Pertama kali diumumkan pada Mei 1982, pembangunan stasiun tersebut dimulai pada 1983 sebagai bagian dari TahapI dari sistem MRT. Pada Agustus 1985, stasiun tersebut menjadi stasiun Moda Raya Terpadu pertama di Singapura pertama berstruktur beton yang rampung. Stasiun tersebut dibuka pada 7 November 1987 dan menjadi salah satu stasiun MRT pertama yang beroperasi dalam jasa pendapatan. Stasiun tersebut memiliki skema kuning muda dengan serangkaian genting berwarna di lantai pertemuan.
Riwayat
Sebuah plakat di stasiun yang memperingati pembukaan tahap pertama MRT Singapura
Stasiun Toa Payoh termasuk dalam rencana awal jaringan MRT yang diterbitkan pada Mei 1982.[3] Konfirmasi pertama bahwa stasiun tersebut akan menjadi salah satu stasiun Tahap I (dari Ang Mo Kio sampai Marina Bay) timbul pada November tahun tersebut.[4][5] Segmen tersebut memberikan prioritas karena stasiun tersebut melintas melewati wilayah-wulayah yang memiliki tuntutan yang lebih tinggi untuk angkutan umum, seperti lahan-lahan perumahan berpenduduk padat Toa Payoh dan Ang Mo Kio serta Central Area. Jalur tersebut ditujukan untuk memulihkan keadaan lalu lintas di koridor jalan Thomson–Sembawang.[6][7]
Kontrak 104 untuk pembangunan stasiun-stasiun Toa Payoh dan Novena diserahkan kepada Perusahaan Patungan Tobishima–Takenaka pada September 1983. Kontrak S$96.8juta (US$50 juta pada 2022) meliputi pembangunan terowongan sepanjang 2.329 kilometer (1.447mi).[8][9] Pembangunan terowongan antara Toa Payoh dan Novena dimulai dengan acara peletakan batu pertama di Shan Road pada 22 Oktober 1983. Acara tersebut menandai permulaan pembangunan jaringan MRT.[10] Terowongan dan stasiun diharapkan rampung pada awal 1988.[11]
Stasiun tersebut dibangun di lahan terminal bus Toa Payoh Central, yang dipindahkan ke tempat terdekat.[12] Di Shan Road, pengerjaan awal digali di lapisan batu pasir. Terowongan melintas ke segala arah dari pengerjaan tersebut. Komposisi tanah terdiri dari batu pasir, granit, tanah liat laut, atau batu terdekomposisi. Bagian batu pasir dibawa menggunakan tameng (dengan pengerahan beton semprot/garing temporer). Bagian granit dibawa dan juga diranjau memakai peledak. Bagian tanah liat laut dibangun menggunakan potong-dan-tutup, dan bagian batu terdekomposisi menggunakan metode terowongan Austria Baru.[13]
Pada 6 Agustus 1985, Toa Payoh menjadi stasiun MRT pertama yang memiliki pengerjaan strukturalnya yang rampung, dengan emper semen terakhir dituangkan ke stasiun sebagai bagian dari acara pengatapan.[14][15][16] Karena berbagai kondisi tanah, pada November 1985, kontraktor meminta perpanjangan delapan bulan dan klaim moneter tambahan untuk membangun terowongan antara stasiun-stasiun Novena dan Toa Payoh.[17]
Pada Januari 1986, bagian pertama dari sistem MRT, dari stasiun Yio Chu Kang sampai Toa Payoh, diumumkan akan dibuka pada awal 1988.[18] Tanggal tersebut dijadwalkan ulang menjadi 7 November 1987 dalam sebuah pengumuman pada 16 September tahun tersebut.[19][20][21] Dalam rangka memfamiliarisasikan masyarakat dengan sistem tersebut,[22] stasiun tersebut menyediakan pratinjau dari 10 sampai 11 Oktober 1987.[23][24] Pada pratinjau tersebut, sekitar 44.000 orang mengunjungi stasiun tersebut.[25] Namun, karena tak ada kereta yang melayani, banyak penentangan dari banyak pengunjung. Beberapa orang menyatakan keterpikatan dan penasaran, dan beberapa pengunjung membeli tiket untuk mengambil pemberangkatan MRT pada debut sistem tersebut.[26]
