ENSIKLOPEDIA
Tiga Mei 1808
| Tiga Mei 1808 | |
|---|---|
Koordinat: 40°25′14″N 3°41′31″W / 40.42056°N 3.69194°W / 40.42056; -3.69194 | |
| Seniman | Francisco Goya |
| Tahun | 1814 |
| Medium | Cat minyak di atas kanvas |
| Ukuran | 268 cm × 347 cm (106 in × 137 in)[1] |
| Lokasi | Museo del Prado, Madrid |
Tiga Mei 1808 di Madrid (umumnya dikenal dengan nama Tiga Mei 1808)[1] dan juga dikenal dalam bahasa Spanyol sebagai El tres de mayo de 1808 en Madridcode: es is deprecated atau Los fusilamientos de la montaña del Príncipe Píocode: es is deprecated [2] atau Los fusilamientos del tres de mayocode: es is deprecated adalah sebuah lukisan yang selesai dibuat pada tahun 1814 oleh pelukis Spanyol Francisco Goya. Lukisan ini kini dipamerkan di Museo del Prado, Madrid. Dalam lukisan ini, Goya berupaya mengabadikan perjuangan rakyat Spanyol dalam menghadapi pasukan Napoleon selama pendudukan Madrid tahun 1808 pada awal Perang Semenanjung. Bersama karya pendampingnya yang berukuran sama, Dua Mei 1808 (atau Serangan Mamluk), lukisan ini dipesan oleh pemerintahan sementara Spanyol berdasarkan usulan Goya sendiri tak lama setelah digulingkannya pendudukan Prancis dan pemulihan kekuasaan Raja Fernando VII.
Isi, presentasi dan kekuatan emosional lukisan ini meneguhkan statusnya sebagai gambaran arketipal yang inovatif mengenai kengerian perang. Meskipun mengacu pada berbagai sumber, baik dari seni tinggi maupun seni populer, Tiga Mei 1808 menandai sebuah pemutusan yang jelas dari konvensi tradisional. Dengan menyimpang dari tradisi seni Kristen dan penggambaran tradisional perang, lukisan ini tidak memiliki preseden yang jelas, dan diakui sebagai salah satu lukisan pertama era seni rupa modern.[3] Menurut sejarawan seni Kenneth Clark, lukisan ini adalah "lukisan besar pertama yang dapat dikatakan revolusioner dalam setiap makna kata, dalam gaya, dalam subjek, dan dalam intensinya".[4]
Lukisan ini telah menginspirasi mahakarya-mahakarya lainnya, termasuk serangkaian lukisan karya Édouard Manet serta lukisan Pembantaian di Korea dan Guernica karya Pablo Picasso.
Latar belakang
Napoleon I menyatakan dirinya sendiri sebagai Konsulat Tingkat Satu dari Republik Prancis pada 10 November 1799, dan menobatkan dirinya sendiri sebagai Kaisar pada tahun 1804. Karena Spanyol menguasai akses ke Laut Tengah, Spanyol menjadi negara yang penting secara politik dan strategis bagi kepentingan-kepentingan Prancis. Penguasa Spanyol saat itu, Carlos IV, dianggap inkompeten di mata dunia internasional. Bahkan, di lingkungan istananya sendiri, ia dipandang sebagai seorang "raja dungu yang meninggalkan urusan kenegaraan demi kepuasan berburu",[5] dan seorang cuckold yang tidak dapat mengendalikan istrinya yang energik, Maria Luisa dari Parma.[6] Napoleon memanfaatkan kelemahan sang raja dengan mengusulkan agar kedua negara menaklukkan dan membagi wilayah Portugal, dengan Prancis dan Spanyol masing-masing mengambil sepertiga wilayah rampasan, sementara sepertiga sisanya, beserta gelar Pangeran Algarve, diberikan kepada perdana menteri Spanyol Manuel de Godoy. Godoy tergoda akan usulan ini, dan ia menerima tawaran pihak Prancis. Namun, ia gagal menangkap maksud Napoleon yang sebenarnya, dan tidak menyadari bahwa sekutunya yang baru sekaligus rekan penguasanya, putra dari sang raja, Fernando VII, menggunakan invasi tersebut hanya sebagai siasat untuk merebut parlemen dan takhta Spanyol. Fernando tidak hanya berniat agar Godoy terbunuh dalam perebutan kekuasaan yang akan datang, tetapi juga agar nyawa kedua orang tuanya sendiri turut dikorbankan.[5]

Dengan kedok untuk memperkuat pasukan Spanyol dan bergerak melalui Lisbon untuk menangkap anggota Wangsa Braganza sebelum pemindahan Istana Portugal ke Brasil, 23.000 pasukan Prancis memasuki Spanyol tanpa perlawanan pada November 1807.[7] Bahkan, ketika niat dari Napoleon menjadi jelas pada bulan Februari berikutnya, pasukan pendudukan hanya menghadapi sedikit perlawanan, kecuali dalam beberapa aksi terpisah di wilayah-wilayah yang tidak saling terhubung, termasuk Zaragoza.[8] Komandan utama Napoleon, Marsekal Joachim Murat, percaya bahwa Spanyol akan memperoleh manfaat dari para pemimpin yang lebih progresif dan kompeten dibandingkan para Bourbon, dan saudara Napoleon, Joseph Bonaparte, akan diangkat menjadi raja.[9] Setelah Napoleon membujuk Fernando untuk mengembalikan tampuk kekuasaan Spanyol ke tangan Carlos IV, Carlos IV tidak memiliki pilihan lain selain turun takhta pada 19 Maret 1808 demi Joseph Bonaparte.

