Peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam pasal ini terjadi pada masa hari-hari perayaan Pondok Daun, berdasarkan Yohanes 7:2, sampai hari terakhirnya (Yohanes 7:37), yaitu sekitar 6 bulan sebelum masa sengsara-Nya yang jatuh pada hari-hari perayaan Paskah Yahudi pada tahun berikutnya.
Ayat 5
Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya. (TB)[3]
"Saudara-saudara-Nya (Yesus)": termasuk Yakobus, adik laki-laki Yesus Kristus yang kemudian menjadi rasul dan pemimpin gereja perdana di Yerusalem. Adanya catatan ini berdasarkan prinsip permaluan tentunya akan menyudutkan Yakobus kalau tidak benar-benar terjadi demikian, sehingga umumnya para sarjana Alkitab percaya ayat ini otentik.[4]
Ayat 37
Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!" (TB)[5]
Ayat 38
[Yesus berseru:] "Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." (TB)[6]
Yesus menunjuk kepada "Kitab Suci" (Alkitab) karena itulah Firman Bapa-Nya dan dengan demikian merupakan kekuasaan tertinggi untuk kehidupan dan ajaran-Nya. Alkitab juga merupakan kekuasaan tertinggi bagi orang Kristen karena Allah sendiri yang berhak menentukan standar-standar kelakuan kita. Dia telah memilih untuk melaksanakan kekuasaan ini dengan memberitahukan kebenaran-Nya dalam Alkitab. Alkitab, selaku penyataan Allah, memiliki kekuasaan yang sama seolah-olah Allah sendiri yang berbicara kepada kita secara langsung
1) Alkitab yang diilhamkan merupakan kekuasaan tertinggi bagi setiap orang percaya. Tradisi kegerejaan, nubuat, penyataan-penyataan yang baru, ajaran dan gagasan manusia harus diuji sesuai dengan Alkitab dan tidak pernah boleh diangkat sehingga menjadi sejajar dengan kekuasaan Alkitab (bandingkan Markus 7:13; Kolose 2:8; 1 Petrus 1:18–19).
2) Mengaku kesetiaan yang sama atau lebih kepada kekuasaan lain dari Allah dan Firman-Nya yang diilhamkan berarti mengundurkan diri dari iman alkitabiah dan ketuhanan Kristus. Mengatakan bahwa ada orang, lembaga, pengakuan kepercayaan, atau gereja yang mempunyai kekuasaan yang sama atau lebih tinggi dari penyataan Allah yang diilhamkan adalah sama dengan penyembahan berhala. Jadi, semua orang yang tidak bersedia menyerahkan kepercayaan mereka kepada kekuasaan PB menempatkan diri mereka di luar kekristenan alkitabiah dan keselamatan dalam Kristus.[7]
Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya. (TB),[9]
Kalimat ini masih berlanjut di ayat berikutnya Yohanes 8:1 dan termasuk dalam bagian yang dalam bahasa Latin disebut "Pericope Adulteræ". Di ayat tersebut tertulis "tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun". Jadi, ketika orang-orang pulang ke rumah masing-masing, YesusKristus tidak mempunyai tempat untuk "meletakkan kepala-Nya" (lihat Lukas 9:58) dan melewatkan malam hari itu di Bukit Zaitun.[10]
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN:9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN:9794159050.