Stereotip orang Asia Timur di Amerika Serikat adalah stereotip etnis yang terdapat dalam masyarakat Amerika mengenai imigran generasi pertama beserta keturunan mereka yang lahir di Amerika dan warga negara dengan leluhur Asia Timur, atau yang anggota keluarganya baru saja beremigrasi ke Amerika Serikat dari Asia Timur, serta anggota diaspora Tionghoa yang keluarganya beremigrasi dari negara-negara Asia Tenggara. Stereotip terhadap orang Asia Timur, serupa dengan stereotip etnis dan ras lainnya, kerap disalahpahami dan digambarkan secara negatif dalam media arus utama Amerika, bioskop, musik, televisi, sastra, permainan video, internet, serta bentuk ekspresi kreatif lain dalam budaya dan masyarakat Amerika. Banyak stereotip umum ini juga ditemukan di negara-negara Anglosfer lain, seperti Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Britania Raya, karena hiburan dan media massa di antara mereka saling berkaitan erat.
Secara luas, stereotip ini telah diinternalisasi oleh masyarakat dalam interaksi sehari-hari, peristiwa aktual, dan kebijakan pemerintah, dengan dampak yang umumnya negatif bagi orang Amerika atau imigran keturunan Asia Timur.[1][2] Penggambaran media terhadap orang Asia Timur sering mencerminkan persepsi Amerikansentris alih-alih representasi otentik budaya, adat, tradisi, dan perilaku Asia Timur.[1] Orang Asia Timur-Amerika mengalami diskriminasi dan menjadi korban perundungan serta kejahatan kebencian yang berkaitan dengan stereotip etnis mereka, karena hal tersebut digunakan untuk memperkuat sentimen xenofobik.[1][3] Stereotip fiksi yang menonjol antara lain Fu Manchu dan Charlie Chan, yang masing-masing mewakili sosok Asia Timur yang mengancam dan misterius, serta sosok Asia Timur yang patuh, rendah hati, dan dianggap “baik”.[4]
Pria Asia Timur-Amerika sering distigmatisasi sebagai tidak menarik secara fisik dan kurang keterampilan sosial.[5] Hal ini berlawanan dengan pandangan umum bahwa perempuan Asia Timur dianggap sangat menarik dibandingkan rekan perempuan kulit putih mereka, yang sering muncul dalam bentuk fetisisme Asia, dipengaruhi oleh penggambaran mereka sebagai hiper-feminin seperti “Lotus Blossom Babies”, “boneka Cina”, “gadis geisha”, dan pengantin perang.[6] Dalam media, perempuan Asia Timur dapat digambarkan sebagai “Lotus Blossoms” yang sangat feminin dan lembut, atau sebagai Dragon Lady, sementara laki-laki Asia Timur sering digambarkan sebagai tidak berdaya secara seksual atau kutu buku.[7]
Ibu Asia Timur juga sering distigmatisasi sebagai “ibu harimau”, yang terlalu menekankan prestasi akademik anak mereka. Stereotip ini biasanya dikaitkan dengan pencapaian akademik tinggi dan keberhasilan sosial ekonomi di atas rata-rata dalam masyarakat Amerika.[8][9]