Meskipun rakyat Spanyol pernah menerima monarki-monarki asing di masa lalu, mereka sangat membenci penguasa Prancis yang baru. Seorang agen Prancis di Madrid menulis bahwa "Spanyol itu berbeda. Bangsa Spanyol memiliki karakter yang mulia dan dermawan, tetapi mereka memiliki kecenderungan untuk bersikap ganas dan tidak dapat menerima perlakuan sebagai bangsa terjajah. Bila mereka didorong sampai ke keputusasaan, mereka akan bersiap untuk melancarkan pemberontakan yang paling mengerikan dan paling berani, serta berbagai tindakan yang paling kejam."[10] Pada 2 Mei 1808, dipicu oleh kabar soal pemindahan terencana para anggota terakhir keluarga kerajaan Spanyol ke Prancis, masyarakat Madrid memberontak dalam Pemberontakan Dos de Mayo. Sebuah proklamasi yang dikeluarkan Marsekal Murat kepada anggota pasukannya pada hari itu berbunyi: "Masyarakat Madrid, yang telah disesatkan, telah menyerahkan diri mereka pada pemberontakan dan pembunuhan. Darah Prancis telah tertumpah. Hal ini menuntut pembalasan dendam. Seluruh pihak yang tertangkap dalam pemberontakan tersebut, dengan senjata di tangannya, akan ditembak."[11] Goya mengabadikan peristiwa pemberontakan tersebut dalam karyanya, Dua Mei 1808, yang menampilkan serangan kavaleri kepada pihak pemberontak di alun-alun Puerta del Sol di pusat Madrid, yang menjadi titik pertempuran sengit selama beberapa jam.[12] Tiga Mei 1808, karya yang lebih populer dibandingkan Dua Mei 1808, menggambarkan pembalasan pihak Prancis: sebelum fajar keesokan harinya, ratusan masyarakat Spanyol ditangkap, dikumpulkan, dan ditembak pada sejumlah tempat di sekitar Madrid. Perlawanan masyarakat sipil Spanyol terus menjadi ciri utama dari Perang Semenanjung yang berlangsung selama lima tahun berikutnya, yang menjadi perang pertama yang disebut sebagai perang gerilya.[9] Tentara tidak tetap Spanyol sangat membantu gabungan pasukan Spanyol, Portugis, dan Inggris yang dipimpin oleh Arthur Wellesley, yang pertama kali mendarat di Portugal pada Agustus 1808. Pada saat pembuatan konsep lukisan ini, imajinasi publik telah menjadikan para pemberontak sebagai simbol kepahlawanan dan patriotisme.[13]

Seperti kaum liberal Spanyol lainnya, Goya ditempatkan dalam posisi yang sulit oleh invasi Prancis. Sebelumnya, dia mendukung tujuan awal Revolusi Prancis dan mengharapkan terjadinya perkembangan yang serupa di Spanyol. Beberapa temannya, seperti penyair Juan Meléndez Valdés dan Leandro Fernández de Moratín, secara terbuka merupakan Afrancesadocode: es is deprecated , sebuah istilah untuk para pendukung—kolaborator dalam pandangan banyak orang—Joseph Bonaparte.[14] Lukisan potret Ferdinand Guillemardet, seorang duta besar yang akhirnya menjadi komandan Prancis, yang dibuat Goya tahun 1798, mengisyaratkan adanya kekaguman pribadi Goya.[15][a] Meskipun ia mempertahankan posisinya sebagai pelukis istana, yang mengharuskannya bersumpah setia kepada Joseph, Goya secara alamiah memiliki ketidaksukaan terhadap otoritas.[17] Dia menyaksikan penaklukan dan penindasan pasukan Prancis kepada sesama warga Spanyol.[18] Selama tahun-tahun ini, dia hanya sedikit melukis, meskipun pengalaman-pengalaman pendudukan tersebut memberikan inspirasi untuk gambar-gambar yang kemudian menjadi dasar dari karya cetakannya, Bencana Perang (Los desastres de la guerracode: es is deprecated ).[15]
Pada Februari 1814, setelah pengusiran terakhir pasukan Prancis, Goya mengajukan permohonan kepada pemerintahan sementara untuk "mengabadikan dengan kuasnya tindakan-tindakan paling menonjol dan heroik dari pemberontakan agung kita melawan Tiran Eropa".[19] Permohonannya diterima, dan Goya mulai mengerjakan Tiga Mei 1808. Tidak diketahui apakah dia menyaksikan sendiri peristiwa-peristiwa pemberontakan maupun pembalasan tersebut,[12] meskipun banyak upaya di kemudian hari untuk menempatkan dirinya di lokasi pada salah satu dari kedua peristiwa tersebut.[20]
Lukisan
Deskripsi
Tiga Mei 1808 berlatar pada dini hari setelah pemberontakan[21] dan berpusat pada dua kelompok besar pria: satu kelompok adalah regu tembak yang berdiri dalam posisi kaku dan siap siaga, dan kelompok lainnya adalah sekumpulan tawanan dalam keadaan tidak teratur yang ditawan di bawah todongan senjata. Para algojo dan korban saling berhadapan melintasi sebuah ruang sempit; yang menurut Kenneth Clark, "melalui sebuah sentuhan jenius, [Goya] telah mengontraskan pengulangan hebat dari sikap para tentara dan garis kaku senapan mereka, dengan ketidakteraturan yang runtuh dari sasaran mereka."[22] Sebuah lentera berbentuk persegi diletakkan di atas tanah di antara kedua kelompok tersebut, memberikan pencahayaan dramatis pada adegan lukisan. Pencahayaan paling terang jatuh pada kerumunan para korban di sisi kiri, yang di antaranya terdapat seorang biarawan atau frater yang sedang berdoa.[b] Tepat di sisi kanan dan tengah kanvas, tokoh-tokoh terhukum lainnya berbaris dalam antrean untuk ditembak.[c]
Di sisi kanan, berdiri para anggota regu tembak, diselimuti bayangan dan dilukiskan sebagai sebuah kesatuan monolitik. Dilihat hampir dari sisi belakang, bayonet dan penutup kepala mereka (shako) membentuk sebuah barisan yang kokoh. Sebagian besar wajah tokoh tersebut tidak dapat dilihat, namun wajah dari pria yang berada di sisi kanan korban utama, yang mengintip ke arah para tentara dengan penuh rasa takut, bertindak sebagai sebuah repoussoircode: fr is deprecated pada bagian belakang kelompok pusat. Tanpa mengalihkan perhatian dari intensitas drama di latar depan, sebuah lanskap kota dengan menara lonceng tampak menjulang dalam kejauhan malam,[26] kemungkinan termasuk barak yang digunakan oleh pasukan Prancis.[d] Di latar belakang, antara lereng bukit dan barisan shako, terdapat kerumunan orang dengan obor: mungkin para penonton, mungkin juga tentara lainnya atau korban lainnya.
