Surah Maryam (bahasa Arab:مريمcode: ar is deprecated , har.'Maryam binti Imran') adalah surah ke-19 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 98 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah menurut asbabunnuzul karena hampir seluruh ayatnya diturunkan sebelum Nabi Muhammadhijrah ke Madinah, bahkan sebelum rekan-rekannya bermigrasi ke Abyssinia.[1] Surah ini diawali dengan huruf muqatta'at Kaf, Ha, Ya, ‘Ain, Ṣad (K-H-Y-‘-Ṣ).[2] Menurut riwayat Ibnu Mas'ud, Ja'far bin Abi Thalib membacakan permulaan Surat Maryam kepada Raja Najasyi dan para pengikutnya saat ia ikut serta dalam perjalanan hijrah bersama para sahabat lainnya ke Abyssinia. Analisis Theodor Nöldeke menyebut bahwa surah ini menjadi surah ke-58 yang diwahyukan, sedangkan riwayat Mesir menyebut bahwa surah ini menjadi surah ke-44 yang diwahyukan.
Surah ini dinamai Maryam, karena surat ini mengandung kisah menurut nama Maryam, ibu Isa (ʿIsa, عیسی), dan Perawan Maria dalam kepercayaan Kristen. Surah ini menceritakan kisah kelahiran Isa yang ajaib, tanpa ayah, yang menjadi bukti kemahakuasaan Allah. Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surah ini, diawali dengan kisah kejadian ajaib lainnya, yaitu dikabulkannya doa Zakaria oleh Allah, yang menginginkan seorang putra sebagai pewaris dan penerus cita-cita dan kepercayaannya, di kala usianya sudah sangat senja. Selain itu, surah ini mengisahkan nabi lainnya termasuk Ishak, Yakub, Musa, Harun, Idris, Adam, Zakariyya, dan Nuh.
Manuskrip Birmingham memuat delapan ayat terakhir (Q19:91–98), pada perkamen mushaf yang setelah dianalisis menggunakan penanggalan radiokarbon, diperkirakan ditulis antara 568 dan 645 M (56 SH – 25 H).[3][4] Sementara itu, penanggalan radiokarbon manuskrip Sana'a menghasilkan penanggalan antara 578 dan 669 M (44 SH – 49 H), dan memuat ayat 2–28.
Dari perspektif tradisi Islam (asbāb al-nuzūl, أسباب النزول), ini adalah "Surat Mekah" yang lebih awal, diyakini telah diturunkan lebih awal daripada wahyu-wahyu selanjutnya di Madinah. Kronologi Theodor Nöldeke mengidentifikasi Surah ini sebagai Surah ke-58 yang disampaikan. Kronologi tradisional Mesir menempatkannya sebagai Surah ke-44.
Bagian pertama surah ini, yakni ayat 2–40, memuat kisah Zakariyya (Zakharia) dan kelahiran anaknya Yahya (Yohanes Pembaptis. Ayat berikutnya adalah kisah Maryam dan kelahiran putraya Isa. Selanjutnya adalah bantahan terhadap pernyataan yang menganggap Isa adalah Anak Allah.[5]
Dalam Q19:28, Maryam dirujuk sebagai "saudara perempuan Harun". Kata-kata A-KH (bahasa Arab:أخcode: ar is deprecated ) dalam Al-Qur'an umumnya dimaknai sebagai "hubungan persaudaraan saudara" atau memiliki jalur nasab yang sama.[6] Dalam riwayat shahih, umat Kristen Najran sempat menayakan maksud ayat ini kepada Muhammad, yang kemudian ia menjawab:
"Mereka biasa memberi nama anaknya dengan nama para nabi dan orang-orang saleh yang hidup sebelum mereka."[7][8]
Karena nama Maryam diambil dari nama nabiah Miryam binti Amram, ayat tersebut secara khusus menghubungkan Maryam dengan Harun, bukan Musa, yang merupakan nabi Bani Israil yang hidup jauh sebelumnya:[9][10][11]
Wahai saudara perempuan Harun (Maryam), ayahmu bukan seorang yang berperangai buruk dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”
