Artikel ini berisi tentang faktorisasi tunggal dari bilangan bulat menjadi bilangan prima. Untuk teorema mengenai akar dari polinomial, lihat Teorema dasar aljabar. Untuk teorema dasar lainnya, lihat Daftar teorema dengan sebutan dasar.
Dalam matematika, teorema dasar aritmetika (dikenal juga sebagai teorema fundamental aritmetika, teorema pemfaktoran tunggal,[3]teorema faktorisasi tunggal,[3][4] dan teorema faktorisasi prima) menyatakan bahwa setiap bilangan asli memenuhi tepat satu dari dua pernyataan berikut:
dapat dinyatakan secara tunggal sebagai darab dari bilangan-bilangan prima, dengan urutan perkalian faktor-faktornya diabaikan.[5][6][7]
Sebagai contoh,
Teorema ini menyatakan dua hal dari contoh di atas:
bahwa 1200 dapat direpresentasikan sebagai darab dari bilangan-bilangan prima, dan
terlepas dari bagaimanapun penyusunannya, pasti terdapat tepat empat bilangan 2, satu bilangan 3, dua bilangan 5, dan tidak ada bilangan prima lain dalam darabnya.
Persyaratan bahwa faktor-faktornya merupakan bilangan prima adalah hal yang diperlukan: faktorisasi dengan menggunakan bilangan komposit mungkin saja tidak tunggal. Sebagai contoh, .
Dengan menggunakan konvensi standar untuk darab barisan,[note 1] maka isi pernyataan teorema dasar aritmetika ialah setiap bilangan asli dapat dinyatakan secara tunggal sebagai darab dari bilangan-bilangan prima, dengan urutan perkalian tidak diperhatikan.
Teorema dasar aritmetika dapat diturunkan dari Buku VII, proposisi 30, 31, dan 32, serta Buku IX, proposisi 14 dari Elements karya Euclid.
Jika dua bilangan dikalikan satu sama lain dan menghasilkan suatu bilangan, dan jika suatu bilangan prima mengukur darabnya, maka bilangan prima tersebut juga mengukur salah satu dari kedua bilangan di awal.
(Dalam terminologi modern: jika suatu bilangan prima habis membagi darab , maka habis membagi atau habis membagi atau keduanya.) Proposisi 30 dikenal sebagai lema Euclid, dan menjadi kunci dari pembuktian teorema dasar aritmetika.
Setiap bilangan komposit diukur oleh suatu bilangan prima.
(Dalam terminologi modern: setiap bilangan asli yang lebih dari satu akan habis dibagi oleh suatu bilangan prima.) Proposisi 31 dibuktikan menggunakan teknik pembuktian melalui penurunan takhingga.
Setiap bilangan antara berupa bilangan prima, atau dapat diukur oleh suatu bilangan prima.
Proposisi 32 dapat diturunkan melalui proposisi 31, yang membuktikan bahwa penguraiannya dimungkinkan terjadi.
Jika suatu bilangan merupakan bilangan terkecil yang diukur oleh bilangan-bilangan prima, maka bilangan tersebut tidak akan terukur oleh sembarang bilangan prima lain selain bilangan-bilangan prima yang mengukurnya.
(Dalam terminologi modern: kelipatan persekutuan terkecil dari beberapa bilangan prima bukanlah kelipatan dari sembarang bilangan prima lainnya). Proposisi 14 pada Buku IX dapat diturunkan dari proposisi 30 pada Buku VII, yang membuktikan sebagian bahwa penguraiannya bersifat tunggal – suatu poin yang ditekankan oleh André Weil.[note 3] Dalam proposisi ini, semua pangkatnya bernilai sama dengan satu, sehingga kasus umumnya belum terbukti.
Selagi Euclid mengambil langkah pertama menuju kewujudan dari faktorisasi prima, Kamāl al-Dīn al-Fārisī mengambil langkah terakhir[note 4] dan menyatakan teorema dasar aritmetika untuk pertama kalinya.[note 5]
Setiap bilangan asli dapat dinyatakan secara tunggal sebagai darab dari perpangkatan bilangan prima
dengan merupakan bilangan-bilangan prima dan setiap merupakan bilangan asli nonnegatif. Representasi ini umumnya diperluas menjadi seluruh bilangan asli (termasuk 1) dengan konvensi bahwa nilai dari darab kosong ialah 1 (darab kosong berpadanan dengan nilai ).
Representasi ini disebut representasi kanonik[8] dari , bentuk kanonik[9] dari , atau bentuk standar[10][11] dari . Sebagai contoh,
Faktor dapat dimasukkan tanpa mengubah nilai dari . Misalnya, . Secara umum, setiap bilangan asli dapat secara tunggal dinyatakan sebagai darab takhingga dari semua bilangan prima positif, yaitu
dengan banyaknya yang bernilai positif ialah berhingga, dan sisanya bernilai nol.