Lukisan Dua Mei 1808 dan Tiga Mei 1808 diperkirakan dimaksudkan sebagai bagian dari suatu rangkaian lukisan yang lebih besar.[27] Komentar tertulis dan bukti tidak langsung menunjukkan bahwa Goya melukis empat kanvas besar untuk mengabadikan pemberontakan Mei 1808. Dalam memoarnya tentang Real Academia pada tahun 1867, José Caveda menulis tentang empat lukisan karya Goya yang bertemakan hari kedua bulan Mei, dan Cristóbal Ferriz—seorang seniman dan kolektor karya Goya—menyebut dua lukisan lainnya dengan tema tersebut: sebuah pemberontakan di istana kerajaan dan pertahanan barak artileri.[27] Cetakan-cetakan kontemporer menjadi preseden bagi adanya seri-seri seperti itu. Hilangnya dua lukisan lainnya mungkin menunjukkan ketidaksukaan pejabat pemerintah terhadap penggambaran pemberontakan rakyat.[27]
Bencana Perang

Seri cetakan karya Goya yang menggunakan teknik etsa aquatint, Bencana Perang (Los desastres de la guerracode: es is deprecated ) tidak selesai dikerjakan hingga tahun 1820, walaupun sebagian besar cetakan dalam seri ini dibuat dalam periode tahun 1810–1814. Namun, edisi uji album cetakan ini, yang diberikan oleh Goya kepada seorang temannya dan saat ini disimpan di British Museum, memberikan banyak indikasi mengenai urutan waktu pembuatan gambar awal dan cetakan-cetakan itu sendiri.[e] Kelompok-kelompok cetakan yang diidentifikasi sebagai karya-karya yang dibuat paling awal tampaknya jelas dibuat sebelum pembuatan dua lukisan tersebut (Dua Mei 1808 dan Tiga Mei 1808), dan mencakup dua cetakan dengan komposisi yang sangat jelas berkaitan dengan dua lukisan tersebut, seperti juga Saya melihatnya, yang diduga menggambarkan peristiwa yang disaksikan Goya selama perjalanannya ke Zaragoza.[30] No se puede mirarcode: es is deprecated (Seseorang tidak sanggup memandangnya) sangatlah jelas terkait dengan kedua lukisan itu, baik dari segi komposisi maupun tema.[31] Pada gambar cetak ini, tampak seorang wanita, yang merupakan tokoh sentral dalam karya ini, merentangkan kedua lengannya namun dalam posisi mengarah ke bawah, sementara tokoh lainnya tampak menangkupkan kedua tangannya seperti sedang berdoa, dan tokoh-tokoh lainnya menutupi atau menyembunyikan wajah mereka. Kali ini, para prajurit tidak terlihat bahkan dari sisi belakang; hanya bayonet senjata mereka saja yang terlihat.

