Tio Tek Hong (1877–1965) dulu adalah seorang pebisnis dan eksekutif rekaman asal Hindia Belanda yang paling diingat sebagai pelopor industri perekaman musik di Hindia Belanda dan sebagai pendiri dari Toko Tio Tek Hong, salah satu toserba modern pertama di Hindia Belanda.[1][2][3] Ia juga merupakan orang pertama di Hindia Belanda yang membuat rekaman, yakni pada tahun 1929, untuk lagu Indonesia Raya, yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia.[4][5]
Melalui ayahnya, ia adalah cucu dari pedagang Tio Him dan Thung Eng Nio.[6] Kakak tirinya, Tio Tek Soen, menjabat sebagai Kapitan Cina Batavia, sementara sepupu pertamanya, Tio Tek Ho, adalah Mayor Cina keempat Batavia (menjabat mulai tahun 1896 hingga 1907).[6] Pejabat Cina, yang terdiri dari jabatan Mayor, Kapitan, dan Letnan Cina, dulu adalah bagian dari pemerintah Hindia Belanda yang memegang wewenang administratif dan hukum atas komunitas Cina di Hindia Belanda.[7][8]
Berkat latar belakang keluarganya, Tio pun dapat bersekolah di Europeesche Lagere School, mulai tahun 1884, sehingga ia mendapat pendidikan berbahasa Belanda.[2]
Karier
Pada tahun 1902, bersama saudaranya, Tio Tek Tjoe, Tio mendirikan Toko Tio Tek Hong, salah satu toserba modern pertama di Hindia Belanda. Toko tersebut menjual barang dengan label harga yang tidak dapat ditawar, sebuah praktik yang tidak umum pada saat itu.[9][6] Toko tersebut ternyata sukses dan menjadi salah satu tujuan belanja paling populer di Batavia.[9][10] Tio lalu memperluas tokonya dengan mengakuisisi properti di samping tokonya, dan dua kali merenovasinya, pertama pada tahun 1911, dan kemudian pada tahun 1916. Hasil renovasi kedua lalu diresmikan pada tahun 1917 bersamaan dengan hari jadi ke-15 dari toko.[11][9] Pada tahun 1921, Tio membuka cabang di Sukabumi, Priangan, Jawa Barat.[12] Pada tahun 1927, Toko Tio merayakan hari jadi ke-25. Koran Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië menyatakan:[13]
"Toko ini adalah toko pertama yang memiliki ruang ritel modern besar, perubahan signifikan dari sekadar ruko dan kios pasar. Pembukaan toko ini pun menjadi peristiwa bersejarah di Batavia. Apa yang telah Tio Tek Hong lakukan untuk masyarakat Batavia tempo doeloe dapat dilihat dari fakta bahwa mereka terbiasa mengatakan: 'Jika tidak tersedia di Tio Tek Hong, maka tidak perlu mencarinya di tempat lain. Anda tidak akan mendapatkannya di tempat lain."
Toko Tio Tek Hong
Toko Tio Tek Hong di Pasar Baru, Weltevreden
Toko Tio Tek Hong pada tahun 1902, 1911, dan 1916
Tio Tek Hong Record, awal abad ke-20
Saat ini, bangunan yang dulu menjadi lokasi dari toko tersebut menjadi tengara bersejarah di Jakarta.[9][14]
Pada tahun 1903, Tio menjadi agen tunggal dari label rekaman baru asal Jerman, Odeon Records.[15] Setahun kemudian, Tio mulai merilis rekaman di bawah nama Tio Tek Hong Record, sebagai anak usaha dari Odean. Tio pun menjadi orang pertama di Indonesia yang melakukan hal tersebut.[15] Produk rekaman Tio fokus pada lagu populer berbahasa Melayu, termasuk musik kroncong dan stambul.[5][3][15] Pada tahun 1917, perusahaan Tio telah 'hampir memonopoli di Hindia Belanda' pada genrenya.[11]
Pada tahun 1929, Tio bertemu dengan penulis laguW. R. Supratman, yang menulis lirik dan melodi dari lagu 'Indonesia Raya'. Keduanya lalu setuju untuk merekam lagu tersebut dengan Supratman tetap memegang hak ciptanya.[4][5] Karena lagu tersebut makin populer, pada tahun 1930, pemerintah Hindia Belanda melarang lagu tersebut dan menyita semua rekaman yang belum terjual.[4]
Bisnis Tio menurun pada dekade 1930-an akibat Depresi Besar; dan pada tahun 1934, Tio memindahkan bisnisnya ke bangunan yang lebih kecil.[16][9] Bisnisnya pun berhasil bertahan hingga dekade 1950-an, walaupun dalam skala yang lebih kecil.[9]
Selain berbisnis, Tio juga aktif di sejumlah organisasi kemasyarakatan, antara lain dengan memainkan peran penting dalam pendirian Musica pada tahun 1902. Musica adalah sebuah asosiasi musik Eropa yang bertujuan untuk menyediakan pengajaran teori musik dan instrumen musik Barat, seperti piano, biola, dan cello.[17] Mulai tahun 1902 hingga 1904, Tio menjabat sebagai komisioner di dewan pengarah dari organisasi pendidikan Tiong Hoa Hwee Koan, yang beroperasi di bawah perlindungan dari sepupu Tio, Mayor Tio Tek Ho.[18] Sebagai seorang pemburu, Tio juga menjadi anggota dewan pendiri serta bendahara dan sekretaris kehormatan dari Nederlandsch-Indisch Jagersgenootschap [Asosiasi Pemburu Hindia Belanda], yang didirikan pada tanggal 21 Juni 1931.[19]
Pada tahun 1959, Tio Tek Hong menerbitkan sebuah memoar berjudul Kenang-kenangan: riwajat-hidup saja dan keadaan di Djakarta dari tahun 1882 sampai sekarang.[9][6] Ia akhirnya meninggal pada tahun 1965 di Djakarta.[10][1][2][15]
Karya
Kenang-kenangan: riwajat-hidup saja dan keadaan di Djakarta dari tahun 1882 sampai sekarang. Tio Tek Hong (1959)[20]
12Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (3 April 1917). "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië". Tio Tek Hong (dalam bahasa Belanda). Vol.22, no.78. NV Mij tot Expl. van Dagbladen. Diakses tanggal 9 March 2022.
↑Bataviaasch nieuwsblad (28 July 1921). "Bataviaasch nieuwsblad". N. V. Tio Tek Hong (dalam bahasa Belanda). Vol.37, no.199. Kolff & Co. Diakses tanggal 9 March 2022.
↑"Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië". Een toko-jubileum te Weltevreden (dalam bahasa Belanda). Vol.32, no.78. NV Mij tot Expl. van Dagbladen. 5 April 1927. Diakses tanggal 8 March 2022.
↑Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (30 August 1934). "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië". Veranderingen op Pasar Baroe (dalam bahasa Belanda). Vol.39, no.198. NV Mij tot Expl. van Dagbladen. Diakses tanggal 9 March 2022.