Biawak maluku (Varanusindicus) merupakan spesies biawak yang tersebar di wilayah Maluku, Papua, Papua Nugini, serta bagian utara Australia. Spesies ini termasuk dalam famili Varanidae dan dikenal karena ukuran tubuhnya yang besar serta kemampuan adaptasinya yang unik. Biawak maluku merupakan salah satu anggota terbesar dalam genus Varanus, dengan panjang tubuh yang dapat mencapai 1,5–2 meter. Tubuhnya yang kokoh memungkinkan spesies ini bergerak dengan baik di lingkungan darat maupun perairan.
Distribusi dan habitat
Biawak maluku dapat ditemukan di pulau Pepaya dan area permukiman serta hutan primer di sepanjang tepi Sungai Korido pada ketinggian sekitar 0 meter dpl. Spesies ini bersifat diurnal, dengan aktivitas utama berlangsung pada siang hari.[4]
Biawak maluku cenderung memilih kawasan yang lebih terbuka dibandingkan hutan lebat. Spesies ini memiliki kelincahan tinggi, dimana mereka mampu memanjat dengan sangat baik, menyelam, berenang, bahkan melompat dari ketinggian. Mereka juga dikenal cukup terampil dalam menggali. Di beberapa wilayah, biawak ini menghabiskan banyak waktunya di air, baik untuk beristirahat maupun mencari makan. Tempat berlindungnya beragam, yaitu di atas pohon, di balik batu, di dalam rongga batang atau cabang pohon, dan sesekali di area yang lebih kering atau berada pada ketinggian.[5]
Morfologi
Biawak maluku memiliki kisaran berat antara 500 gram hingga 1.900 gram, dengan panjang tubuh yang dapat mencapai 50 hingga 200 cm.[5]
Sisik dorsal pada bagian kepala berbentuk segi lima, dengan sisik di area moncong berukuran lebih besar dibandingkan yang berada di pelipis. Sisik ventral pada kepala berbentuk oval, berukuran relatif kecil, hampir seragam, tersebar merata, dan memiliki tekstur yang lembut. Sisik nuchal berukuran agak besar, berbentuk segi lima, berjumlah sekitar empat buah, terletak di bagian belakang kepala, dan tampak jelas. Pada bagian atas mata, sisiknya melebar dan tersusun secara simetris dalam empat hingga lima baris melintang. Sisik di punggung berbentuk oval, berukuran cukup besar, bertekstur lembut, dan tersebar merata. Sisik pada bagian perut berukuran lebih kecil, berbentuk oval, dengan tekstur halus dan licin. Sementara itu, sisik ekor juga berbentuk oval, berukuran kecil, dan memiliki permukaan yang licin.[6]
Warna dasar pada kepala, tubuh, punggung, perut, dan ekor didominasi oleh hitam dengan bintik-bintik kuning yang tersebar merata. Bagian perut memiliki warna putih kekuningan. Sementara itu, ekor berwarna hitam dengan pola garis kuning yang muncul selang-seling. Demikian pula pada bagian kaki, biawak maluku menampilkan dominasi warna hitam dengan bintik-bintik kuning yang tersebar secara merata. Ekor memiliki bentuk yang pipih, dengan bagian atas yang keras, sangat kuat, dan panjangnya melampaui panjang kepala serta tubuh. Panjang ekor pada biawak maluku bisa mencapai sekitar 7,5 kali panjang kepala, sedangkan panjang tubuhnya sekitar 2,5 kali panjang kepala.[6]
Status konservasi
Sejak tahun 2010, biawak maluku dikategorikan sebagai risiko rendah (Least Concern) dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species versi 2011.2, dan tercantum dalam Apendiks II CITES.[7]
↑Daudin, F.M. (1802). Histoire Naturelle, génerale et particulièredes reptiles, ouvrage faisant suite, a l'histoiure naturelle, générale et particulière composée par Leclerc de Buffon, et redigée par C. S. Sonnini (dalam bahasa French). Vol.3. Paris. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Hellen, Kurniati (2003). "Amfibia dan Reptilia Cagar Alam Gunung Supiori, Biak-numfor: Daerah Korido dan Sekitarnya". Berita Bilogi. 6 (5): 691–697.
12"GISD". www.iucngisd.org. Diakses tanggal 2025-12-16.