Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Stadion Kridosono adalah stadion sepak bola yang terletak di Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Stadion ini dikelilingi oleh tiga jalan: di sebelah timur terdapat Jalan Gondosuli, di selatan Jalan Kenari, dan di barat Jalan Andung. Stadion ini sebagian besar digunakan untuk pertandingan sepak bola, serta beberapa acara besar di kota tersebut, seperti konser, kampanye politikus, dan salat Idulfitri. Stadion ini pernah menjadi kandang PSIM Yogyakarta. Pada tahun 2025, Stadion Kridosono dikembalikan kepada Kesultanan Yogyakarta dan direncanakan akan dialihfungsikan menjadi ruang terbuka hijau.[1]
Sejarah
Sebelum menjadi stadion, lahan tersebut merupakan lapangan sepak bola yang menjadi bagian dari enklave Kotabaru (saat itu masih disebut Nieuwe Wijk), kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan olahraga dan rekreasi. Di enklave tersebut juga terdapat lapangan tenis dan kolam renang.[2] Lapangan sepak bola Kotabaru telah lama digunakan sebagai markas Voetbalbond Djokja de Omstreken (VBDO). Pembangunan stadion dilakukan atas inisiatif VBDO, tetapi identitas arsiteknya tidak diketahui secara pasti. Menurut De Locomotief edisi 29 Juli 1937, desain stadion disetujui oleh Inspektorat Urusan Teknis Pemerintah Kota Yogyakarta. Rencana pembangunan mencakup tribun penonton berkapasitas 600 orang serta ruang ganti atlet yang ditempatkan di bawah tribun utama.[2]
Pada pertengahan tahun 1937, stadion ini mulai dibangun dan diberi nama Stadion Bijlveld, yang diambil dari nama gubernur Belanda di Yogyakarta saat itu, Johannes Bijleveld, seorang penggemar sepak bola fanatik.[3] Proyek tersebut menelan biaya 9.000 gulden yang bersumber dari pihak keraton..[2]
Setahun kemudian, pada tanggal 27 Januari 1938,[2]Sri Sultan Hamengkubuwana VIII meresmikan stadion tersebut. Peresmian tersebut dihadiri oleh Ketua Voetbalbond Djokja de Omstreken (VBDO) Mr. Engelkamp, Ketua Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) atau Persatuan Sepakbola Hindia Belanda Johannes Christoffel Jan Mastenbroek, serta Gubernur Yogyakarta Johannes Bijleveld hadir dalam acara tersebut. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Paku Alam VIII juga turut menempati tribun utama.[2]
Seusai peresmian, digelar pertandingan antara tim Jogja dan Solo, dua kesebelasan yang menjadi peserta kompetisi Stedenwedstrijden, yakni liga sepak bola Hindia Belanda di kawasan Oost/Midden Java. Laga perdana ini dimenangkan oleh tim tuan rumah dengan skor 3-2.[3]
Ketika masa pendudukan Jepang, Stadion Bijlveld dimanfaatkan untuk kegiatan militer. Setelah pendudukan berakhir, tepatnya pada 1950, stadion ini mengalami renovasi dan namanya diubah menjadi Stadion Kridosono, yang berarti kepakan sayap.[3]
Sebelum Stadion Mandala Krida berdiri pada 1984, Stadion Kridosono menjadi markas utama PSIM Yogyakarta. Bahkan setelah PSIM berpindah markas, stadion ini tetap sering digunakan, mulai dari tempat pembelian tiket pertandingan hingga lokasi seleksi pemain asing.[3]
Sejak 1970-an, Stadion Kridosono difungsikan sebagai venue konser musik dan terus dimanfaatkan untuk berbagai pertunjukan hingga kini.[3] Penampilan yang menonjol antara lain Dream Theater (2017) dan Megadeth (2018). Pada tahun 2024, stadion ini menjadi tempat penyelenggaraan "CRSL Concert #5 The Euphoria" dan dijadwalkan menjadi lokasi Jogjarockarta Festival.[4][5]
Pada Januari 2025, GOR Kridosono (yang mencakup Stadion Kridosono) secara resmi dikembalikan kepada kepemilikan Kesultanan Yogyakarta. Sebagai bagian dari proses pengalihan tersebut, terdapat rencana untuk mengubah kawasan ini menjadi ruang terbuka hijau.[6]
Transportasi Umum
Halte Kridosono
Untuk mengakses Stadion Kridosono, bisa menggunakan transportasi umum berikut ini:[7]