Tari Zapin Kote menghadirkan gerakanan yang cenderung lebih energik, volume gerak kaki yang lebih lebar disertai loncatan-loncatan serta penekanan-penekanan pada gerakannya. Tarian ini disajikan dalam tiga tahap, yakni tahap pembuka, tahap tengah (isi), serta tahap akhir sebagai penutup. Tari Zapin Kote merupakan tarian yang lahir dan berkembang di Lingga tepatnya di Desa Kote Kecamatan Singkep Pesisir Kabupaten Lingga. Pada awalnya tari Zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki saja, tetapi seiring perkembangan zaman, Tari Zapin ini ditarikan juga oleh perempuan. Tari Zapin Kote memiliki simbol dan makna luas yang sangat dekat dengan simbol dan makna kehidupan sosial, pendidikan, adat istiadat melayu yang tidak lepas dengan simbol dan makna yang berkaitan dengan ketuhanan (religi).[2]
Langkah Zapin Kote terdiri dari empat langkah, setiap geraknya melambangkan sifat Rasul (shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh). Langkah ini merupakan syariat yang bertalian dengan ruh yang menegakkannya. Empat langkah tersebut terbagi lagi dalam beberapa gerakan yaitu gerak hormat pembukaan, gerak sembah, sembah alip biasa, gerak bunga alip, gerak pusing, gerak siku keluang, gerak sud mundur, gerak pecah delapan, gerak sud mundur, gerak pecah delapan, gerak geliat, gerak pusing jadi, gerak tongkah, gerak ayam patah, gerak seribut, gerak pecah delapan sud, gerak minta tahto, gerak tahto, dan diakhiri dengan gerak sembah kembali.[2]
Sejarah Tari Zapin di Indonesia
Masuknya ajaran Islam di daerah Melayu membawa perubahan dalam segi ajaran agama dan juga kebudayaan. Pengaruh kebudayaan Arab turut memengaruhi kebudayaan Melayu seperti penggunaan aksara, bahasa, seni, dan gelar kepada raja. Hal ini dikarenakan ajaran Islam berhubungan erat dengan kebudayaan Arab dan bermula dari wilayah Arab. Seni tari zapin termasuk seni budaya yang dibawa oleh orang-orang Islam dari wilayah Arab ke alam Melayu. Para pendakwah, pedagang atau pun mereka yang mempunyai tujuan tertentu dari timur tengah mempunyai peran penting dalam masuknya seni tari zapin ke bandar-bandar perdagangan dan pusat kerajaan di alam Melayu. Seni tari zapin yang dibawa oleh orang-orang dari timur tengah kemudian mendapatkan tempat di hati orang-orang Melayu dan selanjutnya berkembang pesat ditengah-tengah masyarakat. Seni tari zapin di Melayu kemudian dikembangkan lagi sesuai dengan ide-ide atau pun selera lokal yang dihasilkan dalam bentuk gerak langkah dan iringan lagu-lagu hasil karya cipta seniman Melayu.[1]
Pusat-pusat kerajaan atau bandar-bandar perdagangan di alam Melayu sangat mudah bersinggungan dengan seni budaya dari timur tengah. Dari pusat kerajaan atau pun bandar perdagangan kemudian menyebar ke wilayah-wilayah sekitar. Kecintaan masyarakat pada seni dan kebutuhan masyarakat pada hiburan maupun hal-hal yang berhubungan dengan seni religius telah mengakibatkan seni tari zapin dengan mudah berkembang di tengah-tengah masyarakat Melayu. Di samping itu juga peran penguasa atau bangsawan sangat penting dalam mendorong tumbuh berkembangnya seni budaya sehingga dengan mudah berkembang dan diterima masyarakat.[1]
Di Kabupaten Lingga, seni tari zapin menjadi bagian dari seni budaya masyarakat Kabupaten Lingga. Seni tari zapin di duga mulai masuk ke wilayah Lingga pada zaman Kerajaan Lingga-Riau. Diperkirakan seni tari zapin mulai berkembang pada zaman sultan Lingga-Riau terakhir Abdul Rahman Mu’azzam Syah (1884-1911). Selepas Kerajaan Lingga-Riau berakhir, seni tari zapin terus berkembang di Daik bekas pusat kerajaan dan di pulau Penyengat di Riau. Seni tari zapin di Daik kemudian berkembangnya juga di wilayah pulau Singkep tepatnya di Desa Kute, Kecamatan Singkep Pesisir.[1]
Diperkirakan pada era tahun 20-an atau 30-an seni tari zapin di Daik dibawa masuk oleh Raja Muhammad dan Raja Muhammad Sumbing ke Desa Kute. Menurut cerita, di Desa Kute Raja Muhammad Sumbing mengajarkan masyarakat seni tari zapin. Salah seorang muridnya bernama Muhammad Yasin. Selanjutnya Muhammad Yasin melanjutkan mengajarkan seni tari zapin kepada masyarakat di Desa Kute. Pada masa kini dapat ditemukan murid dari Muhammad Yasin yakni Zaini seorang laki-laki penduduk Desa Kute yang berumur 65 tahun. Di usia tuanya Zaini masih ingat setiap ragam gerak tari zapin yang dipelajari dari gurunya dan dia masih mampu untuk menari. Sebagai orang yang faham seni tari zapin, Zaini juga turut mengajar kepada masyarakat yang berminat. Dalam tradisi belajar zapin di Desa Kute, setiap murid yang telah selesai belajar zapin, akan mengadakan khatam belajar yakni acara doa selamat. Pada awalnya seni tari zapin di Desa Kute hanya disebut tari zapin namun sejak berkembang dan menjadi bagian dari seni budaya Melayu khas di Desa Kute, pada masa kini disebut dengan Zapin Kote.[1]