Atas: Stasiun Sukolilo baru (Buddan) pada tahun 2020,
Bawah: Bangunan Stasiun Sukolilo Lama yang dioperasikan bersamaan dengan pembukaan lintas Kamal–Batuporon–Kwanyar.
Lua error in Modul:Mapframe at line 382: Unable to get latitude from input '<span style="font-size:100%" class="error"><span style="font-size:100%" class="error"><span style="font-size:100%" class="error">{{WikidataCoord}} – missing coordinate data</span> – missing coordinate data</span> – missing coordinate data</span>'..
Terdapat dua stasiun kereta api yang menggunakan nama Sukolilo, yaitu Stasiun Sukolilo Lama yang terletak di Gang K.H. Umar (dekat objek wisata Pantai Goa Petapa) dan StasiunSukolilo Baru (lebih dikenal dengan nama Stasiun Buddan) yang terletak di Dusun Buddan.
Letak
Adapun koordinat lokasi kedua stasiun tersebut adalah sebagai berikut.
Stasiun Sukolilo yang pertama dibangun pada segmen Kamal–Batuporon–Kwanyar yang dibuka pada tanggal 1 September 1913 oleh Madoera Stoomtram Maatschappij.[3] Ruas jalur ini kemungkinan dibongkar oleh pekerja romusha untuk kepentingan perang.[4] Beberapa catatan menuliskan bahwa Rikuyu Sokyoku membuatkan jalur pengganti Telang–Sukolilo Baru karena jalur yang melewati Batuporon merupakan kawasan militer khusus yang dijaga ketat. Selain itu, stasiun ini dipindah menjauh dari bibir pantai dengan nama Sukolilo Baru di Buddan.[5][6]
Tidak seperti Stasiun Sukolilo lama yang masih mempertahankan karakter MdrSM, bangunan Stasiun Sukolilo Baru memiliki kemiripan arsitektur dengan stasiun-stasiun kereta api di Daop VII Madiun. Stasiun ini dinonaktifkan bersama dengan semua stasiun di jalur kereta api lintas Madura pada tahun 1984–1987 karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum.[7]
Referensi
↑Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).