Kehidupan
Suiko menjadi istri dari Kaisar Bidatsu yang merupakan saudaranya seayah. Setelah istri utama Bidatsu wafat, Suiko menjadi istri utamanya dan dianugerahi gelar Ōkisaki, gelar yang dapat disejajarkan dengan permaisuri.
Perebutan kekuasaan
Setelah Bidatsu mangkat, takhta diserahkan kepada saudara sekandung Suiko, Pangeran Ikebe, yang kemudian naik takhta menjadi Kaisar Yōmei. Yōmei memerintah selama dua tahun dan mangkat karena sakit. Sepeninggalnya, terjadi perebutan kekuasaan antara keluarga Soga dan keluarga Mononobe. Keluarga Soga mendukung Pangeran Hatsusebe dan keluarga Mononobe mendukung Pangeran Anonobe, kedua pangeran tersebut adalah saudara tiri Suiko. Keluarga Soga memenangkan persengketaan dan Pangeran Hatsusebe naik takhta sebagai Kaisar Sushun. Namun karena kepala keluarga Soga saat itu, Soga no Umako putra Soga no Iname, takut bahwa dia akan disingkirkan oleh Sushun yang tidak menyukai kekuatannya, Umako mengutus Yamatoaya no Ataikoma (東漢直駒) untuk membunuh sang kaisar pada 592. Setelah itu, Suiko yang merupakan janda Kaisar Bidatsu diangkat menjadi kaisarina.
Masa pemerintahan
Meskipun dalam catatan resmi Jepang, Suiko menyandang gelar tennō, banyak sejarawan percaya bahwa gelar ini belumlah dikenal sampai masa pemerintahan Kaisar Tenmu dan Kaisarina Jitō. Sangat mungkin gelar yang dipakai saat itu adalah Sumeramikoto atau Amenoshita Shiroshimesu Ōkimi (治天下大王), yang bermakna "ratu agung yang memerintah semua yang di bawah langit." Kalau tidak, Suiko mungkin disapa dengan sebutan (ヤマト大王/大君, Yamatoōkimi/Taikun) atau "Ratu Agung Yamato".
Pada tahun berikutnya, Pangeran Shōtoku, putra Kaisar Yōmei, ditetapkan sebagai wali kaisar. Meskipun di masa pemerintaha Suiko kekuatan politik negara banyak dipegang oleh Pangeran Shōtoku dan Soga no Umako, tetapi Suiko sendiri juga memiliki kemampuan politik yang memadai. Penolakan Suiko terhadap permintaan Umako untuk memberikan wilayah otonomi pada 624 menegaskan bahwa Suiko memiliki kedaulatan politik yang tidak terkungkung oleh Soga no Umako. Di bawah kepemimpinannya, agama Buddha diakui secara resmi pada 594. Suiko sendiri adalah salah satu penguasa monarki Buddha di Jepang dan mengambil sumpah sebagai biarawati sesaat sebelum menjadi kaisarina.
Pada masa kekuasaannya, Suiko mempererat hubungan dengan Dinasti Sui. Suiko mengadopsi sistem peringkat kebangsawanan (冠位十二階, Kan'i Jūnikai) pada tahun 600. Pengadopsian kalender Ganzhi di Jepang juga dialamatkan kepada Kaisarina Suiko pada tahun 604.[6]
Mangkat
Kaisarina Suko mangkat pada tahun 628 setelah memerintah selama 35 tahun. Menjelang kematiannya, Suiko memberikan petunjuk samar mengenai penerusnya, yakni Pangeran Tamura dan Pangeran Yamashiro. Pangeran Tamura adalah putra Pangeran Oshisaka, putra Kaisar Bidatsu. Dia mendapat dukungan dari keluarga utama klan Soga, termasuk Soga no Emishi, putra Soga no Umako. Sedangkan Pangeran Yamashiro adalah putra Pangeran Shōtoku dan dia didukung sebagian keluarga Soga yang lain. Pada akhirnya, Pangeran Tamura naik takhta sebagai Kaisar Jomei.