Kerajinan tenun di Dusun Gamplong telah dirintis sejak tahun 1950-an. Pada waktu itu, perajin hanya memproduksi tenun gendong untuk menenun agel atau sejenis bagor. Pada tahun 1953, perajin mulai menggunakan alat tenun bukan mesin atau dikenal dengan ATBM. Produk yang dihasilkan berupa kain serbet, belacu, lurik, dan stagen.[2] Seiring dengan perkembangan zaman, pengerjaan tenun ini menggunakan bahan baku dari serat alam diantaranya lidi, eceng gondok, pandan, akar wangi.[3] Pengembangan produk meliputi tas wanita, taplak meja, hiasan dinding, dan kerajinan tekstil lainnya.[4]
Keahlian pemasok yang dimiliki oleh masyarakat Gamplong diperoleh atau diturunkan dari generasi ke generasi. Dahulu kegiatan menenun hanya dilakukan setelah musim tanam, ketika masyarakat menunggu musim panen tiba, sedangkan saat musim tanam dan musim panen, masyarakat sibuk di sawah mereka masing-masing. Ketika musim tanam dan musim panen, beberapa penenun memilih untuk bekerja menggarap sawah. Meskipun tidak sedikit yang telah menjadikan kegiatannya sebagai mata pencaharian pokok bagi mereka.[6]
Proses distribusi
Selain dipasarkan melalui galeri di Gamplong sendiri, tenun juga dijual secara daring dan konsiniasi ke toko-toko tempat wisata di Yogyakata, seperti Malioboro. Untuk pemasaran daring, pemasarannya sudah menembus Bali hingga Australia dan Jepang.
↑Kumalawati, Clara; Nasiwan (2018). [file:///Users/mac/Downloads/12735-28070-1-SM.pdf "GAMPLONG's NATURAL FIBER WEAVING CRAFT"] (PDF). Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.