan efekOverview,[1] dan beberapa di antaranya mengatakan bahwa keyakinan mereka semakin kuat.[2][3][4] Sementara beberapa kelompok sekuler mengkritik pemakaian pesawat luar angkasa pemerintah untuk kegiatan keagamaan oleh para antariksawan.[5]
Kru ISS mengenakan topi Natal di dalam modul pelayanan ISS Zvezda pada 2009.Pagi Natal di Node 3 pada 2010.
Protestan
Antariksawan Apollo 11Buzz Aldrin, seorang Presbiterian, melakukan kegiatan perjamuan kudus untuk dirinya sendiri memakai barang yang disediakan oleh gerejanya. Aldrin mengatakan rencana tersebut kepada kepala penerbangan Chris Kraft dan berniat untuk menyiarkan kegiatan tersebut saat kembali ke Bumi tetapi ditolak atas permintaan Deke Slayton, karena kontroversi berkelanjutan dari pembacaan di Apollo 8.[8]
Sebuah mikrofilm Alkitab yang dibawa ke permukaan Bulan dilelang pada 2011.[9] Mikrofilm tersebut adalah sebuah mikrofilm Alkitab versi King James Version yang dibuat setelah tiga antariksawan tewas dalam kebakaran Apollo 1.[9]Ed White, salah satu antariksawan yang ikut serta, ingin membawa Alkitab ke Bulan.[9]
Beberapa anggota awak misi STS-51-L, yang mengalami tragedi pesawat ulang-alik Challenger, adalah orang-orang yang beriman. Di antara mereka adalah Komandan Dick Scobee dan Pilot Michael J. Smith. Scobee adalah seorang penganut Baptis yang bertemu istrinya, June, dalam sebuah acara sosial gereja. Setelah tragedi tersebut, June kemudian menulis sebuah artikel di Majalah Guidepost tentang bagaimana iman mereka membantunya melewati masa-masa tragis tersebut.[11] Smith dan keluarganya menghadiri sebuah gereja Kristen non-denominasi di sebuah komunitas dekat rumah mereka, tak jauh dari Pusat Antariksa NASA JSC di Houston. Demikian pula, spesialis misi Ronald McNair adalah seorang Kristen yang taat.[12]
Katolik Roma
Sebuah pesan bertandatangan dari Paus Paulus VI dipadukan di antara pernyataan-pernyataan dari puluhan pemimpin dunia lain yang didatangkan ke bulan memakai cakram silikon pada misi Apollo 11.[13] Setelah misi tersebut, William Donald Borders, Uskup Keuskupan Orlando, berkata kepada Sri Paus bahwa Kitab Hukum Kanonik 1917 menempatkan bulan dalam keuskupan tersebut, karena para penjelajah pertama berangkat dari Cape Kennedy yang berada di bawah yurisdiksinya.[14][15][16]
Setelah Buzz Aldrin menerima Komuni Kudus di Bulan, para astronot lainnya juga melakukan hal yang sama di orbit Bumi. Tiga astronot Katolik dalam misi Pesawat Ulang-alik STS-59 menerima Komuni Kudus pada 17 April 1994.[17] Astronot NASA Michael S. Hopkins membawa persediaan enam hosti yang telah dikonsekrasikan ke Stasiun Antariksa Internasional pada September 2013, sehingga ia dapat menerima Ekaristi setiap minggu selama misi 24 minggu tersebut.[18]
Seorang imam Ortodoks Rusia memberkati roket Soyuz untuk Ekspedisi ISS 31
Di Rusia, awak misi antariksa diberkati oleh para pendeta Ortodoks Rusia sebelum peluncuran, dan roket Soyuz mereka juga diberkati di landasan peluncuran. Kosmonaut Aleksandr Viktorenko memprakarsai tradisi pemberkatan awak misi tersebut ketika ia meminta pemberkatan untuk peluncuran Soyuz TM-20 pada tahun 1994.[20][21]
Natal Ortodoks Rusia dirayakan di StasiunAntariksa Internasional pada 7 Januari 2011.[22] Para kosmonot mendapat hari libur, tetapi salah satu anggota awak lainnya memposting di Twitter, "Selamat Natal untuk seluruh Rusia."[22] Seluruh awak juga merayakannya pada tanggal 25 Desember, dua minggu sebelumnya.[22]
Para kosmonot terkadang, atas permintaan Gereja Ortodoks Rusia, membawa ikon-ikon keagamaan ke luar angkasa, yang setelah kembali ke Bumi akan dibagikan ke berbagai gereja.[23]
