Celakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan![4]
Setelah menghukum bangsa-bangsa lainnya, Zefanya kembali lagi kepada dosa-dosa Yerusalem dan umat Allah. Mereka kini menjadi umat yang menentang Allah dan hukum-Nya. Kebobrokan moral telah memasuki setiap lapisan masyarakat, dan orang di mana-mana menolak untuk mendengarkan nabi-nabi Allah yang sejati.[5]
Ayat 5
Tetapi TUHAN adil di tengah-tengahnya, tidak berbuat kelaliman. Pagi demi pagi Ia memberi hukum-Nya; itu tidak pernah ketinggalan pada waktu fajar. Namun, orang lalim tidak kenal malu![6]
Walaupun manusia gagal dan jatuh ke dalam dosa, Allah sendiri tetap benar dan tidak pernah melakukan kesalahan; kebenaran itu memang merupakan sifat-Nya.
1) Tuhan Allah selalu jujur, benar, dan adil di dalam segala jalan-Nya (bandingkan Ulangan 32:4). Kita harus mempertahankan iman kepada kebenaran-Nya yang tidak pernah gagal.
2) Walaupun kita mungkin mengalami hal-hal yang tidak dapat kita mengerti, kita harus tetap yakin bahwa kasih dan kesetiaan-Nya kepada kita tidak akan pernah berhenti.[5]
Ayat 9
"Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu."[7]
Zefanya kini beralih kepada rencana Allah untuk menebus bangsa-bangsa yang telah dibersihkan melalui hukuman. Mereka suatu hari akan didamaikan kembali dengan Allah, memanggil nama-Nya dan beribadah kepada-Nya.[5]
Ayat 16
"Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu."[8]
Dikutip dalam Ibrani 12:12: "...kuatkanlah tangan yang lemah"
Ayat 17
"TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan.
Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya,
Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,"[9]
"pahlawan yang memberi kemenangan" diterjemahkan dari bahasa Ibrani: גבור יושיע gi-bōr yō-shî-a‘. Kata "gibor" (= "perkasa"), di sini merupakan hakekat Allah, digunakan pada Yesaya 9:6 sebagai salah satu sebutan untuk Mesias, yang "mempunyai segala kuasa di sorga dan di bumi"; sedangkan kata "yoshia" mempunyai akar kata kerja "yasha" (="menyelamatkan") yang sama dengan "Yesus" (="ia menyelamatkan" atau "Juruselamat"), karena YesusKristus, yang akan berada di tengah umat-Nya, dan di depan memimpin mereka, akan menyelamatkan umat dari musuh-musuh mereka (si jahat) dan menganugerahkan keselamatan.[10]
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857