Syarikat Mengurus Air Banjir dan Terowong Sdn Bhd (SMART)
Tol
Mobil pribadi dan taksi
Teknis
Panjang
4km (2,5mi)
Jumlah lajur
4, double-decked
Kelajuan yang diizinkan
60km/h
Terowongan Jalan Raya dan Manajemen Air Banjir (bahasa Melayu:Terowong Jalan Raya dan Pengurusan Air Banjircode: ms is deprecated ; bahasa Inggris:Stormwater Management and Road Tunnelcode: en is deprecated ) (SMART) dengan kode adalah sebuah struktur jalan dan drainase yang terletak di Kuala Lumpur, Malaysia serta merupakan salah satu proyek nasional di negara tersebut. Panjang terowongan ini adalah 9,7 kilometer, tetapi ruas yang dapat dilalui kendaraan hanya sepanjang 3,3 kilometer. Terowongan ini merupakan terowongan pengalihan air terpanjang di Asia Tenggara dan yang kedua terpanjang di Asia.[1]
Tujuan utama terowongan ini adalah untuk mengatasi masalah banjir kilat di Kuala Lumpur sekaligus mengurangi kemacetan lalu lintas di sepanjang Jalan Sungai Besi dan jembatan layang Loke Yew di Pudu pada jam sibuk. Pada dasarnya, terowongan ini memiliki dua dek jalur satu arah untuk kendaraan, sementara bagian paling bawah digunakan sebagai saluran air.[2]
Terowongan SMART dirancang untuk digunakan oleh kendaraan ringan dengan tinggi maksimum 2 meter, dengan batas kecepatan yang ditetapkan sebesar 60 km/jam. Sepeda motor serta kendaraan berat seperti truk dan bus tidak diizinkan melintasi terowongan ini. Terowongan ini dibuka untuk lalu lintas pada 7 April 2007 dan tarif tol yang diberlakukan adalah sebesar RM 3,00.[3]
Sejarah
Pada tahun 2001, pemerintah Malaysia meminta usulan solusi yang memungkinkan terjadinya banjir dengan durasi antara tiga hingga enam jam tanpa mengakibatkan pusat kota terendam banjir.[4] Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan membangun sebuah terowongan yang memungkinkan aliran banjir dialihkan melewati pusat kota, dengan syarat dilengkapi fasilitas penampungan sementara agar debit air di hilir Kuala Lumpur tetap berada dalam kapasitas sungai. Sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Gamuda kemudian menggandeng SSP, sebuah perusahaan konsultan teknik besar asal Malaysia, serta Mott MacDonald dari Inggris untuk menyusun usulan pembangunan terowongan dengan kolam penampung di bagian hulu dan hilir terowongan tersebut.[3]
Pembangunan terowongan ini dimulai pada 25 November 2003. Dua unit mesin bor terowongan (TBM) Herrenknecht dari Jerman digunakan dalam proyek ini, yaitu Tuah di sisi utara dan Gemilang di sisi selatan. Gusztáv Klados bertindak sebagai manajer proyek senior dalam pembangunan tersebut.[5]
Pada 11 Desember 2003, TBM Mixshield berdiameter 13,2 meter bernama Tuah berhasil menyelesaikan penggalian sepanjang 737 meter setelah 24 minggu pekerjaan. Menjelang akhir Januari 2004, Tuah memulai tahap penggalian kedua yang mencakup jarak 4,5 km menuju danau Kampung Berembang. Sementara itu, bagian jalan raya dalam sistem SMART secara resmi dibuka pada pukul 3:00 sore, 14 Mei 2007, setelah mengalami beberapa kali penundaan.[3]
Pengoperasian
Empat mode pengoperasian dan kapasitas penampungan.
Pada mode pertama, dalam kondisi normal ketika tidak terjadi badai, tidak ada air banjir yang dialihkan ke dalam sistem. Ketika mode kedua diaktifkan, air banjir dialirkan ke terowongan pengalihan yang berada di bawah terowongan jalan raya. Pada tahap ini, bagian jalan raya masih tetap dibuka untuk lalu lintas.[6]
Saat mode ketiga dijalankan, jalan raya akan ditutup untuk seluruh lalu lintas. Setelah dipastikan semua kendaraan telah keluar dari terowongan, pintu otomatis kedap air akan dibuka untuk memungkinkan air banjir mengalir melaluinya. Setelah banjir berakhir, terowongan akan diperiksa dan dibersihkan menggunakan semprotan bertekanan tinggi, dan jalan raya akan dibuka kembali untuk lalu lintas dalam waktu 48 jam setelah penutupan.[6]
Hingga 18 Juli 2010, sistem SMART telah berhasil mencegah tujuh kejadian banjir kilat yang berpotensi menimbulkan bencana di pusat kota, setelah hanya beberapa minggu sejak pembukaan bagian jalan rayanya sistem ini sudah harus memasuki operasi Mode 3 untuk pertama kalinya.[2][7]
Hingga September 2020, terowongan ini telah mengaktifkan mode keempatnya untuk yang ketujuh kalinya. Saat terjadi banjir kilat pada 10 September 2020, terowongan tersebut berhasil mengalihkan sekitar tiga juta meter kubik air.[8][9]
Pada Desember 2021, SMART memasuki Mode 4 untuk kedelapan kalinya, akibat banjir besar yang dipicu oleh hujan lebat yang berlangsung dari 16 hingga 18 Desember. Kondisi di Kuala Lumpur diperkirakan akan jauh lebih buruk seandainya tidak ada terowongan ini, yang berhasil mengalihkan sekitar 5 juta meter kubik air banjir selama 22 jam saat sistem diaktifkan penuh.[10]
Tarif tol
Terowongan SMART menggunakan sistem tol terbuka. Sejak mulai beroperasi, seluruh transaksi tol di plaza tol ini dilakukan menggunakan kartu Touch 'n Go, MyRFID, atau SmartTAG. Pembayaran tunai tidak diterima.[11]
1234Jaafar, Fauzi; Asli, Yulpisman (12 Maret 2007). "Terowong SMART diguna 7 April". Utusan Malaysia Online (dalam bahasa Melayu). Diarsipkan dari asli tanggal 14 Maret 2007. Diakses tanggal 7 Januari 2026.
↑"A Dual-Purpose Tunnel"(PDF). Ingenia (dalam bahasa Inggris). 30 Maret 2007. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 13 April 2020. Diakses tanggal 24 Januari 2012.