Y no hay remediocode: es is deprecated (Dan tak ada yang dapat dilakukan) adalah karya cetak awal lainnya dari kelompok cetakan yang dibuat sedikit lebih kemudian, yang tampaknya diproduksi pada puncak masa perang ketika bahan-bahan untuk pembuatan cetakan sulit untuk didapatkan, sehingga Goya harus menghancurkan pelat cetakan lanskap terdahulunya untuk membuat karya ini dan karya lain dalam rangkaian Bencana. Karya ini menampilkan regu tembak yang mengenakan shako di bagian latar belakang, kali ini tampak menjauh dari sudut pandang depan, bukan dari belakang.[32]
Ikonografi dan inovasi

Awalnya, lukisan ini disambut dengan reaksi beragam dari para kritikus dan sejarawan seni. Sebelumnya, seniman-seniman cenderung menggambarkan suasana perang dalam gaya agung dari lukisan sejarah, dan penggambaran perang oleh Goya yang sifatnya tidak heroik adalah hal yang tidak lazim di masa itu. Menurut beberapa pendapat kritis awal, Tiga Mei 1808 dianggap cacat secara teknis: perspektifnya datar, ataupun para korban dan regu tembak digambarkan berdiri dalam posisi yang terlalu berdekatan satu sama lain sehingga tampak tidak realistis. Meskipun pengamatan-pengamatan ini tepat secara teknis, Richard Schickel berargumen bahwa Goya tidak mengejar kepantasan akademik, namun ia bermaksud untuk memperkuat dampak keseluruhan dari karyanya.[34]
Tiga Mei 1808 merujuk pada sejumlah karya seni sebelumnya, tetapi kekuatan lukisan ini justru datang dari kelugasannya, bukan dari kepatuhannya terhadap rumus komposisi tradisional.[26] Artifisialitas visual digantikan oleh penggambaran epik mengenai kebrutalan tanpa polesan. Bahkan para pelukis romantis—yang juga tertarik dengan tema ketidakadilan, perang, dan kematian—tetap menyusun komposisi lukisan mereka dengan perhatian yang lebih besar terhadap kaidah keindahan sebagaimana yang terlihat dalam karya-karya di kemudian hari, seperti pada The Raft of the Medusa karya Théodore Géricault (1818–1819) dan Liberty Memimpin Rakyat karya Eugène Delacroix tahun 1830.[33]

Secara struktur dan tema, lukisan ini terikat pada tradisi-tradisi penggambaran kemartiran dalam seni Kristen, seperti yang terlihat pada penggunaan dramatis chiaroscuro, serta pertentangan antara keinginan untuk hidup dengan kepastian pelaksanaan eksekusi yang tak terelakkan.[35] Namun, lukisan Goya menyimpang dari tradisi ini. Karya-karya yang menampilkan kekejaman, seperti karya-karya dari Jusepe de Ribera, menampilkan sebuah teknik yang artistik dan komposisi yang harmonis yang mengisyaratkan "mahkota kemartiran" bagi sang korban.[36] Sosok pria dengan kedua tangan terangkat di pusat komposisi lukisan sering dibandingkan dengan Yesus Kristus yang disalibkan,[37] dan pose serupa juga kadang muncul dalam penggambaran penderitaan Kristus pada lukisan Penderitaan di Taman Getsemani.[38] Karakter dalam karya Goya menunjukkan luka seperti stigmata di tangan kanannya,[35] sementara lentera di bagian tengah kanvas merujuk pada atribut prajurit Romawi yang menangkap Kristus di taman.[f] Tidak hanya diposisikan seperti sedang disalib, karakter pria ini juga menggunakan pakaian berwarna kuning dan putih: warna heraldik kepausan.[39]

Penggunaan lampion sebagai sumber pencahayaan dalam karya seni dilakukan secara luas oleh para seniman Barok dan disempurnakan oleh Caravaggio.[40] Secara tradisional, sumber cahaya yang dramatis dan efek chiaroscuro yang dihasilkan digunakan sebagai metafora atas kehadiran Tuhan. Pencahayaan dengan obor maupun lilin memiliki konotasi religius; namun cahaya lentera dalam Tiga Mei 1808 tidak menghadirkan keajaiban semacam itu. Cahaya lentera hanya berfungsi sebagai pencahayaan agar regu tembak dapat menyelesaikan tugas mereka yang mengerikan, sekaligus memberikan efek pencahayaan yang tajam sehingga para penonton dapat melihat kekerasan yang terjadi. Peran tradisional cahaya dalam karya seni sebagai sebuah perantara menuju dimensi spiritual telah dipatahkan.[40]
Dalam lukisan ini, korban dan para pembunuhnya sama-sama anonim. Korban tidak mengajukan permohonan kepada Tuhan sebagaimana dalam lukisan tradisional, melainkan kepada regu tembak yang bersikap tidak acuh serta dingin.[35] Dia tidak dianugerahi peran kepahlawanan individual, tetapi dia hanyalah menjadi bagian dari rangkaian korban yang berkesinambungan. Di bawah dirinya, terbaring sesosok jenazah dalam keadaan berlumuran darah dan rusak; di sisi belakang dan sekelilingnya terdapat orang-orang lain yang akan segera mengalami hal yang sama. Di titik ini, untuk pertama kalinya, menurut biografer Fred Licht, kemuliaan dalam kemartiran individual digantikan oleh kesia-siaan dan ketidakrelevanan, vikitimisasi pembunuhan massal, serta anonimitas sebagai ciri kondisi modern.[39]
Cara lukisan ini menggambarkan perkembangan waktu juga belum ada sebelumnya dalam dunia seni Barat.[39] Kematian seorang korban yang tidak bersalah biasanya disajikan sebagai kejadian penutup yang dipenuhi oleh nilai kepahlawanan. Namun, Tiga Mei 1808 tidak membawa pesan katarsis seperti itu. Sebaliknya, terdapat arak-arakan para terhukum yang berlangsung terus-menerus dalam sebuah formalisasi mekanis atas pembunuhan. Akibat yang tidak terhindarkan terlihat pada jenazah seorang pria yang terbaring terlentang di tanah pada sisi kiri bawah lukisan. Tidak ada lagi ruang bagi sublimitas; kepala dan badan jenazah telah rusak sedemikian rupa sampai ke titik kebangkitan kembali menjadi mustahil.[33] Sang korban digambarkan dalam kondisi sama sekali tidak memiliki keanggunan estetik atau spiritual. Untuk bagian lukisan sisanya, sudut pandang penonton lukisan sebagian besar berada di sepanjang sumbu horizontal tengah; hanya di sinilah terdapat perubahan perspektif, sehingga penonton memandang ke arah bawah ke tubuh yang termutilasi tersebut.[39]