"...Ada yang mengatakan bahwa Perawan Maria benar-benar memiliki saudara laki-laki bernama Harun, dengan ayah yang sama, tetapi ibu yang berbeda; yang lain mengira Harun saudara Musa yang dimaksud di sini, tetapi mengatakan Maria disebut saudara perempuannya, baik karena ia berasal dari ras Lewi (karena ia memiliki hubungan dengan Elisabet, tampaknya ia memang demikian), atau sebagai pembanding; sedangkan yang lain mengatakan bahwa orang yang berbeda dengan nama itu yang hidup sezaman dengannya, dan menonjol karena sifat-sifatnya yang baik maupun buruk, dan bahwa mereka menyamakannya dengan Harun baik sebagai pujian maupun sebagai celaan."[14]
Sana'a 1
Dalam manuskrip Sana'a (Sana'a 1) tidak mengikuti urutan Al-Qur'an yang diketahui, sedangkan folio 22 berbagi dengan Surah At-Taubah (Q9:122-129).[15]
Surah Maryam adalah satu-satunya surah dalam Al-Qur'an yang dinamai menurut nama seorang perempuan. Maryam (Maria), adalah seorang perempuan, yang namanya diabadikan dalam surah ini. Hubungan kekeluargaan Isa, disebut dalam Q19:34, dirujuk sebagai 'putra Maryam', menggemparkan masyarakat Bani Israil kala itu, yang umumnya memberi nama anak menggunakan garis keturunan ayah (patrilineal). Penekanan ini menarik perhatian pada keajaiban lahirnya Isa; yang lahir tanpa ayah. Kisah ini juga menolak keyakinan Nasrani bahwa Isa adalah Tuhan. Surah ini mengisahkan perjuangan Maryam saat akan melahirkan Isa, bahkan ia pun ingin mati saja karena takut dikucilkan oleh Bani Israil. Menanggapi kesulitan itu, Malaikat Jibril memfasilitasi apa saja yang dibutuhkan Maryam hingga ia melahirkan. Jibril mengingatkan Maryam agar jangan khawatir, serta memberinya makanan.[18]
Maryam dalam bahasa Suryani (ܡܪܝܡ) adalah kata sifat umum yang berarti "berkat" dan mungkin kata kerja "(Tuhan) meninggikan (derajat)nya".
Kisah Ibrahim
Ayat 41–65, membahas kisah Nabi Ibrahim yang berlepas diri dari penyembahan berhala yang dilakukan oleh keluarganya, kemudian membahas nabi-nabi lainnya. Ayat-ayat ini membahas berbagai tanggapan dari mereka yang mendengar nubuatan dan apa yang mereka alami. Ayat-ayat ini juga banyak menekankan ketauhidan.[19]
Folio 1 verso dan folio 2 recto; Q19:91–98 di atas tiga garis pemisah
Berdasarkan penanggalan radiokarbon, manuskrip ini ditulis antara 568 dan 645 M (antara 56 SH dan 25 H dalam kalender Hijriah).[23][24] Saud al-Sarhan, Kepala Pusat Riset dan Studi Islam Riyadh, menganggap bahwa perkamen tersebut mungkin telah berkali-kali digunakan sebagai palimpsest.[25] Pandangan Saud banyak didukung oleh banyak sekali sejarawan Al-Qur'an Saudi yang menolak bahwa manuskrip Al-Qur'an Birmingham maupun Paris ditulis pada masa kehidupan Nabi Muhammad. Mereka menegaskan bahwa saat Muhammad masih hidup, teks Al-Qur'an dituis tanpa dekorasi apa pun, termasuk penanda batas ayat ataupun tinta warna, dan tidak mengikuti urutan surah yang standar. Upaya pemushafan Al-Qur'an dilakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dan kemungkinan besar manuskrip ini ditulis pada atau setelah masa kekhalifahan Utsman.[26]
↑Sadeghi & Goudarzi 2012, hlm.63. The hypothetical interpolation of texts for the missing parts in this and the next row are based on Sadeghi & Goudarzi's fn. 216 and 218.