Memperbolehkan pangkat negatif akan memberikan bentuk kanonik dari bilangan rasional positif.
Akan tetapi, proses memfaktorkan bilangan bulat—terutama bilangan-bilangan yang besar—jauh lebih sulit dibandingkan menghitung darab, FPB, maupun KPK, sehingga pada penerapannya, rumus-rumus di atas memiliki penggunaan yang cukup terbatas.
Banyak fungsi aritmetika yang didefinisikan menggunakan bentuk kanonik. Lebih spesifiknya, nilai fungsi aditif dan fungsi perkalian dari bilangan asli ditentukan oleh nilai pangkat dari bilangan prima yang muncul dari bentuk kanonik dari .
Bukti
Bukti dari sifat ketunggalan faktorisasi prima menggunakan lema Euclid (Elements VII, proposisi 30): Jika suatu bilangan prima habis membagi darab dari dua bilangan asli, maka bilangan prima tersebut habis membagi salah satu dari kedua bilangan asli tersebut.
Kewujudan
Diambil sembarang bilangan asli . Akan diasumsikan secara induktif bahwa setiap bilangan asli yang nilainya kurang dari antara berupa bilangan prima, atau merupakan darab dari bilangan-bilangan prima. Jika merupakan bilangan prima, maka pernyataan terbukti.
Jika bukan merupakan bilangan prima, maka terdapat bilangan asli dan sedemikian sehingga , dengan . Berdasarkan hipotesis induktif, maka dan dapat berupa bilangan prima, atau dapat dinyatakan sebagai darab dari bilangan-bilangan prima.
Akibatnya, diperoleh
yang menunjukkan bahwa merupakan darab dari bilangan-bilangan prima.
Ketunggalan
Diambil sembarang beserta dua faktorisasi primanya, yaitu
dengan dan setiap serta merupakan bilangan prima. Oleh karena habis membagi , maka habis membagi . Berdasarkan lema Euclid, maka terdapat suatu sedemikian sehingga habis membagi . Tanpa mengurangi keumuman, diasumsikan bahwa habis membagi . Oleh karena dan merupakan bilangan prima, maka . Akibatnya, diperoleh
Dengan proses serupa, perhatikan bahwa habis membagi . Akibatnya, habis membagi . Berdasarkan lema Euclid, maka terdapat suatu sedemikian sehingga habis membagi . Dengan argumen serupa seperti sebelumnya, diasumsikan bahwa habis membagi . Oleh karena dan merupakan bilangan prima, maka . Akibatnya, didapatkan
Jika , maka proses ini akan berakhir pada persamaan
yang jelas mustahil terjadi, sebab setiap bilangan prima akan memenuhi pertidaksamaan , sehingga ruas kanan tidak mungkin sama dengan satu. Akibatnya, .
Oleh karena , maka berlaku
yang berarti bahwa memiliki faktorisasi prima yang bersifat tunggal.
Andaikan himpunan semua bilangan asli yang faktorisasi primanya tidak tunggal bukan merupakan himpunan kosong, maka berdasarkan prinsip urutan rapi, terdapat suatu bilangan asli terkecil yang memiliki setidaknya dua faktorisasi prima, yaitu
dengan dan setiap serta merupakan bilangan prima. Hal ini mengakibatkan bahwa (jika ada) merupakan bilangan komposit yang nilainya lebih dari .
Andaikan terdapat suatu dan sedemikian sehingga , maka terdapat suatu bilangan asli yang nilainya kurang dari , tetapi faktorisasi primanya tidak tunggal. Namun, hal ini mustahil terjadi, sebab adalah bilangan asli terkecil yang memiliki sifat tersebut. Akibatnya, setiap harus berbeda dengan setiap . Tanpa mengurangi keumuman, diasumsikan bahwa dengan menukar dua faktorisasinya, jika diperlukan.
Didefinisikan
sehingga diperoleh . Oleh karena , maka .[note 6] Tinjau bilangan , yaitu
Jelas bahwa . Oleh karena adalah bilangan asli terkecil yang memiliki faktorisasi prima yang tidak tunggal, maka setiap bilangan asli yang kurang dari memiliki faktorisasi prima yang tunggal. Berdasarkan persamaan
maka harus muncul sebagai faktor dari atau .
andaikan merupakan faktor dari , maka juga merupakan faktor dari . Namun, hal ini mustahil terjadi, sebab diketahui bahwa dan merupakan bilangan prima yang berbeda.
jelas bahwa , sehingga memiliki faktorisasi prima yang tunggal. Oleh karena haruslah berbeda dengan setiap , maka mustahil menjadi faktor dari .