Akhirnya, tidak ada usaha dari sang seniman untuk melunakkan kebrutalan subjek lukisan melalui keterampilan teknis. Metode dan subjek lukisan tidak dapat dipisahkan. Teknik Goya lebih ditentukan oleh tema dasarnya yang mengerikan daripada oleh tuntutan kemahiran tradisional.[41] Sapuan kuas Goya tidak dapat digambarkan sebagai menyenangkan, dan warna-warna lukisan terbatas pada warna-warna tanah dan hitam, diselingi oleh kilatan terang dari warna putih dan warna merah dari darah para korban. Kualitas pigmen lukisan ini pun memberi gambaran atas kualitas karya-karya Goya berikutnya: sebuah larutan granular yang memberikan hasil akhir tekstur tidak mengilap dan berpasir.[42] Hanya sedikit pihak yang akan mengagumi lukisan ini karena keindahan teknik melukisnya, mengingat kuatnya unsur mengerikan serta kurangnya unsur teatrikal lukisan ini.[41]
Riwayat kepemilikan

Meskipun karya ini memiliki nilai peringatan, tidak ada detail yang diketahui mengenai pameran pertamanya, dan karya ini tidak disebut dalam berbagai catatan dari zaman yang sama yang masih bertahan. Kurangnya komentar atas lukisan ini mungkin disebabkan oleh preferensi Fernando VII pada karya seni neoklasik[43] serta fakta bahwa pemberontakan rakyat dalam bentuk apapun tidak dipandang sebagai subjek yang sesuai oleh para anggota Bourbon yang telah dipulihkan statusnya. Sebuah monumen untuk memperingati para korban dalam pemberontakan, yang juga dipesan pada tahun 1814 oleh pemerintahan sementara, "dihentikan oleh Fernando VII, yang memandang para senator dan pahlawan perang kemerdekaan dengan kurang baik, karena kecenderungan reformis mereka".[44]
Menurut beberapa catatan, lukisan ini disimpan dalam gudang selama 30 hingga 40 tahun sebelum diperlihatkan kepada publik.[45] Dalam daftar inventaris Prado tahun 1834, disebutkan bahwa lukisan ini tetap berada dalam kepemilikan pemerintah atau monarki;[27] banyak koleksi kerajaan yang telah dipindahkan ke museum sebelum pembukaan museum pada tahun 1819. Théophile Gautier menyebut ia melihat "sebuah pembantaian" oleh Goya selama kunjungannya ke museum pada tahun 1845, dan seorang pengunjung museum pada tahun 1858 juga mencatat hal yang sama, meskipun kedua pernyataan tersebut merujuk pada karya yang menggambarkan peristiwa tanggal 2 Mei,[27] mungkin karena Dos de Mayocode: es is deprecated tetap menjadi nama dalam bahasa Spanyol untuk keseluruhan peristiwa tersebut.[g]
Pada tahun 1867, penulis biografi Goya, Charles Emile Yriarte, menganggap lukisan ini cukup penting untuk memperoleh pameran khususnya sendiri,[27] namun baru pada tahun 1872 lukisan Tiga Mei 1808 dicantumkan ke dalam katalog yang diterbitkan Prado, dengan judul Adegan Tiga Mei 1808.[27] Baik lukisan Tiga Mei 1808 maupun Dua Mei 1808 mengalami kerusakan dalam sebuah kecelakaan saat sedang diangkut menggunakan truk menuju Valencia untuk keamanan selama Perang Saudara Spanyol,[46] yang tampaknya menjadi satu-satunya kejadian di mana mereka meninggalkan Madrid. Cat yang hilang dengan signifikan pada sisi kiri lukisan Dua Mei 1808 mungkin sengaja dibiarkan tidak diperbaiki sampai dilakukannya upaya restorasi terhadap kedua lukisan pada tahun 2008 menjelang diadakannya sebuah pameran untuk memperingati dua abad terjadinya pemberontakan.[47]
Pada tahun 2009, Prado memilih Tiga Mei 1808 sebagai salah satu dari 14 lukisan terpenting milik museum untuk ditampilkan dalam Google Earth pada resolusi 14.000 megapiksel.[48]
Sumber-sumber ide

Sumber-sumber ide lukisan Tiga Mei 1808 kemungkinan besar adalah gambar, cetakan, dan brosur lepas populer. Penggambaran regu tembak dalam ikonografi politik Spanyol adalah hal yang biasa selama Perang Napoleon,[49] dan adaptasi yang dilakukan Goya menunjukkan bahwa dia membayangkan lukisan-lukisan berskala besar yang dapat menarik perhatian publik luas.[49] Cetakan devosional karya Miguel Gamborino pada tahun 1813, Pembunuhan Lima Biarawan dari Valencia, diperkirakan berfungsi sebagai sumber komposisi Goya.[50] Titik-titik kemiripan dari keduanya meliputi adanya sosok korban dalam posisi yang menyerupai penyaliban, dengan pakaian putih yang ia kenakan membedakannya dari para pendampingnya; seorang biarawan dengan potongan rambut tonsur yang berlutut di sisi kirinya dengan kedua tangan terkepal; dan sesosok jenazah yang sudah dieksekusi terbaring di latar depan.[51] Geometri komposisi tersebut mungkin merupakan sebuah komentar ironis terhadap karya seorang seniman Prancis Jacques-Louis David tahun 1784, Sumpah Horatii. Lengan-lengan terentang dari ketiga Horatii Romawi dalam posisi memberi hormat ala Romawi karya David diubah menjadi laras senapan regu tembak; sementara lengan ayah Horatii yang terangkat diubah menjadi gestur korban ketika ia menghadapi para algojonya. Jika David menggambarkan ekspresi tokoh-tokohnya dengan kilau neoklasik, maka respons Goya dibangun dari realisme yang keras.[52] Goya juga mungkin merespons lukisan karya Antoine-Jean Gros; pendudukan Madrid oleh pihak Prancis adalah subjek lukisan karya Gros, Penyerahan Madrid, Empat Desember 1808.[53]
Pengaruh

