Pada tahun 1967, setelah melancarkan sebuah kudeta, junta Yunani membubarkan demokrasi, sehingga mulai bersitegang dengan Majelis Eropa.[2][3] Pada September 1967, Denmark, Norwegia, Swedia, dan Belanda melayangkan gugatan terhadap Yunani di Komisi Eropa perihal pelanggaran hak asasi manusia oleh junta Yunani. Majelis Parlemen Majelis Eropa juga mengangkat seorang pelapor, yaitu Max van der Stoel, untuk menyelidiki keadaan di Yunani. Pada 12 Desember 1969, setelah laporan komisi mengenai perkara Yunani bocor ke umum, Yunani keluar dari Majelis Eropa.[2] Setelah jatuhnya rezim militer di Yunani, Yunani bergabung kembali dengan Majelis Eropa pada 28 November 1974.[4] Hingga kini Yunani adalah satu-satunya negara yang pernah keluar dari Majelis Eropa.[5]
Pada 2020, Yunani memegang kepresidenan Majelis Eropa dari Mei hingga November.[9] Pada tahun itu, pemerintah Yunani menominasikan Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa sebagai penerima Hadiah Nobel.[10]
↑Martínez-Torrón, Javier; Navarro-Valls, Rafael (2004). "The Protection of Religious Freedom in the System of the Council of Europe". Facilitating Freedom of Religion or Belief: A Deskbook (dalam bahasa Inggris). Springer Netherlands. hlm.209–238. ISBN978-94-017-5616-7.