Toona calantas adalah spesies pohon dari famili mahoni (Meliaceae). Pohon ini ditemukan di Indonesia, Filipina, dan Thailand. Populasinya terancam akibat hilangnya habitat alami.[2] Spesies ini dikenal dengan berbagai nama lokal seperti kalantas (atau calantas), lanipga (di wilayah Visayas dan Bikol), ample (di Kepulauan Batanes), bantinan (di Cagayan dan Provinsi Pegunungan), serta danupra (di Zambales dan Ilocos Norte). Dalam perdagangan kayu, Toona calantas sering disebut sebagai Philippine cedar atau Philippine mahogany, meskipun sebutan terakhir juga digunakan untuk jenis-jenis dari marga Shorea yang tidak berkerabat dekat.[3]
Deskripsi dan fenologi
Pohon kalantas dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 25 meter dengan diameter batang hingga 25 sentimeter. Warna kulit batangnya bervariasi dari kuning kecokelatan hingga cokelat tua, sedangkan bagian dalam kulitnya berwarna cokelat muda. Batangnya tumbuh tegak lurus dan silindris. Daunnya tersusun majemuk dan berseling, berbentuk lonjong hingga lanset lebar. Buahnya berupa kapsul berbentuk elipsoid atau memanjang (oblongoid) dengan panjang sekitar 3 hingga 4 sentimeter.[4]
Periode berbunga terjadi antara bulan Juni hingga Agustus, sementara pembentukan buah berlangsung dari September hingga November. Di kawasan Gunung Makiling, Laguna, Filipina, pengumpulan biji biasanya dilakukan pada bulan Februari hingga Maret.[5]
Sebaran, kegunaan, dan status konservasi
Pohon kalantas tumbuh tersebar di berbagai wilayah Filipina, terutama di kelompok pulau Balabac. Spesies ini biasanya ditemukan di perbukitan berhutan pada ketinggian rendah hingga sedang. Kayunya dimanfaatkan untuk membuat kotak, mebel, dan bahan kayu lapis (plywood).[4][5]
Menurut daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature), Toona calantas dikategorikan sebagai Data Deficient, atau belum cukup data untuk menentukan tingkat keterancamannya secara pasti. Namun, laporan lapangan menunjukkan bahwa populasi kalantas mengalami penurunan drastis akibat penebangan liar dan praktik perladangan berpindah (kaingin).[6] Upaya reforestasi telah dilakukan di Filipina untuk memulihkan populasi spesies ini. Salah satu program dilakukan oleh Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina (Department of Environment and Natural Resources), pada masa pemerintahan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo. Dalam salah satu kegiatan simbolis, presiden menanam bibit pohon kalantas sebagai bagian dari kampanye penghijauan nasional, menjadikan kalantas sebagai salah satu jenis pohon unggulan dalam program tersebut.[7]