Sebuah papan tertulis “AKAN SEGERA DI BANGUN SEBUAH MESJID DI TANAH INI” nampak terpatok di lahan yang cukup strategis. Fuad tokoh utama kita baru saja mematok tanah waris yang diberikan oleh orangtuanya yang memiliki cita-cita untuk membangun sebuah mesjid di kampungnya. Berbekal amanat dan niat yang bulat dan tulus, Fuad yang berkehidupan sederhana tetapi bersahaja dan sangat beragama yakin bisa mewujudkan cita-cita orangtuanya.
Patok yang didirikan Fuad di atas tanahnya, membuat Pak Bahrudin, tetangga Fuad yang sangat hobby menggunjingkan Fuad menjadi bahan cemoohan, Fuad dianggap sok dermawan mau mengihlaskan tanah warisnya untuk membangun mesjid, padahal Fuad sendiri keadaan ekonomi pas-pasan! Daripada buat bikin mesjid, lebih baik, untuk mereka makan! Kalo memang nggak punya uang, jual saja tanah warisannya, kebetulan ada rekan bisnis Bahrudin yang mengincar tanah tersebut untuk dibikin ruko, dan kalo berhasil Bahrudin akan mendapatkan uang sebagai perantara, yang niatnya akan Bahrudin gunakan untuk pergi haji. Tapi Fuad tetap tidak akan menjual tanah itu. karena dia tetap pada pendiriannya ingin mendirikan mesjid, Bahrudin semakin kesal dengan sikap Fuad. Dia pun semakin meledek Fuad yang gila popularitas. Disangkanya dengan mendirikan mesjid, Fuad akan menjadi pahlawan untuk warga kampung mereka. Tapi gunjingan Bahrudin tidak menyurutkan niat Fuad.