Ia merupakan salah satu penguasa Arab yang menentang kekuasaan Turki Usmani pada awal tahun 1900-an. Pada tahun 1921, ia diangkat sebagai emir Trans-Yordania, sebuah negara boneka bentukan Britania Raya, yang memainkan peran strategis untuk kekuasaan Britania di daerah lain seperti Mesir, Irak, dan Palestina.[1]
Selama Perang Dunia II, Emir Abdullah adalah sekutu tepercaya bagi Britania, dan ia juga membantu memberangus huru-hara pro-Blok Poros di Irak.
Pada tahun 1946, Transyordania 'dimerdekakan', dengan Abdullah sebagai pemimpinnya yang mengambil gelar raja.
Semasa Konflik Arab-Israel yang meruyak pada tahun berikutnya, pasukan Yordania menyerang Tepi Barat (termasuk Yerusalem), dan pada tahun 1949, Transyordania berubah nama menjadi Yordania.
Raja Abdullah I dari Yordania dibunuh pada 20 Juli 1951 oleh Mustafa Shukri Ashu, seorang pemuda Palestina yang terkait dengan kelompok nasionalis Arab yang tak menghendakinya membuat perjanjian damai dengan Israel.. Peristiwa tragis ini terjadi ketika sang raja sedang mengunjungi Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan ditembak dari jarak dekat.