Toona sureni adalah spesies pohon dari famili mahoni (Meliaceae). Pohon ini berasal dari kawasan Asia Selatan, Indochina, Malesia, Tiongkok, dan Papua Nugini. Spesies ini dikenal dengan berbagai nama umum seperti suren toon, surian, limpaga, iron redwood, atau red cedar (meskipun nama terakhir juga digunakan untuk beberapa jenis pohon lain). Di beberapa negara, pohon ini juga disebut sebagai mahoni Indonesia atau mahoni Vietnam. Toona sureni dikenal sebagai salah satu pohon penghasil kayu bernilai tinggi di kawasan Asia tropis.[2][3]
Taksonomi
Toona sureni termasuk dalam genus Toona, famili Meliaceae.[4] Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1823 oleh ahli botani Jerman-Belanda, Carl Ludwig Blume, dengan nama Swietenia sureni.[5] Kemudian, pada tahun 1917, ahli botani Amerika Elmer Drew Merrill memindahkannya ke dalam genus Toona, sehingga nama ilmiahnya berubah menjadi Toona sureni.[6]
Deskripsi
Toona sureni merupakan pohon berukuran sedang hingga besar, dengan tinggi yang dapat mencapai 40 hingga 60 meter dan diameter batang antara 100 hingga 300 sentimeter. Bagian pangkal batang memiliki akar banir (buttress roots) yang dapat mencapai tinggi hingga 2 meter. Batangnya tumbuh lurus tanpa cabang hingga ketinggian 20 hingga 30 meter, menjadikannya ideal untuk bahan kayu komersial.[7]
Kulit batangnya berserat dan terkelupas, dengan banyak retakan vertikal. Warnanya bervariasi dari cokelat muda hingga keputihan atau cokelat keabu-abuan. Ketika dipotong, kulit dan kayu bagian luar mengeluarkan aroma harum menyerupai kayu manis. Getahnya tidak berwarna dan tidak berubah meski terpapar udara. Kayu gubal (sapwood) berwarna putih hingga merah muda pucat, sedangkan kayu terasnya (heartwood) berwarna merah muda hingga cokelat kemerahan.[8] Daunnya majemuk menyirip, besar, dan tersusun spiral di ujung ranting. Panjang daun berkisar antara 29 hingga 84 sentimeter. Anak daunnya berbentuk lanset hingga lanset lonjong, berjumlah antara 6 hingga 9 pasang, dan kadang mencapai 12 pasang. Tulang daun bagian atas dan bawah ditutupi bulu halus.
Bunganya tumbuh di ujung ranting dalam bentuk malai menggantung (paniculate inflorescence) dengan panjang hingga 40 sentimeter. Bunga berukuran kecil (sekitar 4–5 milimeter), beraroma manis, dan bersifat uniseksual, tetapi bunga jantan dan betina terdapat pada satu pohon. Buahnya berupa kapsul tebal seperti kulit, berwarna cokelat, dengan panjang sekitar 25 milimeter. Setiap buah mengandung lebih dari 100 biji. Biji berbentuk lonjong sempit dengan panjang antara 11 hingga 20 milimeter dan memiliki sayap di kedua ujungnya.[9]
Ekologi
Toona sureni merupakan pohon gugur (deciduous) yang merontokkan daunnya pada musim kering, biasanya antara Februari–Maret atau September–Oktober. Pohon ini berbunga dan berbuah dua kali dalam setahun, umumnya pada periode Desember–Februari dan April–September.[4][5]
Spesies ini tumbuh baik di daerah beriklim tropis lembap hingga subtropis, dan sering ditemukan di hutan dataran rendah maupun perbukitan. Karena kualitas kayunya yang kuat, ringan, dan mudah diolah, Toona sureni menjadi salah satu jenis kayu komersial penting di Asia Tenggara, terutama di Indonesia, di mana pohon suren sering digunakan untuk reboisasi, penghijauan lahan, serta bahan bangunan dan furnitur.
Referensi
↑Barstow, M. (2018). "Toona sureni" e.T61804593A61804595. ;