Berisi pengajaran mengenai makna dan hakikat kasih (bahasa Yunani:αγαπηcode: el is deprecated , agape). Merupakan lanjutan dari pembahasan Paulus tentang pertanyaan mengenai karunia rohani. Di sini ia menekankan bahwa memiliki karunia Roh tanpa mempunyai kasih tidak berguna sama sekali (1 Korintus 13:1–3). "Jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31) ialah menjalankan karunia rohani dalam kasih (1 Korintus 13:4–8). Sebagai satu-satunya keadaan di mana karunia rohani dapat memenuhi kehendak Allah, kasih haruslah menjadi prinsip yang mengendalikan semua manifestasi rohani. Karena itu, Paulus menasihati jemaat Korintus untuk "mengejar kasih itu dan berusaha memperoleh karunia Roh" (1 Korintus 14:1). Mereka harus dengan sungguh-sungguh menginginkan hal-hal dari Roh karena mereka dengan tulus ingin menolong, menghibur, dan memberkati orang lain dalam hidup ini.[5]
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.[6]
Penyanyi Amerika Serikat, Bob Dylan mengutip terjemahan Inggris ayat 1 ini dalam rangkaian yang berbeda di dalam lagunya 'Dignity': "I heard the tongues of angels and the tongues of men... wasn't any difference to me." (Aku telah mendengar bahasa-bahasa malaikat dan bahasa-bahasa manusia... tidak ada perbedaan bagiku")[7]
Ayat 7
"Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."[8]
"Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu."[9]
Presiden Amerika SerikatBarack Obama merujuk kepada ayat 11 dari pasal ini dalam pidato pelantikannya sebagai presiden ("New Birth of Freedom" inaugural address) pada tanggal 20 Januari 2009: "Kita tetap merupakan bangsa yang muda, tetapi dalam kata-kata Kitab Suci, waktunya telah tiba untuk meninggalkan sifat kanak-kanak".[10]
Ayat 13
"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."[11]
Bahasa Yunani: νυνι δε μενει πιστις ελπις αγαπη τα τρια ταυτα μειζων δε τουτων η αγαπη
Bahasa Inggris: "And now faith, hope, and love abide, these three; and the greatest of these is love." (NRSV)
Jelas dari pasal ini bahwa Allah memuliakan sifat serupa dengan YesusKristus lebih daripada pelayanan, iman atau pemilikan karunia rohani.
Allah menghargai dan menekankan sifat hidup yang bertindak dalam kasih, kesabaran (1 Korintus 13:4), kemurahan hati (1 Korintus 13:4), tidak mencari keuntungan diri sendiri (1 Korintus 13:5), tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran (1 Korintus 13:6), kejujuran (1 Korintus 13:6), dan sabar menanggung segala sesuatu (1 Korintus 13:7), jauh lebih tinggi daripada iman yang memindahkan gunung atau melakukan pekerjaan besar dalam jemaat (1 Korintus 13:1–2,8,13).
Yang paling besar dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang besar dalam kesalehan batin dan kasih bagi Allah, bukan mereka yang besar dengan prestasi lahiriah (lihat Lukas 22:24–30).
Kasih Allah yang dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus selalu lebih besar dari iman, pengharapan, atau sesuatu yang lain (Roma 5:5).[5]
Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt mengatakan sumpah pada pelantikannya sebagai presiden tahun 1933, sambil meletakkan tangannya di atas Alkitab keluarga yang terbuka pada halaman berisi 1 Korintus 13.
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 979-415-905-0.
↑"Barack Obama's Inaugural Address". The New York Times. 20 January 2009. Diakses tanggal 23 December 2009. We remain a young nation, but in the words of Scripture, the time has come to set aside childish things (Kita tetap merupakan bangsa yang muda, tetapi dalam kata-kata Kitab Suci, waktunya telah tiba untuk meninggalkan sifat kanak-kanak).