Berdasarkan kedua kasus di atas, maka pernyataan " harus muncul sebagai faktor dari atau " bersifat kontradiktif, sehingga pernyataan "himpunan semua bilangan asli yang faktorisasi primanya tidak tunggal bukan merupakan himpunan kosong" bernilai salah. Dengan kata lain, himpunan semua bilangan asli yang faktorisasi primanya tidak tunggal merupakan himpunan kosong, yang berarti bahwa setiap bilangan asli memiliki faktorisasi prima yang tunggal.
Perumuman pertama dari teorema dasar aritmetika ditemukan dalam monografi kedua Gauss (1832) dalam timbal balik kuartik. Paper ini memperkenalkan apa yang sekarang disebut sebagai gelanggangbilangan bulat Gauss, yaitu himpunan seluruh bilangan kompleks, dengan , . Gelanggang ini ditulis sebagai . Gelanggang ini memiliki empat unit, yaitu dan . Gauss berhasil menunjukkan bahwa setiap bilangan tak nol dan tak unit berada pada tepat satu kategori, yaitu bilangan prima dan bilangan komposit. Lebih lanjut, Gauss juga menunjukkan bahwa setiap bilangan komposit pada juga dapat secara tunggal dinyatakan sebagai darab dari bilangan-bilangan prima, dengan mengabaikan urutan perkalian serta mengabaikan perkalian oleh unit.[13]
Serupa seperti Gauss, Eisenstein memperkenalkan gelanggang pada tahun 1844 ketika mempelajari timbal balik kubik, dengan , yaitu akar satuan primitif ke-3. Himpunan ini dikenal sebagai gelanggang bilangan bulat Eisenstein, dan Eisenstein membuktikan bahwa gelanggang ini memiliki enam unit, yaitu , , dan , serta setiap bilangan Eisenstein memiliki faktorisasi yang tunggal.
Namun, sifat faktorisasi tunggal tidak selalu berlaku. Misalnya dalam gelanggang , perhatikan bahwa[14]
Contoh-contoh seperti ini membuat gagasan "bilangan prima" akhirnya dimodifikasi. Dapat dibuktikan bahwa jika setiap faktor di atas dapat dinyatakan sebagai darab dari dua bilangan pada (misalnya ), maka salah satu dari kedua bilangan tersebut merupakan unit pada . Ini adalah definisi tradisional dari "bilangan prima". Selain itu, dapat dibuktikan bahwa lema Euclid tidak berlaku pada faktorisasi di atas. Misalnya, walaupun 2 habis membagi , tetapi 2 tidak habis membagi maupun konjugatnya. Dalam teori bilangan aljabar, 2 disebut sebagai elemen tak tereduksi pada (sebab 2 hanya habis dibagi oleh unit pada atau oleh dirinya sendiri), tetapi bukan merupakan elemen prima pada (jika 2 habis membagi suatu darab, maka 2 juga harus membagi salah satu faktor pada darabnya). Himpunan perlu disinggung, sebab 2 merupakan elemen prima sekaligus elemen tereduksi pada . Dengan definisi ini, maka dapat dibuktikan bahwa setiap elemen prima pada daerah integral merupakan elemen tak tereduksi. Lema klasik dari Euclid dapat dinyatakan ulang sebagai "dalam gelanggang bilangan bulat , setiap elemen tak tereduksi merupakan elemen prima". Hal ini juga berlaku pada dan , tetapi tidak pada .
Pada tahun 1843, Kummer memperkenalkan konsep bilangan ideal, yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Dedekind (1876) menjadi teori modern dari ideal, yaitu himpunan bagian spesial dari gelanggang. Operasi perkalian didefinisikan untuk ideal, dan gelanggang yang memiliki faktorisasi tunggal disebut sebagai daerah Dedekind.
↑Nilai dari darab kosong ialah dan darab dari satu faktor ialah faktor itu sendiri
↑Dalam gelanggang bilangan bulat aljabar, hasil faktorisasi menjadi elemen-elemen prima mungkin saja tidak tunggal. Namun, sifat faktorisasi tunggal dapat dipulihkan jika hasil faktorisasinya berupa idealprima.
↑(Weil 2007, hlm.5): "Bahkan semasa Euclid, kita gagal untuk mencari pernyataan umum mengenai ketunggalan dari faktorisasi bilangan bulat menjadi bilangan-bilangan prima; pastinya ia telah menyadari akan hal tersebut, tetapi apa yang ia punya hanyalah pernyataan (Eucl.IX.14) mengenai K.P.K. dari sembarang banyaknya bilangan-bilangan prima yang diberikan."