Parafrasa pertama Tiga Mei 1808 adalah Eksekusi Kaisar Maximilian karya Édouard Manet,[55] yang dilukis dalam beberapa versi antara tahun 1867 hingga 1869. Dalam merekam sebuah peristiwa kontemporer yang tidak disaksikan dirinya sendiri maupun ditangkap oleh seni fotografi yang pada masa itu sedang berkembang,[54] Manet terinspirasi oleh preseden dari Goya dan mungkin telah melihat karya Goya di Prado pada tahun 1865 sebelum memulai pembuatan lukisannya sendiri, yang terlalu sensitif untuk dipamerkan di Prancis semasa hidup Manet.[56] Dia juga dipastikan melihat cetakan karya Goya tahun 1867 yang diterbitkan oleh seorang kenalannya.[57] Kritikus seni Arthur Danto membandingkan hasil karya Goya dengan Manet sebagai berikut:
Tiga Mei 1808 juga menggambarkan sebuah eksekusi, sebuah peristiwa awal dalam apa yang disebut Perang Semenanjung antara Prancis dan Spanyol. Napoleon Bonaparte menginvasi Spanyol pada tahun 1808, menawan anggota keluarga kerajaan Spanyol, dan mengganti mereka dengan saudaranya, Joseph. Pihak Prancis sama tidak populernya di Spanyol seperti yang kemudian terjadi di Meksiko, dan mereka menghadapi pemberontakan sengit yang akhirnya berhasil. Eksekusi Tiga Mei 1808 merupakan pembunuhan warga sipil Spanyol oleh tentara Prancis tanpa pandang bulu sebagai pembalasan atas serangan gerilya sehari sebelumnya. Lukisan Goya tentang pembantaian tersebut, yang menampilkan warga sipil yang ketakutan berhadapan dengan regu tembak, dimaksudkan untuk membangkitkan kemarahan dan kebencian penonton Spanyol. Karya Goya merupakan lukisan yang sangat romantis mengenai sebuah peristiwa yang sangat emosional.[54]
Tiga Mei 1808 disebut sebagai pengaruh bagi karya Pablo Picasso pada tahun 1937, Guernica, yang menampilkan kondisi setelah pengeboman Guernica oleh Nazi Jerman selama Perang Sipil Spanyol.[58][59] Sebuah pameran pada tahun 2006 di Prado dan Museo Reina Sofía menampilkan Tiga Mei 1808, Guernica, dan Eksekusi Kaisar Maximilian dalam ruangan yang sama.[60] Di ruangan yang sama, juga terdapat lukisan Pembantaian di Korea karya Picasso yang dilukis pada tahun 1951 selama Perang Korea—sebuah referensi yang lebih terarah pada komposisi Tiga Mei 1808.[61] Pelaku kejahatan dalam lukisan ini dimaksudkan sebagai pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat atau sekutu Perserikatan Bangsa-Bangsa mereka. Lukisan tahun 1965 karya Norman Rockwell, Pembunuhan di Mississippi, yang menggambarkan pembunuhan tiga aktivis hak-hak sipil Amerika, juga mencerminkan komposisi dan pencahayaan karya Goya tersebut.[62][63][64]
Pada tahun 1957, Aldous Huxley menulis bahwa Goya kurang memiliki kemampuan Rubens dalam mengisi kanvas dengan komposisi yang teratur; namun ia menganggap Tiga Mei 1808 sebagai sebuah kesuksesan karena Goya "berbicara dalam bahasa ibunya, dan maka dari itu ia mampu mengekspresikan apa yang ia ingin katakan dengan kekuatan dan kejelasan maksimal".[34] Kenneth Clark berkomentar soal penyimpangan radikal lukisan ini dari aturan lukisan sejarah dan intensitasnya: "Dengan Goya, kita tidak memikirkan studio atau bahkan seniman yang mengerjakannya. Kita hanya memikirkan peristiwa dalam lukisan. Apalah ini berarti Tiga Mei 1808 adalah semacam bentuk jurnalisme yang berkualitas tinggi, rekaman sebuah kejadian di mana kedalaman fokus dikorbankan demi efek langsung? Saya malu mengakui bahwa saya pernah berpikir demikian; namun lebih lama saya memandangi lukisan ini ...semakin jelas saya menyadari bahwa saya telah keliru."[65]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Guillemardet datang ke Spanyol sebagai duta besar Prancis, dan menjadi orang asing pertama yang Goya lukis. Nantinya, Guillemardet membawa salinan karya Caprichoscode: es is deprecated sang seniman ke Prancis, di mana karya tersebut dikagumi oleh Delacroix dan memengaruhi gerakan romantisisme.[16]
- ↑ Hal ini konsisten dengan keinginan Murat untuk memilih sebagai anggota korban dari kelas bawah serta kaum klerus yang menggerakkan mereka.[23]
- ↑ Telah dikemukakan pendapat bahwa penggambaran para korban dalam keadaan berantakan oleh Goya merupakan sebuah keputusan yang didasari kehati-hatian: perlawanan rakyat terhadap pasukan Prancis dapat dikenang, selama tidak terdapat ekspresi solidaritas yang dapat mengancam pemerintahan Fernando VII.[24] Tokoh sentral dalam lukisan adalah seorang pria yang diterangi cahaya terang, sedang berlutut di tengah jenazah-jenazah berlumuran darah dari mereka yang telah dieksekusi, kedua lengannya terentang lebar dalam sikap memohon atau menantang. Pakaian berwarna kuning dan putih yang ia kenakan mengulang warna lentera. Baju putih sederhana yang ia kenakan serta wajahnya yang tampak terbakar matahari menunjukkan bahwa ia adalah seorang pekerja biasa.[25]
- ↑ Sekarang merupakan lokasi dari kuil orang Nubia yang dipindahkan, Kuil Debod
- ↑ Kemungkinan terdapat gambar-gambar awal untuk seluruh cetakan-cetakan ini. Album ini menampilkan sistem penomoran awal yang berbeda dengan sistem yang akhirnya Goya gunakan, yang kemungkinan berkaitan dengan urutan pembuatannya. Sebagai contoh, Yo lo vicode: es is deprecated diberi nomor no. 15 pada sekuens awal, dan no. 44 pada sekuens akhir. Setelah pembuatan cetakan no. 19 (pada penomoran awal), Goya kehabisan kertas gambar berkualitas baik yang berasal dari Belanda, dan dia mulai menggunakan kertas apapun yang bisa dia temukan.[29]
- ↑ Dalam berbagai penggambaran sejak abad ke-12, menurut Schiller hlm. 56. Pria yang diserang Santo Petrus menggunakan pedang secara khusus sering digambarkan membawa lentera, yang ia jatuhkan ketika ia diserang. Adegan-adegan dalam Penderitaan di Taman Getsemani dan Penangkapan Kristus menjadi pusat perkembangan penggambaran adegan-adegan nokturnal dalam seni rupa.
