Tiar Nabilla Karbala adalah seorang profesional, pengusaha, dan pejabat publik asal Indonesia. Namanya mulai dikenal luas di dunia bisnis nasional sebagai pendiri perusahaan teknologi finansial (fintech) Restock.id yang berfokus pada solusi pembiayaan bagi usaha kecil.[1] Berbekal pengalaman panjang di sektor keuangan dan teknologi, Tiar kemudian dipercaya masuk ke dalam pemerintahan eksekutif. Saat ini, ia menjabat sebagai Staf Khusus Presiden Republik Indonesia bidang UMKM dan Teknologi Digital dalam Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk periode jabatan 2024–2029.[2][3]
Kehidupan awal dan pendidikan
Tiar menempuh pendidikan menengah atas di SMA Negeri 28 Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi ke jenjang sarjana di Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Ia lulus dengan predikat cum laude[4] Tiar meraih gelar Master of Science (M.Sc.) dari London School of Economics (LSE), Inggris. Untuk memperdalam keahliannya, Tiar melanjutkan studi pascasarjana dan meraih gelar Master of Science (M.Sc.) dari London School of Economics and Political Science (LSE), salah satu universitas di Inggris yang dikenal dengan keunggulannya di bidang ekonomi dan ilmu sosial.[5]
Untuk memperkuat kompetensinya di luar jalur pendidikan formal, Tiar mengikuti berbagai program pengembangan kepemimpinan bertaraf internasional. Tiar juga mengikuti program pendidikan eksekutif yaitu High Impact Leadership Program di INSEAD Singapura, National University of Singapore (NUS), serta memiliki sertifikasi di bidang manajemen risiko.[6] Selain itu, Tiar juga telah meraih sejumlah sertifikasi profesional di bidang manajemen risiko dan pasar modal yang memperkuat kredensialitasnya dalam industri keuangan dan bisnis.[7]
Karier bisnis
Perjalanan karier profesional Tiar dimulai di sektor perbankan internasional. Antara tahun 2014 hingga 2018, ia bekerja di JPMorgan Chase kantor cabang Jakarta dengan menjabat sebagai Treasury Services Product Manager. Berbekal pengalaman di industri keuangan tersebut, pada tahun 2019 ia merambah dunia kewirausahaan dengan mendirikan Restock Group. Perusahaan ini menaungi Restock.id, sebuah platform peer-to-peer lending yang menyasar celah pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Fokus utama platform ini adalah memberikan solusi pembiayaan berbasis inventori (inventory financing), yang memungkinkan pelaku usaha mendapatkan modal kerja dengan menjadikan stok barang mereka sebagai agunan.[1]
Selain berkiprah di sektor teknologi finansial, Tiar juga memegang posisi strategis di industri transportasi darat sebagai Direktur di Primajasa, perusahaan otobus yang memiliki jaringan operasional luas di Indonesia. Di luar operasional bisnis, ia menaruh perhatian khusus pada aspek tanggung jawab sosial perusahaan. Melalui Primajasa Foundation, Tiar menginisiasi dan mengawal program "Primajasa Peduli Pendidikan" yang telah berjalan sejak tahun 2014. Program filantropi ini berfokus memberikan beasiswa penuh kepada anak-anak karyawan serta masyarakat umum di wilayah Tasikmalaya, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, guna menjamin akses pendidikan yang layak bagi keluarga prasejahtera.[8]
Sektor Publik
Dalam kancah organisasi profesi, rekam jejak Tiar bermula saat ia aktif sebagai anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sejak tahun 2018. Pengalamannya di industri keuangan digital kemudian membawanya dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) untuk periode 2023–2025. Selama masa jabatannya di asosiasi tersebut, ia berperan dalam mendorong tata kelola industri fintech lending yang sehat serta memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat.[9]
Karier publiknya berlanjut pada tahun 2024 ketika Tiar secara resmi diangkat menjadi Staf Khusus Presiden Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih. Dalam kapasitas ini, ia diberikan mandat khusus untuk merumuskan kebijakan strategis terkait transformasi digital sektor ekonomi kerakyatan. Fokus utamanya mencakup percepatan digitalisasi UMKM serta mendorong adopsi teknologi tepat guna, seperti kecerdasan buatan (AI), guna meningkatkan produktivitas dan daya saing pelaku usaha kecil di pasar modern.[10][11]
Kegiatan Kunjungan Program Staf Khusus Presiden
Di wilayah Indonesia Timur, perhatian Tiar tertuju pada akselerasi ekonomi di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Dalam kunjungan ini, ia menghadiri Festival Wisma Raya dan menekankan urgensi peningkatan literasi digital bagi masyarakat kepulauan. Tiar mendorong para pelaku usaha lokal untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai jembatan untuk mengatasi kendala geografis, sehingga produk-produk unggulan Alor dapat menjangkau pasar yang lebih luas di luar wilayah NTT.[12][13]
Sementara itu, kunjungan kerja di kawasan penyangga ibu kota, seperti Kota Depok dan Bogor, difokuskan pada adopsi teknologi mutakhir untuk meningkatkan daya saing di pasar yang lebih kompetitif. Di kedua kota ini, Tiar menyampaikan arahan mengenai pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan strategi pemasaran digital yang terukur. Ia menilai bahwa digitalisasi di kawasan urban tidak lagi sekadar soal kehadiran daring, melainkan tentang efisiensi operasional dan ketepatan membaca tren pasar menggunakan bantuan teknologi.[14][15][16][17]
Selanjutnya, dalam lawatannya ke sentra industri kreatif di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Tiar menggalakkan program "UMKM Naik Kelas" dengan target spesifik pada orientasi ekspor. Untuk merealisasikan hal tersebut, ia memfasilitasi proses onboarding digital melalui kolaborasi dengan lembaga Smesco Indonesia. Kerja sama ini mencakup penyediaan kuota akses gratis bagi para pelaku usaha, yang bertujuan untuk mempermudah integrasi produk lokal Garut ke dalam ekosistem perdagangan digital nasional maupun global.[18][19]