↑Agargun, A. Goksel; Özkan, E. Mehmet. "A Historical Survey of the Fundamental Theorem of Arithmetic"[Survei Sejarah mengenai Teorema Dasar Aritmetika](PDF). Historia Mathematica (dalam bahasa Inggris): 209. One could say that Euclid takes the first step on the way to the existence of prime factorization, and al-Fārisī takes the final step by actually proving the existence of a finite prime factorization in his first proposition.[Dapat dikatakan bahwa Euclid mengambil langkah pertama menuju kewujudan dari faktorisasi prima, dan al-Fārisī mengambil langkah terakhir dengan membuktikan kewujudan dari faktorisasi prima berhingga pada proposisi pertama miliknya.]
↑Rashed, Roshdi (11 September 2002). Encyclopedia of the History of Arabic Science[Ensiklopedia mengenai Sejarah dari Sains di Arab] (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.385. ISBN9781134977246. The famous physicist and mathematician Kamal al-Din al-Farisi compiled a paper in which he set out deliberately to prove the theorem of Ibn Qurra in an algebraic way. This forced him to an understanding of the first arithmetical functions and to a full preparation which led him to state for the first time the fundamental theorem of arithmetic.[Fisikawan dan matematikawan terkenal, Kamal al-Din al-Farisi, menyusun paper yang ia susun secara sengaja untuk membuktikan teorema dari Ibn Qurra secara aljabar. Hal ini memaksa ia untuk memahami fungsi aritmetika pertama dan melakukan persiapan yang matang, yang pada akhirnya membuat ia menyataan untuk pertama kalinya teorema dasar aritmetika.]
↑Diketahui bahwa , maka diperoleh . Oleh karena , maka , sehingga .
Disquisitiones Arithmeticae telah diterjemahkan dari bahasa Latin Ciceronian Gauss ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Edisi Jerman mencakup semua paper teori bilangan miliknya: semua bukti dari timbal balik kuadratik, penentuan tanda dari jumlah Gauss, penyelidikan timbal balik bikuadratik, serta catatan yang tidak diterbitkan.
Gauss, Carl Friedrich (1986). Disquisitiones Arithemeticae (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Clarke, Arthur A. (Edisi kedua, telah diperbaiki). New York: Springer. ISBN0-387-96254-9.
Gauss, Carl Friedrich (1965). Untersuchungen uber hohere Arithmetik (Disquisitiones Arithemeticae & paper lainnya dalam teori bilangan) (dalam bahasa Jerman). Diterjemahkan oleh Maser, H. (Edisi ke-2). New York: Chelsea. ISBN0-8284-0191-8.
Dua monografi yang Gauss publikasikan mengenai timbal balik kuartik memiliki bagian yang telah diberi nomor secara berurutan: monografi pertama memuat §§ 1–23 dan yang kedua §§ 24–76. Catatan-catatan kaki yang mereferensikan hal ini memiliki bentuk umum "Gauss, BQ, § n", sedangkan catatan-catatan kaki yang mereferensikan Disquisitiones Arithmeticae memiliki bentuk umum "Gauss, DA, Art. n".
Gauss, Carl Friedrich (1828), Theoria residuorum biquadraticorum, Commentatio prima, Göttingen: Comment. Soc. regiae sci, Göttingen 6
Gauss, Carl Friedrich (1832), Theoria residuorum biquadraticorum, Commentatio secunda, Göttingen: Comment. Soc. regiae sci, Göttingen 7
Kedua monografi tersebut merupakan bagian dari Werke karya Gauss, Vol II, hlm.65–92 dan hlm. 93–148; terjemahan Jerman berada pada hlm.511–533 dan hlm.534–586 dari edisi Jerman dari Disquisitiones.
Long, Calvin T. (1972), Elementary Introduction to Number Theory[Pengantar Elementer dari Teori Bilangan] (dalam bahasa Inggris) (Edisi ke-2), Lexington: D. C. Heath and Company, LCCN77171950
Pettofrezzo, Anthony J.; Byrkit, Donald R. (1970), Elements of Number Theory[Elemen Teori Bilangan] (dalam bahasa Inggris), Englewood Cliffs: Prentice Hall, LCCN71081766
Riesel, Hans (1994), Prime Numbers and Computer Methods for Factorization[Bilangan Prima dan Metode Komputer untuk Pemfaktoran] (dalam bahasa Inggris) (Edisi ke-2), Boston: Birkhäuser, ISBN978-0-8176-3743-9
Grime, James (3 Februari 2012), "1 and Prime Numbers"[1 dan Bilangan Prima], Numberphile (dalam bahasa Inggris), Brady Haran, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-11