Hidayatullah I adalah Sultan Banjar ketiga yang memerintah Kesultanan Banjar antara tahun 1570 hingga kematiannya pada tahun 1595, ia menggantikan ayahnya, Rahmatullah dari Banjar.[6] Selama pemerintahannya, Hidayatullah I dibantu oleh Kiai Anggadipa, seorang mangkubumi Banjar yang cemerlang.[7]
Kehidupan awal
Hidayatullah I merupakan keturunan ke-8 dari Lambung Mangkurat dan juga keturunan ke-8 dari pasangan Puteri Junjung Buih dan Maharaja Suryanata. Maharaja Suryanata dijemput dari Majapahit sebagai jodoh Puteri Junjung Buih, saudara angkat Lambung Mangkurat.
Menurut Buku 323 Sejarah Dinasti Ming, putera-puteri dari Sultan Hidayatullah I berjumlah 31 orang yang masih hidup pada saat kunjungan pedagang jung dari Tiongkok karena semua anak Sultan berjumlah 40 menurut Hikayat Banjar. Putera tertua yaitu Pangeran Senapati menggantikannya sebagai Sultan Banjar. Anak yang lainnya Gusti Nurasat yang menikah dengan Sorang bergelar Nanang Sarang, seorang panglima perang dari suku Biaju.[6] Hidayatullah I mempunyai saudara sebanyak 2 orang yaitu Pangeran Demang dan Raden Zakaria.
Berkuasa
Hidayatullah I memerintah mengantikan sang ayah, Rahmatullah yang meninggal dunia akibat usia tua. Dengan bantuan Kiai Anggadipa, perdana menterinya yang cemerlang, pemerintahannya memperluas wilayah kekuasaan terutama di wilayah pedalaman seperti Biaju dan Belajau. Pada paruh pertama pemerintahannya, perdagangan lada mulai dikembangkan di Banjar. Selama pemerintahannya, agama Islam berkembang pesat di Kalimantan, hal ini dibuktikan dengan pembangunan banyak masjid dan langgar (surau) di wilayah taklukan dan pedalaman. Ia juga memperistri anak dari Khatib Banun, seorang menteri Kesultanan Banjar yang berasal dari kalangan Biaju.
Sekitar paruh akhir pemerintahannya, terjadi konflik politik antara kelompok etnis Dayak Biaju dan Banjar. Saat itu dominasi politik dipegang etnis Biaju, di bawah pimpinan permaisuri seorang Biaju Muslim, puteri Khatib Banun, seorang tokoh Biaju. Ketika Hidayatullah I mangkat, puteranya Mustain Billah yang merupakan putra permaisuri seorang Biaju, yang berhasil berkuasa dengan bantuan kelompok sukunya, melalui penyingkiran dan pembunuhan lawan politiknya.
Kematian
Hidayatullah I meninggal dunia pada tahun 1595 dan mendapat gelar anumerta Panembahan Batu Hirang atau Sunan Batu Hirang, karena batu-batu yang menutupi makamnya berwarna hitam. Ia dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.
↑Palm, “Geheim briefboek van Oost Java” Brif van Palm aan Siberg, dd 17 September 1785. KA 3597
↑"Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-18. Diakses tanggal 2014-05-18.
↑(Inggris) Saleh, Mohamad Idwar (1981). Banjarmasih. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Pengembangan Permuseuman Kalimantan Selatan.