Teh mint memiliki peran sentral dalam kehidupan sosial masyarakat Maghreb[11] dan sangat populer di kalangan suku Tuareg di Aljazair, Libya, Niger, dan Mali.[12] Penyajiannya sering kali bersifat seremonial, terutama ketika disuguhkan kepada tamu. Secara tradisional, teh ini disiapkan oleh kepala keluarga laki-laki sebagai simbol keramahan, dan biasanya disajikan dalam tiga gelas berturut-turut.[13] Teh mint diminum sepanjang hari sebagai bagian dari aktivitas sosial.[11][14][15]
Jenis mint yang umum digunakan dalam teh mint Maghrebi adalah na'na' (نعناع), yaitu spearmint lokal yang memiliki aroma lembut namun tajam. Namun, beberapa varietas atau hibrida lain seperti yerba buena terkadang digunakan sebagai pengganti. Di Maroko, teh mint kadang diberi tambahan aroma dari bunga jeruk, rempah, atau bunga-bungaan lainnya. Pada musim dingin, teh ini kerap diperkaya dengan herba penghangat seperti marjoram, sage, verbena, dan wormwood.[11]
Etimologi
Di Mauritania, Maroko, dan Aljazair, istilah yang digunakan untuk menyebut teh adalah tay, atay, atau latay, sedangkan di Tunisia disebut et-tey.[16] Istilah-istilah ini berbeda dari kata Arab umum untuk teh, yaitu syai (شاي). Menurut ahli bahasa Van Driem, bentuk it-tay berasal dari bahasa Belandathee.[17]
Sejarah
Teh mesiu diperkenalkan ke Afrika Utara oleh bangsa Britania pada abad ke-18 dan ke-19 melalui Maroko dan Aljazair.[18] Menurut sejarawan kuliner Helen Saberi, kebiasaan meminum teh hijau yang diseduh dengan daun mint menyebar dari Maroko ke Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, serta ke suku-suku nomaden Berber dan Tuareg di wilayah Sahara.[19] Gula dan teh dibawa dari Eropa menuju pelabuhan Essaouira, tempat para pedagang Yahudi yang mulai bermigrasi ke kota-kota pesisir pada abad ke-19 mengelola distribusinya ke pedalaman Maroko.[20] Penjelajah James Richardson mencatat deskripsi tentang upacara minum teh Maroko pada tahun 1840-an, dan menyebutkan bahwa selama perjalanannya teh diminum secara luas dan sepanjang hari.[14]
↑Deubel, Tara F.; Youngstedt, Scott M.; Tissières, Hélène (2016-10-22). Saharan Crossroads: Exploring Historical, Cultural, and Artistic Linkages. hlm.185.
↑Van Driem, George (2019). The Tale of Tea: A Comprehensive History of Tea from Prehistoric Times to the Present Day (dalam bahasa English). Brill. hlm.460. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)