Zaidin menamatkan pendidikan sekolah dasar pada 1935, sekolah menengah pertama pada 1938, Gyu Jon pada 1945. Pada 1947 hingga 1948 ia aktif melawan Belanda dalam Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II. Pada 1950 hingga 1956 ia aktif dalam menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Sulawesi Selatan dan Aceh. Ia pernah bekerja sebagai staf ahli Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Barat. Pada 1972 hingga 1976 ia menjabat Ketua Umum Angkatan '45, pengurus Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) dan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat.[2]
Pada tahun 1997, di usianya yang ke-77, Zaidin bersama Forum Sastra Temening meluncurkan buku Hati Prajurit Zaidin Bakry yang menghimpun seluruh karya sastranya. Buku tersebut mendapatkan perhatian dan dikupas dalam suatu forum di Padang pada April 1997 yang dihadiri sekitar 100 orang peminat sastra, di antaranya A.A. Navis, Korrie Layun Rampan, Mursal Esten, dan lainnya. Buku tersebut memuat 19 sajak, satu cerpen, dan satu esai, dengan sajak Merapi sebagai karya terbaiknya.[1]
Zaidin Bakry meninggal dunia pada 23 Mei 2007 pada usia 87 tahun. Jenazah pejuang Angkatan '45 itu kemudian dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Lolong, Padang, Sumatera Barat.