- ↑ Frasa lengkapnya adalah El levantamiento del dos de mayocode: es is deprecated , namun rangkaian peristiwa bersejarah bangsa yang dirayakan tersebut biasanya cukup disebut sebagai El dos de mayocode: es is deprecated .
Referensi
- 1 2 Museo del Prado memberi karya tersebut judul El 3 de mayo de 1808 en Madrid: los fusilamientos en la montaña del Príncipe Pío Diarsipkan 15 Oktober 2012 di Wayback Machine.
- ↑ Prado, hlm. 141. "Tanggal 3 Mei 1808 di Madrid; baku tembak di atas Bukit Pangeran Pio".
- ↑ Licht, hlm. 116–127.
- ↑ Clark, hlm. 130.
- 1 2 Connell, hlm. 145–146.
- ↑ Hagen, Rose-Marie dan Hagen, Rainer. Francisco Goya, 1746–1828. Köln: Taschen, 2007. hlm. 28–29. ISBN 3-8228-1823-2
- ↑ Baines, Edward. History of the Wars of the French Revolution. Philadelphia: McCarty dan Davis, 1835. hlm. 65.
- ↑ Connell, hlm. 145–148.
- 1 2 Licht, hlm. 109.
- ↑ Fraser, Ronald. Napoleon's Cursed War: Popular Resistance in the Spanish Peninsular War, hlm. 30. Verso, 2008.
- ↑ Cowans, Jon. Modern Spain: A Documentary History. University of Pennsylvania Press, 2003. ISBN 0-8122-1846-9
- 1 2 Licht, hlm. 112.
- ↑ Murray, Christopher John. "The Third of May 1808–1814", dalam Encyclopedia of the Romantic Era, 1760–1850. Taylor dan Francis, 2004. hlm. 1133–1134. ISBN 1-57958-422-5
- ↑ Bareau, hlm. 45.
- 1 2 Licht, hlm. 111.
- ↑ Heras, hlm. 73.
- ↑ Clark, hlm. 129.
- ↑ Bahwa Goya memiliki pengetahuan langsung terhadap peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam Bencana Perang ditegaskan dalam judul salah satu karya cetakannya, Saya melihatnya.
- ↑ Clark, hlm. 126.
- ↑ Connell, hlm. 153–157. Saat itu, Goya mungkin sedang tinggal di sebuah rumah di sudut Puerta del Sol; namun, hal ini diperdebatkan dan mungkin berasal dari sebuah laporan meragukan dari novelis Antonio de Trueba, yang konon mendengarnya dari Isidoro, tukang kebun Goya. Isidoro diklaim berkata bahwa ia mendampingi sang seniman pada malam tanggal tiga saat Goya membuat sketsa jenazah-jenazah korban terbunuh.
- ↑ Hagen, Rose-Marie dan Hagen, Rainer. What Great Paintings Say. Taschen, 2003. hlm. 363. ISBN 3-8228-2100-4
- ↑ Clark, hlm. 127.
- ↑ Boime, hlm. 297.
- ↑ Boime, hlm. 299–300.
- ↑ Licht, hlm. 116.
- 1 2 Licht, hlm. 117.
- 1 2 3 4 5 6 7 Tomlinson, hlm. 139.
- ↑ Stoichita, hlm. 37.
- ↑ Lihat Bareau, hlm. 50.
- ↑ Bareau, hlm. 49–50.
- ↑ Spivey, hlm. 193–195.
- 1 2 Bareau, hlm. 48–50.
- 1 2 3 Licht, hlm. 124.
- 1 2 Connell, hlm. 158–159.
- 1 2 3 4 Licht, hlm. 121.
- ↑ Licht, hlm. 118.
- ↑ Spivey, hlm. 195.
- ↑ Licht, hlm. 121; termasuk lukisan tahun 1819 karya Goya.
- 1 2 3 4 Licht, hlm. 122.
- 1 2 Licht, hlm. 119.
- 1 2 Licht, hlm. 125–127.
- ↑ Gudiol (1971), hlm. 171.
- ↑ Tomlinson, hlm. 137–139.
- ↑ Ford, hlm. 678.
- ↑ Hughes, Robert. "The Unflinching Eye ". The Guardian, 4 Oktober 2003. Diakses pada 18 April 2008. Namun lihat juga Gautier. Ford, hlm. 686, menyebut hanya sepasang karya Goya di dalam Prado, dan secara umum dengan sifat meremehkan: "ia mendapatkan kenikmatan dalam subjek-subjek kotor yang membuat orang-orang lain jijik. Mereka yang mengaguminya harus mengunjungi putranya, Don Javier (No. 9, C. de las Aguascode: es is deprecated ), yang memiliki banyak sketsa dan lukisan ayahnya."
