Sejarah
Sejak akhir abad ke-19, Chitwan merupakan tempat favorit untuk berburu bagi kalangan penguasa Nepal selama musim dingin yang sejuk. Hingga tahun 1950-an, perjalanan dari Kathmandu ke wilayah selatan Nepal sangat sulit karena hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki dan memakan waktu beberapa minggu. Kamp-kamp yang nyaman didirikan untuk para bangsawan pemburu hewan besar beserta rombongannya, di mana mereka tinggal selama beberapa bulan dan menembak ratusan harimau, badak, gajah, macan tutul, serta beruang madu.[1]
Pada tahun 1950, hutan dan padang rumput Chitwan masih membentang lebih dari 2.600 km² (1.000 mil²) dan menjadi habitat bagi sekitar 800 ekor badak. Ketika para petani miskin dari daerah perbukitan tengah pindah ke Lembah Chitwan untuk mencari lahan pertanian, wilayah tersebut kemudian dibuka untuk permukiman, dan perburuan liar pun marak terjadi. Pada tahun 1957, undang-undang konservasi pertama di negara itu mulai berlaku untuk melindungi badak dan habitatnya. Penelitian terhadap Chitwan dilakukan oleh Edward Pritchard Gee antara tahun 1959 hingga 1963.[2][3]
Menjelang akhir 1960-an, 70% hutan Chitwan telah ditebang, malaria diberantas menggunakan DDT, ribuan orang telah menetap di sana, dan hanya tersisa 95 ekor badak. Penurunan tajam populasi badak dan tingginya tingkat perburuan liar mendorong pemerintah membentuk Gaida Gasti — satuan patroli pengintai badak yang terdiri dari 130 personel bersenjata dan jaringan pos penjagaan di seluruh wilayah Chitwan. Untuk mencegah kepunahan badak, Taman Nasional Chitwan diresmikan pada Desember 1970, dengan batas wilayah ditetapkan setahun kemudian, dan secara resmi didirikan pada tahun 1973 dengan luas awal 544 km² (210 mil²).[4]
Ketika kawasan konservasi pertama kali dibentuk di Chitwan, masyarakat Tharu dipaksa untuk meninggalkan tanah adat mereka. Mereka tidak diberi hak atas kepemilikan tanah dan akhirnya terjerumus dalam kondisi tanpa tanah dan kemiskinan. Saat taman nasional ditetapkan, tentara Nepal menghancurkan desa-desa yang berada di dalam batas taman, membakar rumah-rumah, dan merusak ladang dengan menggunakan gajah. Masyarakat Tharu diusir dengan todongan senjata.[5]
Pada tahun 1977, taman ini diperluas hingga mencapai luasnya yang sekarang, yaitu 952,63 km² (367,81 mil²). Pada tahun 1997, zona penyangga seluas 766,1 km² (295,8 mil²) ditambahkan di sebelah utara dan barat sistem sungai Narayani-Rapti, serta di antara batas tenggara taman dan perbatasan internasional dengan India.[6]