Salah satu gejala Wabah Yustinianus adalah nekrosis tangan.
Wabah Yustinianus adalah pandemi yang menyerang Kekaisaran Romawi Timur (Kekaisaran Bizantium), termasuk ibu kotanya Konstantinopel, pada tahun 541–542 M hingga 750 M. Ahli mengatakan bahwa ini merupakan pandemi pertama yang bersifat global, dengan jumlah korban mencapai jutaan orang. Menurut penelitian, penyebabnya adalah Yersinia pestis, organisme yang menyebabkan penyakit pes.[1][2]
Sampai sekitar tahun 750, wabah ini kembali di tiap generasi di Mediterania. Gelombang penyakit juga berpengaruh terhadap masa depan sejarah Eropa. Sejarawan modern menamai wabah ini berdasarkan nama Kaisar Romawi Yustinianus I, yang berkuasa pada saat itu. Yustinianus I juga mengidap penyakit tersebut, tetapi merupakan satu dari sedikit orang yang berhasil bertahan hidup.[4]
Sejarah
Organisme Yersinia pestis yang mengakibatkan wabah ini dideteksi pada DNA manusia dari era Neolitikum akhir (4500-2000 SM).[4]
Catatan sejarah mengenai wabah ini mulai muncul pada sekitar 541-542 M pada masa kekuasaan Yustinianus I (526-565 M).[4][5] Setidaknya ada 3 orang yang menulis catatan sejarah tentang wabah ini, yakni Prokopios, Yohanes dari Ephesus, dan Evagrius Scholasticus. Karena ada beberapa pandemi pes bubo yang tercatat dalam sejarah, sejawaran kerap menyebut wabah ini sebagai "Pandemi Pes Pertama" untuk membedakannya dari "Pandemi Pes Kedua" (Wabah Hitam) dan "Pandemi Pes Ketiga" pada abad ke-19.[4]
Diperkirakan wabah Yustinianus ini berasal dari wilayah kekuasaan Bizantium bagian timur. Prokopios berasumsi bahwa wabah berasal dari Mesir, sementara Evagrius menganggap wabah berasal dari Ethiopia. Wabah ini kemudian masuk Konstantinopel sekitar 542, lalu menyebar ke Antiokhia dan Suriah. Tak membutuhkan waktu lama sebelum wabah ini menyebar ke sebagian besar wilayah Eropa, hingga meluluhlantakkan Inggris dan Irlandia pada 664.[5]
Yohanes dan Prokopius mendeskripsikan bahwa penyakit ini biasanya didahului oleh halusinasi. Di hari pertama, pasien akan mengalami demam, tanpa inflamasi, dan merasa lelah. Kemudian, akan muncul bubo (kelenjar bengkak) di pangkal paha, ketiak, atau telinga, yang disertai dengan demam tinggi. Namun, kemunculan bubo tidak selalu terjadi; pada beberapa kasus pasien mengalami mata berdarah dan bengkak, diikuti sakit tengkorokan; pada kasus lainnya pasien menderita diare hebat. Setelah kemunculan bubo, pasien bisa mengalami koma atau delirium. Gejala lain adalah kemunculan pustula hitam yang dapat menyebabkan kematian langsung.[5]
Deskripsi dari Prokopios dan Evagrius cenderung menggambarkan wabah 542 adalah pes bubo, tetapi kemungkinan dari varian yang menyebabkan komplikasi. Evagrius mendeskripsikan wabah ini bisa ditularkan ke sesama menusia, yang menunjukkan elemen penularan yang kuat.[5]
Orent, Wendy. Plague, The Mysterious Past and Terrifying Future of the World's Most Dangerous Disease., Simon & Schuster, Inc., New York, NY, 2004, ISBN 0-7432-3685-8.
Edward Walford, translator, The Ecclesiastical History of Evagrius: A History of the Church from AD 431 to AD 594, 1846. Reprinted 2008. Evolution Publishing, ISBN 978-1-889758-88-6. —The author, Evagrius, was himself stricken by the plague as a child and lost several family members to it.
Procopius. History of the Wars, Books I and II (The Persian War). Trans. H. B. Dewing. Vol. 1. Cambridge: Loeb-Harvard UP, 1954.—Chapters XXII and XXIII of Book II (pages 451–473) are Procopius's famous description of the Plague of Justinian. This includes the famous statistic of 10,000 people per day dying in Constantinople (page 465).