Gempa besar Kanto dan Perang Dunia Kedua (1923-1945)
Pada awalnya, sekolah ini berlokasi di Kuramae, daerah timur dari Wilayah Tokyo Raya, di mana banyak bengkel perajin telah berdiri sejak era Shōgun. Bangunan-bangunan di kampus Kuramae hancur akibat gempa bumi besar Kantō pada tahun 1923. Pada tahun berikutnya, Sekolah Teknik Tinggi Tokyo pindah dari Kuramae ke lokasi yang sekarang di Ōokayama, pinggiran selatan Wilayah Tokyo Raya. Pada tahun 1929, sekolah ini menjadi Universitas Teknik Tokyo, yang kemudian berganti nama menjadi Tokodai sekitar tahun 1946,[4] dan memperoleh status universitas nasional, yang memungkinkan universitas untuk memberikan gelar. Universitas ini memiliki Laboratorium Penelitian Bahan Bangunan pada tahun 1934, dan lima tahun kemudian, Laboratorium Penelitian Pemanfaatan Sumber Daya dan Laboratorium Penelitian Mesin Presisi dibangun. Laboratorium Riset Industri Keramik dibuat pada tahun 1943, dan satu tahun sebelum Perang Dunia Kedua berakhir, Laboratorium Riset Ilmu Bahan Bakar dan Laboratorium Riset Elektronika didirikan.
Era setelah perang (1946-sekarang)
Setelah Perang Dunia II, sistem pendidikan baru diundangkan pada tahun 1949 dengan Undang-Undang Pendirian Sekolah Nasional, dan Tokodai direorganisasi. Banyak program tiga tahun diubah menjadi program empat tahun dengan dimulainya Sekolah Teknik pada tahun ini. Universitas memulai program pascasarjana di bidang teknik pada tahun 1953. Pada tahun berikutnya, enam laboratorium penelitian diintegrasikan dan direorganisasi menjadi empat laboratorium baru:[5] Laboratorium Penelitian Bahan Bangunan, Laboratorium Penelitian Pemanfaatan Sumber Daya, Laboratorium Presisi dan Kecerdasan, dan Laboratorium Penelitian Industri Keramik, dan Fakultas Teknik berganti nama menjadi Fakultas Sains dan Teknik.
Selama rekonstruksi pasca perang tahun 1950-an, era pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada tahun 1960-an, dan era ekonomi yang agresif menuju Ekonomi Gelembung pada tahun 1980-an, Tokodai terus menyediakan insinyur, peneliti, dan pebisnis terkemuka bagi Jepang. Sejak April 2004, Tokodai telah sebagian diprivatisasi menjadi National University Incorporation of Tokyo Institute of Technology di bawah undang-undang baru[6] yang berlaku untuk semua universitas nasional.
Tokodai saat ini telah memiliki dan mengoperasikan superkomputer kelas dunia Tsubame 2.0,[7] dan membuat terobosan dalam superkonduktivitas suhu tinggi, Tokodai diklaim ragam akademisi sebagai merupakan pusat utama teknologi superkomputer dan penelitian materi terkondensasi di dunia.
Pada tahun 2011, Tokyo Tech merayakan ulang tahun pendiriannya yang ke-130.[8] Pada tahun 2014, Tokyo Tech bergabung dengan konsorsium edX dan membentuk Online Education Development Office (OEDO)—kini bernama Online Content Research and Development (OCRD)—[9] untuk menciptakan MOOCS, yang dihosting di situs web edX.[10]
Selama 130 tahun, Tokyo Tech telah menghasilkan peneliti ilmiah, insinyur, dan banyak pemimpin sosial, termasuk Naoto Kan yang merupakan mantan perdana menteri.