Dalam satuan wilayah sungai, DAS Sentani-Tami termasuk bagian dari WS Mamberamo-Tami-Apauvar yang merupakan WS Lintas Negara,[4] dimana sebagian wilayah hulu sub DAS dari beberapa anak sungai Tami berada di Papua Nugini. Salah satunya adalah aliran dari sungai Mosso yang bermuara pada sungai Tami di wilayah Mosso. Hulunya berada di Provinsi Sandaun, Papua Nugini.[5] Selain itu adalah Sungai Bewani yang juga berhulu di Bewani, Papua Nugini.[6]
Dalam lampiran Peraturan Menteri PUPR nomor 4 tahun 2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai, peta wilayah sungai Mamberamo-Tami-Apauvar masih menampilkan dua entitas DAS yang terpisah yaitu DAS Sentani serta DAS Tami.[4] Namun dalam perkembangan terbaru seperti yang di sajikan dalam laman situs Geoportal MenLHK, DAS Sentani dan DAS Tami merupakan satu-kesatuan utuh menjadi DAS Sentani-Tami, dengan aliran utama Sungai Tami yang bermuara di Samudera Pasifik Selatan.[1]
Pengelolaan DAS
Wilayah sungai (WS) Mamberamo-Tami-Apauvar dalam Peraturan Menteri PUPR 04-2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai, masih menampilkan dua entitas DAS yang terpisah yaitu DAS Sentani (kode DAS 021) serta DAS Tami (kode DAS 026).
Bendung Tami merupakan infrastruktur irigasi penting yang terletak di daerah Koya Barat, Jayapura yang dibangun untuk mendukung ketahanan pangan dan program transmigrasi di wilayah tersebut. Bendung berjenis pelimpah bentuk gergaji (labirinth) dengan 7 gigi, lebar pelimpah 85 m dan debit banjir 100 tahunan 1500 m3/det. Pembangunan bendung yang dimulai pada tahun 1992 hingga 2000, berfungsi untuk mengairi lahan pertanian seluas 5000 hektar di Daerah Irigasi Koya yang diharapkan menjadi lumbung padi bagi Jayapura dengan pola tanam Padi-Palawija-Padi. Selain itu irigasi tersebut juga di manfaatkan untuk melayani budidaya perikanan tambak.[8][9][10]
Degradasi DAS dan bencana hidrologi
Sedimentasi pada Sungai Tami, Papua, terjadi karena tingginya muatan sedimen dari daerah tangkapan air (DTA) yang mengalami peningkatan lahan kritis, serta tanah longsor di wilayah Pegunungan Cycloop dan perbukitan sekitar Jayapura. Hal ini menyebabkan pendangkalan sungai, yang mengurangi kapasitas sungai dan memicu banjir di daerah transmigrasi Arso.[10]
Banjir Sungai Tami pada awal tahun 2021 disebabkan oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Keerom dan sekitarnya, menyebabkan Sungai Tami dan anak sungai lainnya meluap. Dampaknya, banjir merendam permukiman dan fasilitas di Arso Timur, serta lahan pertanian di Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura.[11]