Sinopsis
Di Sukamakmur, warga tergabung dalam Paguyuban yang dipimpin oleh Dermawan, seorang pria yang memiliki prinsip “GA TIGA” (Ga Bohong, Ga Kriminal, Ga Emosian). Kehidupan mereka yang semula berjalan dengan damai mulai terguncang ketika Tukir, salah satu anggota Paguyuban, ketahuan pura-pura cacat. Perilaku Tukir tersebut menyebabkan kekacauan yang memicu pertikaian internal di dalam komunitas.
Namun, masalah tidak berhenti sampai di situ. Dermawan harus berhadapan dengan tantangan baru dari putrinya, Diva, yang menganggap bisnis tersebut hina dan ingin membuktikan dirinya dengan hidup mandiri. Perjuangannya untuk menunjukkan kemandirian justru menghadapkan Diva pada kenyataan pahit, termasuk ketika dia harus berurusan dengan Ariel, teman kampusnya yang mengetahui tentang pekerjaan ayahnya.
Disisi lain, kelompok pesaing bernama Pentol, yang dipimpin oleh Tole, mulai menarik perhatian warga Sukamakmur, termasuk Tukir dan Sri. Kondisi ini menyebabkan perpecahan di tengah masyarakat Sukamakmur yang semula harmonis. Ketegangan semakin memuncak, dan Dermawan mulai menyadari bahwa niat awalnya mendirikan Paguyuban, untuk membantu warga beralih ke pekerjaan yang lebih bermartabat ternyata semakin sulit tercapai.
Tantangan besar yang dihadapi Dermawan adalah bagaimana menyatukan kembali warga Sukamakmur dan mengubah nasib mereka di tengah kekacauan yang terjadi. Sementara itu, Diva juga harus menghadapi perjuangan keras untuk membuktikan bahwa dia bisa mandiri, dengan dilema cinta yang tak kalah rumit antara Ariel dan Rendi.