توان كبوه دولي يڠ مها مليا ڤدوك سري سلطان رحمةالله سونن باتو ڤوتيه Tuan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Rahmatullah Sunan Batu Putih[1][2][3]
Rahmatullah adalah putra tertua dari Suriansyah, sultan pendiri Kesultanan Banjar.[12] Rahmatullah mempunyai seorang adik lelaki yang menjabat sebagai Raden Dipati (wakil Pangeran Mahkota) bernama "Pangeran Anom" yang dijuluki "Pangeran di Hangsana", karena di dalam kompleks keraton terdapat pohon angsana.[12]
Menurut suku Maanyan yang mendiami kampung Jaar-Sanggarwasi di Barito Timur, ayah Sultan Rahmatullah yaitu Sultan Suriansyah juga telah menikahi Norhayati puteri dari Labai Lamiah, tokoh suku Dayak Maanyan yang telah memeluk Islam, yang kemudian melahirkan Putri Mayang Sari yang memerintah wilayah Jaar yang juga dinamakan Singarasi dan makam Putri Mayang Sari juga terdapat di sana.[13]
Pada masa Sultan Rahmatullah pengiriman persembahan (upeti) kepada Kesultanan Demak dihentikan karena penguasa negeri Jawa sudah berpindah kepada raja Kesultanan Pajang.
Maka sumalah Sultan Suryanu'llah itu, bertinggal anak laki-laki dua orang itu. Yang tua menjadi raja bernama Sultan Rahmatu'llah, yang muda menjadi Dipati bernama Pangeran Anom. Ia itu disebut orang: Pangeran di Hangsana karena dalam paseban itu ada kayu hangsana. Zaman itu masih menyuruh maaturkan persembah pada sultan Damak. Hatta kemudian daripada itu sultan Damak sumalah. Sudah itu maka yang termasyhur raja di negeri Pajang - banyak negeri Jawa yang takluk itu - bernama Sultan Surya Alam. Zaman itulah raja Banjarmasih tiada lagi menyuruh maaturkan persembah pada raja negeri Jawa itu. Maka Sultan Rahmatu'llah itu kerajaannya masih seperti adat kerajaan yang dahulu jua itu. Banyak tiada tersebut.
Hatta berapa lamanya maka Sultan Rahmatullah sumalah, bertinggal anak laki-laki tiga orang. Yang muda bernama Pangeran Damang, itu yang penengah; yang pembusu itu bernama Raden Zakaria. Yang tua itu menjadi raja bernama Sultan Hidayatullah. Kerajaan itu masih seperti dahulu itu jua. Aria Taranggana mati, Patih Masih mati, Patih Balit mati, Patih Kuwin mati, Patih Balitung mati. Sekaliannya itu sudah sama mati. Yang jadi mangkubumi itu Kiai Anggadipa. Itulah yang memerintah di Banjarmasih zaman itu.[12]
↑(Belanda) Johannes Cornelis Noorlander, Bandjarmasin en de Compagnie in de tweede helft der 18de eeuw, M. Dubbeldeman, 1935
Pustaka
(Indonesia) [Rosyadi, Soeloso, Hikayat Banjar dan Kotaringin, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1993]
(Indonesia) [Nani Setiawati, Cerita R Kal. Tengah 2, Grasindo, ISBN 979-732-053-7, 9789797320539]
(Indonesia) [Siti Chamamah Soeratno, Hikayat Iskandar Zulkarnain: analisis resepsi, Balai Pustaka, 1991 ISBN 979-407-359-8, 9789794073599]