Islam
Fikih Islam tentang Antariksa (Fiqh al-Fada)
Pembacaan Surah al-Anbiya dari Al-Qur’an; surah ini berisi ayat-ayat yang berkaitan dengan benda-benda langit dan orbitnya
Hukum Islam yang berlaku di luar angkasa disebut fikih luar angkasa dalam Islam.[24] Para ulama Islam, badan antariksa, dan dewan keagamaan telah menyusun pedoman khusus serta fatwa untuk membantu astronot Muslim menjalankan kewajiban agama mereka selama berada di luar angkasa.[25] Umat Muslim di luar angkasa beradaptasi untuk memenuhi kewajiban agama, seperti beribadah dalam lingkungan tanpa gravitasi.[26] Isu ini pertama kali menjadi bahan perdebatan seiring dengan penerbangan Pangeran Arab Saudi Sultan bin Salman Al Saud dalam misi STS-51-G dan partisipasi Anousheh Ansari sebagai turisangkasa di StasiunAntariksa Internasional.[27]
Praktik-praktik Keagamaan di Luar Angkasa (Fiqh al-Ibadah)
Perjalanan antariksa menghadirkan tantangan logistik yang unik bagi ritual-ritual Islam yang mendasar, terutama lima waktu salat dan puasa selama bulan Ramadan, yang terkait dengan posisi matahari dan geografi Bumi.[28] Sebagai contoh, pesawat antariksa seperti StasiunAntariksa Internasional (ISS) mengorbit Bumi dengan kecepatan 27.600 km/jam, yang berarti seorang astronot menyaksikan matahari terbit dan terbenam sekitar 16 kali setiap 24 jam, dan arah dari stasiun ke Mekah berubah secara signifikan dalam hitungan detik.[29][24][30]
Setelah pertemuan yang dihadiri lebih dari 150 ulama dan ilmuwan, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia, yang mengikuti mazhab Syafi'i dalam fikih Islam, menerbitkan pedoman tersebut dalam bentuk fatwa setebal 18 halaman.[31][32] Pedoman ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan kini berfungsi sebagai panduan bagi astronot Muslim di luar angkasa.[33][34]Diyanet, Badan Urusan Keagamaan Turki, yang mengikuti mazhab Hanafi dalam fikih Islam, juga menetapkan pedoman bagi astronot Muslim.[35] Diyanet juga memposting lowongan pekerjaan untuk astronom dan astronot, kemungkinan sebagai penasihat.[36][37] Ulama dari Mesir dan Guinea juga telah mengeluarkan fatwa mengenai cara melaksanakan salat di luar angkasa.[25]
Dalam persiapan untuk kunjungan Sheikh Muszaphar Shukor dari Malaysia ke ISS pada 2007, Badan Fatwa Nasional membuat "Kewajiban Muslim di Stasiun Luar Angkasa Internasional" yang menjelaskan modifikasi yang diizinkan untuk ibadah-ibadah seperti bersujud saat salat (tak harus di luar angkasa), menghadap Makkah saat salat (terlepas kemampuan terbaik dari antariksawan saat memulai salat), dan berwudu (cukup memakai handuk basah).[38]
↑"The artworks flown to outer space". Apollo Magazine (dalam bahasa American English). 2021-10-21. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-21. Diakses tanggal 2021-12-21. The cosmonaut tradition, meanwhile, is to take religious icons depicting saints or the holy family on to space stations. As recent research which we conducted in collaboration with the icon scholar Wendy Salmond shows, this is sometimes at the request of the Patriarch of the Russian Orthodox church. The returned icons are not sold but distributed to churches.
↑Lewis, Cathleen S. (2013). "Muslims in Space: Observing Religious Rites in a New Environment". Astropolitics (dalam bahasa Inggris). 11 (1–2): 108–115. doi:10.1080/14777622.2013.802622.
↑Abdul Haq, Muhamad Adib (2022). "Problems of Prayer Time and Qibla Direction in Outer Space". Al-Hilal: Journal of Islamic Astronomy (dalam bahasa Inggris). 4 (2).