Taheri lahir di Pontianak pada 15 Agustus 1937. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Pontianak pada tahun 1945, pendidikan menengah di SMP Pontianak tahun 1951, dan SMA 1 Pontianak pada 1954, ia kemudian menjadi Ketua Ikatan Sarjana Lulusan SMA 1 Pontianak di Jakarta.[1]
Pasca menyelesaikan SMA, Taheri pindah ke Jawa dimana ia mendaftar di Sekolah Kader Infanteri (SKI). Ia menamatkan sekolah tersebut hingga tahun 1957 dan dikirim oleh TNI untuk belajar kedokteran di Universitas Airlangga.[1] Ia lulus dari universitas tersebut pada tanggal 23 Januari 1965.[2]
Taheri mengikuti berbagai kursus tentang hubungan internasional dan intelijen selama karier militernya. Ia juga menempuh studi pascasarjana mengenai ketahanan nasional di Universitas Indonesia dan lulus dengan gelar Master of Arts pada tahun 1989.[1]
Karier militer
Taheri mengawali karier militernya pada tahun 1965 sebagai dokter di Dinas Kesehatan Angkatan Darat. Selama lima tahun hingga tahun 1970, ia dipindahtugaskan ke berbagai komando angkatan darat. Ia kemudian ditugaskan ke Dinas Psikologi Angkatan Darat (DIPIAD) pada tahun 1969 dan menjadi wakil komandan bagian investigasi di DIPIAD pada tahun berikutnya.[1]
Kurang dari setahun kemudian, pada tahun 1970, ia dipindahtugaskan ke Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan ditunjuk untuk memimpin biro atase lembaga tersebut. Ia mengepalai beberapa lembaga seperti biro luar negeri, biro kimia, dan laboratorium kimia. Setelah itu, ia menduduki beberapa jabatan intelijen tingkat tinggi di lembaga tersebut sebelum dipindahtugaskan ke markas besar angkatan bersenjata pada tahun 1984.[1]
Selama bertugas di BAIS, Taheri terlibat dalam berbagai kegiatan intelijen. Pada tahun 1980, setelah kerusuhan anti-Tiongkok di Jawa Tengah, Taheri dan beberapa perwira intelijen lainnya dikirim untuk melakukan operasi intelijen di provinsi tersebut. Ia juga terlibat dalam kegiatan di luar negeri, dengan dikirim ke Vietnam sebagai perwira intelijen untuk Kontingen Garuda selama tahun-tahun terakhir Perang Vietnam. Beberapa tahun kemudian, ia dikirim ke Kamboja untuk membantu pendirian kedutaan besar Indonesia di Republik Rakyat Kamboja yang baru dibentuk. Penugasan militer terakhirya di luar negeri adalah ke Namibia pada tahun 1989 sebagai bagian dari tim pengamat PBB.[1]
Pada tahun 1988, beberapa bulan menjelang berakhirnya masa jabatan Mayor Jenderal Soedjiman sebagai Gubernur Kalimantan Barat, sejumlah nama dicalonkan oleh DPRD setempat sebagai calon penggantinya. Di antara nama-nama tersebut adalah Taheri Noor yang saat itu masih bertugas di BAIS. Namun, nama Taheri dicoret dari daftar pencalonan karena dianggap tidak "memenuhi syarat yang berlaku" bagi perwira militer.[3]
Taheri menjabat sebagai anggota DPR selama tiga periode. Ia pertama kali menjabat sebagai pengganti Riwi Hardinata yang meninggal dunia pada akhir tahun 1989.[5] Setelah masa jabatan pertamanya sebagai pengganti berakhir pada tahun 1992, ia kembali menjabat untuk masa jabatan penuh.[1]
Sepanjang kariernya di DPR, Taheri duduk di Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) dan Komisi VIII, yang menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan pelayanan sosial.[1] Sebagai anggota BKSAP, Taheri mewakili Dewan Perwakilan Rakyat dalam berbagai pertemuan parlemen internasional, seperti Sidang Umum Majelis Antar Parlemen ASEAN pada tahun 1991,[6] Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan pada tahun 1994, Sidang Umum IPU ke-92 dan ke-94 pada tahun 1994 dan 1996, dan KTT Dunia untuk Pembangunan Sosial pada tahun 1995.[7]
Taheri menjabat sebagai ketua Komisi Gabungan Indonesia-Rusia untuk Kerja Sama Ekonomi, Ilmu Pengetahuan dan Teknik (Grup Kerja Sama Bilateral, GKSB) dan sebagai wakil ketua GKSB Indonesia-Korea Selatan. Ia juga menjadi anggota Subkomite Hak Asasi Manusia dan Subkomite Kependudukan di dalam dewan.[1]
Setelah masa pensiun dari Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 1997, Taheri sempat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat hingga tahun 1999.[8] Ia dicalonkan sebagai anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada awal tahun 2002, dengan spesialisasi di bidang politik.[9] Ia terpilih dan menjabat hingga tahun 2007.[10] Pencalonannya kembali untuk masa jabatan kedua di Komnas HAM memicu kontroversi karena perlakuan khusus yang diberikan kepadanya oleh panitia seleksi.[11]
Kehidupan pribadi
Taheri merupakan penganut agama Islam yang taat. Ia menikah dengan Popong Rosnani, dan memiliki empat orang anak.[12]
Eko Prakoso Sakti
Wawan Bintang Satyawan
Dian Fajar Dini
Terang Cahya Nirwana
Taheri wafat pada 28 April 2023 di Jakarta, ia dimakamkan pada hari berikutnya.[13]