- ↑ Prado, hlm. 140.
- ↑ Larraz, Teresa (15 April 2008). "Goya works restored for Madrid uprising anniversary". Reuters. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Februari 2013. Diakses tanggal 3 Mei 2008.
- ↑ Giles Tremlett (14 Januari 2009), "Online gallery zooms in on Prado's masterpieces (even the smutty bits)", The Guardian, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Februari 2017, diakses tanggal 13 Desember 2016
- 1 2 Tomlinson, hlm. 143–146.
- ↑ Connell, hlm. 158.
- ↑ Hughes, hlm. 314.
- ↑ Boime, hlm. 211.
- ↑ Honour, Hugh. Romanticism. Westview Press, 1979. hlm. 376. ISBN 0-06-430089-7
- 1 2 3 Danto, Arthur C. "Surface Appeal". The Nation, 11 Januari 2007.
- ↑ Johnson, Lee. "A New Source for Manet's 'Execution of Maximilian'". The Burlington Magazine, Volume 119, Ed. 893, Agustus 1977. hlm. 560–564.
- ↑ "Manet and the Execution of Maximilian Diarsipkan 3 April 2008 di Wayback Machine.". Museum of Modern Art, New York. Diakses pada 11 April 2008.
- ↑ Brombert, Beth A. Édouard Manet: Rebel in a frock coat. Chicago: University of Chicago Press, 1997. hlm. 216. ISBN 0-226-07544-3
- ↑ "An Introduction to Guernica Diarsipkan 5 April 2013 di Wayback Machine.". National Gallery of Victoria. Diakses pada 12 April 2008.
- ↑ The Spanish Wars of Goya and Picasso, Costa Tropical News Diarsipkan 9 Mei 2010 di Wayback Machine.. Diakses pada 4 Jn 2010.
- ↑ Riding, Alan. "Picasso Comes Home to Spain's Pantheon Diarsipkan 1 Juli 2017 di Wayback Machine.". The New York Times, 10 Juni 2006. Diakses pada 11 April 2008.
- ↑ Keen, Kirsten Hoving. "Picasso's Communist Interlude: The Murals of War and Peace". The Burlington Magazine, Vol. 122, No. 928, Special Issue Devoted to Twentieth Century Art, July 1980. hlm. 464.
- ↑ "Warhol and Rockwell: American idolmakers - The Boston Globe". BostonGlobe.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 31 Agustus 2025.
- ↑ SPlunkett (29 Maret 2018). "Everyman, Meet Somebody: Characterization and Melodrama in Rockwell's "Four Freedoms"". The Rockwell Center for American Visual Studies (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 31 Agustus 2025.
- ↑ Raverty, Dennis (31 Juli 2020). "Norman Rockwell's Realism: 'Murder in Mississippi'". The Living Church (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 31 Agustus 2025.
- ↑ Clark, hlm. 123.
Daftar pustaka
- Boime, Albert. Art in an Age of Bonapartism, 1800–1815. The University of Chicago Press, 1990. ISBN 0-226-06335-6
- Clark, Kenneth. "Looking at Pictures". Beacon Press, 1968.
- Connell, Evan S. Francisco Goya: A Life. New York: Counterpoint, 2004. ISBN 1-58243-307-0
- Ford, Richard. A Handbook for Travellers in Spain, 3rd edn, 1855 Daring dari Google Books, Bagian II mengandung bab Madrid.
- Gudiol, José. Goya 1746–1828, Volume 1. Ediciones Poligrafa, S.A., 1971.
- Heras, Margarita Moreno de las, et al. Goya and the Spirit of Enlightenment. Museum of Fine Arts, Boston, 1989. ISBN 0-87846-300-3
- Hughes, Robert. Goya. New York: Alfred A. Knopf, 2004. ISBN 0-394-58028-1
- Licht, Fred. Goya: The Origins of the Modern Temper in Art. Universe Books, 1979. ISBN 0-87663-294-0
- Murray, Christopher John. "The Third of May 1808–1814", dalam Encyclopedia of the Romantic Era, 1760–1850, Taylor and Francis, 2004. ISBN 1-57958-422-5
- Schiller, Gertrude. Iconography of Christian Art, Vol. II. Lund Humphries, London, 1972. ISBN 0-415-23391-7
- Spivey, Nigel. Enduring Creation: Art, Pain and Fortitude. University of California Press, 2001. ISBN 0-520-23022-1
- Stoichita, Victor I and Coderch, Anna Maria. Goya: The Last Carnival. London: Reaktion Books, 1999. ISBN 1-86189-045-1
- Tomlinson, Janis A. Goya in the Twilight of Enlightenment. Yale University Press, 1992. ISBN 0-300-05462-9
- Wilson–Bareau, Juliet. Goya's Prints, The Tomás Harris Collection in the British Museum. British Museum Publications, 1981. ISBN 0-7141-0789-1
Bacaan lebih lanjut
- Gudiol, José (1941). Goya. Hyperion Press. hlm. 99–100. LCCN 41051975. OCLC 2550995.
- Maenius, Chase. 13 Masterpieces. Underground Media Publishing, 2015. ISBN 1320309550
- Museo del Prado. Catálogo de las pinturascode: es is deprecated . Ministerio de Educación y Cultura, Madrid, 1996. ISBN 84-87317-53-7
- Thomas, Hugh (1972). Goya: The Third of May 1808. Art in Context. The Penguin Press. ISBN 0-7139-0301-5. LCCN 73163492. OCLC 253118079.
Artikel bertopik seni ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
