Sebelum tahun 2002, stasiun ini mempunyai empat jalur kereta api. Selanjutnya, stasiun ini mengalami pengurangan jalur sehingga hanya memiliki tiga jalur kereta api sebelum dinonaktifkan.[3] Stasiun ini sudah dinonaktifkan sejak 1 Agustus 2007[4] seiring pembangunan jalur ganda di lintas Kutoarjo–Solo karena jaraknya tidak terlalu jauh dengan Stasiun Maguwo, serta untuk efektivitas operasional kereta api setelah jalur ganda selesai. Seluruh sistem wesel dan persinyalannya sudah dicabut.[4]
Di sebelah barat daya stasiun terdapat gardu sinyal blok intermediet. Gardu ini mulai aktif pada tanggal 1 Oktober 2018, bersamaan dengan peralihan sistem persinyalan mekanik di petak jalur Maguwo–Brambanan ke sistem persinyalan elektrik produksi PT Len Industri (Persero) yang telah dipasang sejak 2013.[5][6]
Salah satu rumah dinas pegawai stasiun ini, yang masih asli peninggalan NIS, dijadikan kedai kopi bernama Kopi Stasiun Kalasan (Kostaka), dibuka 20 Mei 2021.[7]
Insiden
Pada tanggal 23 Oktober 2012, KA Prameks dengan relasi Solo Jebres–Kutoarjoanjlok di km 153+724 (sekitar 2 km menjelang Stasiun Kalasan) dan terguling 500 meter di timur Stasiun Kalasan. Kejadian ini menyebabkan perjalanan kereta api di petak Maguwo–Brambanan menjadi terganggu. Dari total lima unit kereta, tiga unit anjlok dan satu kereta (kereta depan) berputar arah. Penyebab anjloknya KA tersebut adalah adanya masalah penyapu rel pada bogie rangkaiannya. Akibatnya, sebanyak 40 orang terluka dalam insiden ini.[8][9]
12Haryanto, Dwi (Juni 2012). "Eks Stasiun Kalasan (KLS): Hanya Ditunggui Seorang Kakek". Majalah KA Edisi 71: Spoorwegstations op Joglo. Depok, Jawa Barat: PT Ilalang Sakti Komunikasi. hlm.11. ISSN2087-9458.
↑Mohamad, Ardyan (21 Juni 2013). "Kalahkan Siemens, BUMN Elektronik Raup Pendapatan Rp23 Triliun". Merdeka.com. Diakses tanggal 5 Oktober 2017. Saat ini, masih ada pesanan proyek dari Kemenhub untuk menggarap persinyalan kereta di jalur Jogja-Solo, Duri-Tangerang, dan Parung-Maja.