Meskipun belum lama memeluk agama Kristen, Wilgils memasukkan anaknya sebagai oblat ke biara Ripon,[2] lalu meninggalkan kehidupan duniawi, dan membangun sebuah oratorium kecil yang dibaktikan kepada Santo Andreas di sekitar muara teluk Humber. Hadiah tanah dari raja dan kaum bangsawan setempat memampukan Wirgils untuk membangun sebuah gereja yang kelak dipimpin Alkuinus.
Wilibrordus membesar dalam asuhan Wilfridus, Uskup York, dan kemudian hari bergabung menjadi anggota tarekat Benediktin. Dari umur 20 sampai 32 tahun, dia tinggal di biara Rath Melsigi[a], Kabupaten Carlow, Irlandia Selatan, salah satu pusat kegiatan belajar-mengajar di Eropa pada abad ke-7.
Berkarya di Frislandia
Di biara Rath Melsigi, Wilibrordus berguru kepada Egbertus dari Ripon, rahib yang mengutusnya bersama sebelas misionaris lain untuk mengkristenkan masyarakat pagan Fris di pesisir Laut Utara atas permintaan Pipin asal Heristal, Wali IstanaAustrasia yang secara nominal dipertuan di daerah itu. Wilibrordus dua kali melawat ke ke Roma. Kedua-dua lawatan tersebut memiliki nilai kesejarahan yang penting.
Menurut Beda, Wilibrordus bukanlah satu-satunya orang Saksen yang pernah berkunjung ke Roma, tetapi caranya meriwayatkan lawatan dan tujuan lawatan Wilibrordus patut dicermati. Berbeda dari orang lain, Wilibrordus melawat bukan untuk berziarah ke pusara Rasul Petrus, Rasul Paulus, maupun para martir. Wilibrordus justru "bergegas-gegas menuju Roma, tempat Paus Sergius bersemayam di atas singgasana rasuliah, supaya dia dapat menjalankan tugas yang diidam-idamkan, yakni mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain, dengan izin dan restu beliau".[3] Dengan demikian, Wilibrordus menghadap Sri Paus bukan sebagai seorang peziarah, melainkan secara khusus sebagai seorang misionaris. Dalam lawatan kedua, pada tanggal 21 November 695, di gereja Santa Cecilia in Trastevere, Paus Sergius I memberinya palium dan menahbiskannya menjadi uskup bangsa Fris.[2] Dia kembali ke Frislandia untuk mewartakan Injil dan membangun gereja-gereja, antara lain sebuah biara di Utrecht, tempat dia membangun katedralnya. Wilibrordus terbilang sebagai Uskup Utrecht yang pertama.
Pada tahun 698, Wilibrordus membangun biara di atas lahan bekas sebuah vila Romawi di Echternach, yang dihibahkan kepadanya oleh ibu mertua Pipin, yakni Irmina asal Oeren, istri Hugobert, seneskal merangkap bupati istana Austasia. Sesudah Hugobert tutup usia, Irmina membangun sebuah biara Benediktin di Trier bagi kaum hawa. Saat komunitas biarawati yang dipimpinnya berjuang melawan ancaman wabah penyakit, Wilibrordus datang membantu. Sesudah wabah berlalu, Irmina menghibahkan tanah di Echternach kepada Wilibrordus supaya dapat membangun biaranya sendiri.[4]
Pipin asal Heristal wafat pada tahun 714. Pada tahun 716, Radbod, raja orang Fris yang beragama pagan merebut kembali Frislandia, membakar gereja-gereja, dan membunuh banyak misionaris.[5] Wilibrordus dan rahib-rahibnya terpaksa mengungsi. Sesudah Radbod mangkat pada tahun 719, Wilibrordus kembali berkarya di Frislandia di bawah payung perlindungan Karel Martel. Dia memperbaiki kerusakan dengan bantuan Bonifasius.[2]