Pada hari pembukaan, Toa Payoh menjadi stasiun yang paling banyak dikunjungi pada jalur yang baru rampung, dengan jalur-jalur panjang di luar stasiun pukul 11:00.[27] Pada acara pembukaan, wakil perdana menteri tingkat dua Ong Teng Cheong, mengadvokasikan dan mengkomisikan perencanaan sistem MRT, menghadiri acara tersebut sebagai tamu kehormatan istimewa. Yeo Ning Hong, Menteri Komunikasi dan Informasi, secara resmi memulai operasi MRT dan mengumumkannya menjadi "permulaan" sistem MRT.[28] Pada hari itu, tombol darurat diaktifkan di stasiun Toa Payoh tepat sebelum pukul 20:30, yang menghantarkan kereta-kereta selama sekitar setengah jam sepanjang salah satu dari dua trek yang menuju ke stasiun tersebut.[27]
Pada 8 Januari 2006, stasiun Toa Payoh menjadi salah satu dari empat stasiun MRT yang dilibatkan dalam Exercise NorthstarV, sebuah kegiatan kontra-terorisme.[29] Pada Juli 2012, Land Transport Authority menyerukan tindakan untuk pencegahan banjir (seperti pembatas banjir baru) di stasiun Toa Payoh, bersama dengan sebelas stasiun MRT lainnya.[a][30][31] Dari Juli 2012 sampai 2014, eskalator di GerbangD (perlintasan pejalan kaki yang terhubung dengan Lorong2 Toa Payoh) diganti dan diperbaharui.[32]
Detail stasiun
Pemandangan bagian dalam stasiun Toa Payoh
Lantai pertemuan stasiun
Lantai peron stasiun Toa Payoh
Toa Payoh melayani jalur Utara Selatan (North South line, NSL) dan berada di antara stasiun Braddell dan Novena. Kode stasiun resminya adalah NS19.[33] Kala dibuka, stasiun tersebut memiliki kode stasiun N6[34] sebelum diubah menjadi kode stasiun saat ininya pada Agustus 2001 sebagai bagian dari kampanye perluasan sistem untuk menunjang perluasan Sistem MRT.[35][36] Seperti seluruh stasiun NSL, stasiun tersebut dioperasikan oleh SMRT Trains.[37] Stasiun tersebut beroperasi antara pukul 5:41 dan 12:25 pada setiap hari.[38] Frekuensi kereta beragam dari 2.5 sampai 5.0 menit.[39]
Stasiun bawah tanah tersebut memiliki tempat pertemuan di lantai atas dan peron di lantai bawah.[44] Seperti kebanyakan stasiun pada jaringan MRT awal, Toa Payoh memiliki sebuah peron pulau.[45] Toa Payoh juga merupakan salah satu dari beberapa stasiun pada jaringan awal yang memiliki langit-langit bertingkat ganda. Gerbang dan peron lebar dirancang untuk mengakomodasi kerumunan besar.[46]
Stasiun Toa Payoh memiliki skema warna kuning muda untuk tiang dan kanopi.[47] Sepanjang tempat pertemuan 50-meter (160ft), stasiun tersebut menampilkan mural "bergaya pelangi" yang terdiri dari 15.000 genting dalam berbagai warna. Mural pelangi ditujukan untuk merekfleksikan masyarakat berbagai latar belakang rasial bergerak bersama dalam harmoni.[48]
Sebagai bagian dari SMRT's Comic Connect, sebuah acara kesenian publik dari mural bertema warisan, stasiun tersebut menampilkan The Toa Payoh Story karya James Suresh, Sayed Ismail dan Suki Chong.[49] Karya seni sepanjang 7 meter (23ft) tersebut[50] menampilkan berbagai markah tanah kawasan Toa Payoh, yang meliputi taman bermain naga, Biara Shuang Lin, dan Perpustakaan Umum Toa Payoh.[51] Mural tersebut meliputi gambar Seah Eu Chin, seorang pengusaha dan pemilik lahan di wilayah tersebut.[49] Karena Toa Payoh merupakan kota pertama yang dibangun oleh Housing and Development Board, para seniman berniat agar mural tersebut mengaitkan signifikansi wilayah tersebut dengan pijakan besar dalam sejarah Singapura.[52] Selain itu, mereka memakai nada-nada sepia untuk "mengambil mural tersebut kembali dalam waktu" serta membuat gambar serealisitis mungkin untuk mendatangkan perhatian pada detail kecilnya.[50]
↑Savage, Victor (2013). Singapore street names: A study of toponymics. Singapore: Marshall Cavendish Editions. hlm.632. ISBN978-981-4408-35-6. OCLC868957283.