Tiliaya adalah makanan tradisional khas Gorontalo berbahan dasar telur yang disajikan dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan di masyarakat Gorontalo.[1] Makanan tradisional ini telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui 362/M/2019.[2] Kue tiliaya berwarna coklat dengan tekstur yang lembut dan lumer seperti puding, serta rasa yang manis.[3]
Sejarah
Menurut catatan dalam tradisi lokal, Tiliaya pertama kali dibuat sekitar abad ke-15 oleh seorang putri Raja Ilato (raja Gorontalo) saat itu yang juga bernama Tiliaya.[4] Pada masa itu, makanan ini hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan dan tamu kehormatan di lingkungan kerajaan. Seiring waktu, makanan ini juga disajikan di berbagai upacara masyarakat umum, seperti pembeatan, sunat, pernikahan, doa arwah, hingga kegiatan formal pemerintahan.[1] Makanan tradisional ini juga kerap dihidangkan bersama dengan nasi kuning sebagai hidangan sahur atau pada acara tahlilan.[5] Selain itu, Tiliaya juga memiliki nilai filosofis dan sakral, karena kue ini dianggap sebagai media penghubung antara manusia, Tuhan, roh leluhur, dan alam sekitar, serta umumnya disajikan pada upacara adat atau ritual keagamaan masyarakat Gorontalo[6]
Bahan
Tiliaya dibuat dari campuran telur, santan kelapa parut, dan gula merah serut.[1] Telur yang digunakan umumnya berupa telur ayam kampung atau telur itik.[4] Selain itu, hidangan ini juga ditambah dengan bumbu-bumbu seperti daun pandan, kayu manis, pala, cengkih,[2] garam, dan minyak goreng. Pada pembuatan tiliaya juga digunakan daun pisang sebagai bahan pelapis loyang.[7]
Cara pembuatan
Pembuatan kue tiliaya dimulai dengan mengocok telur bersama gula merah dan garam. Lalu, pada adonan ditambahkan santan secara perlahan sambil terus dikocok hingga tercampur rata. Setelah adonan kalis, diamkan selama 30 menit. Kemudian, adonan dituangkan ke dalam loyang yang telah diolesi minyak dan dilapisi daun pisang. Pemasakan tiliaya dilakukan dengan teknik kukus[7] pada suhu sekitar 65°C selama 15 hingga 25 menit.[1] Wadah yang digunakan untuk kue tiliaya bervariasi, mulai dari bentuk oval atau kotak menyerupai hingga menggunakan dedaunan sebagai pembungkus.[4]
Manfaat
Dalam satu porsi tiliaya seberat 100 gram, terdapat kandungan gizi meliputi energi sebesar 6,6%, protein 9,7%, lemak 4,6%, karbohidrat 6,8%, serta zat besi (Fe) sebesar 16,4%. Oleh karenanya, tiliaya dinilai memiliki beberapa manfaat kesehatan seperti meningkatkan stamina, mencegah anemia dan menghindari stunting.[4]