Wilibrordus tutup usia pada tanggal 7 November 739, saat berumur 81 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Echternach, sesuai dengan wasiat terakhirnya. Tidak lama kemudian, namanya sudah santer disebut-sebut sebagai seorang Santo. Perigi-perigi Wilibrordus, yang menandai rute-rute yang pernah ditempuhnya saat menjalankan karya misi, diziarahi orang-orang yang mencari berkah kesembuhan dari berbagai macam penyakit saraf, khususnya penyakit saraf pada kanak-kanak.[4]
Ada banyak mukjizat dan relikui yang dinisbatkan kepadanya. Relikuinya pernah dipindahkan dengan pawai yang sangat meriah. "Lima orang uskup berpakaian ibadat lengkap memimpin pelaksanaannya, dan rombongan pawai tari-tariannya dianggotai 2 orang garda Swis, 16 orang pengusung panji-panji, 3.045 orang biduan, 136 orang imam, 426 orang pemusik, 15.085 orang penari, serta 2.032 orang pelakon".[8]Pawai tari-tarian masih terus digelar setiap tahun di Echternach pada hari Selasa Putih. Pawai yang menarik ribuan partisipan dan ribuan penonton ini digelar untuk mengenang orang kudus yang kerap disebut sebagai Rasul Beneluks (Belgia-Nederland-Luksemburg).[4]
Di Grevelingen, Prancis Utara, yang konon adalah tempat Wilibrordus mendarat sesudah menyeberangi selat Inggris dalam rangka mewartakan Injil kepada masyarakat Fris, berdiri sebuah gereja yang dibaktikan kepada Wilibrordus. Kota tua Grevelingen tumbuh kira-kira sesudah tahun 800 di sekitar kapel peringatan karya misi Wilibrordus.[9][10]
Riwayat hidup Wilibrordus ditulis oleh Alkuinus dan didedikasikan kepada abas biara Echternach. Kemungkinan besar isi riwayat hidup tersebut disarikan Alkuinus dari riwayat hidup Wilibrordus anggitan seorang rahib Inggris yang kini sudah hilang.[13] Beda juga menyebut Wilibrordus di dalam risalahnya.
Belum ada karya tulis Wilibrordus yang ditemukan selain catatan pinggir pada Penanggalan Echternach yang memuat beberapa data kronologis.[14]Buku Injil Echternach, salinan Injil-Injil (koleksi Bibliothèque nationale, Paris, 9389) yang sudah jamak dikait-kaitkan dengan Wilibrordus, adalah sebuah kodeks yang tidak diragukan lagi dibawa Wilibrordus dari Irlandia.
Pada tahun 752/753, Bonifasius mengirimkan sepucuk surat kepada Paus Stefanus II, yang memuat pernyataannya bahwa Wilibrordus menghancurkan punden-punden dan kuil-kuil pagan di Frislandia.[15]
Riwayat Hidup Wilibrordus anggitan Alkuinus memuat dua kisah tentang tindakan Wilibrordus terhadap tempat ibadat pagan. Di dalam kisah yang pertama, saat tiba bersama rekan-rekannya di Walcheren, Negeri Belanda, Wilibrordus meremukkan sebuah arca agama kuno.[16] Di dalam kisah yang kedua, Wilibrordus tiba di sebuah pulau bernama Fositeslandia (kemungkinan besar Helgoland) tempat pemujaan dewa pagan Fosite. Di pulau itu, Wilibrordus melanggar pantangan-pantangan Fosite dengan menimba air dari perigi keramat untuk membaptis orang, dan menyembelih sapi keramat untuk disantap orang.[17][18]
↑Rath Melsigi, yang turun-temurun dianggap sama dengan Mellifont di Kabupaten Louth, Irlandia, belum dapat ditentukan lokasinya, sekalipun sangat terkenal pada abad ke-7.[19]
Paul Dräger (ed.), Alkuin, Vita sancti Willibrordi; Das Leben des heiligen Willibrord (Trier: Kliomedia, 2008)
Bacaan tambahan
Story, J. (2012). "Bede, Willibrord and the Letters of Pope Honorius on the genesis of the archbishopric of York". English Historical Review. cxxvii (527): 783–818. doi:10.1093/ehr/ces142.