Sejak tahun 2010, populasi singa di Taman Nasional Hutan Gir telah meningkat terus.[6] Pada bulan Mei 2015, sensus singa asia ke-14 dilakukan di atas wilayah dengan luas sekitar 20.000km2 (7.700sqmi); populasi singa diperkirakan 523 ekor, yang terdiri dari 109 jantan dewasa, 201 betina dewasa, dan 213 anak singa.[7][8]
Singa Afrika (atas) dan Asia (bawah), sebagaimana yang diilustrasikan dalam Johnsons Book of Nature
Peninggalan fosil yang ditemukan dari Periode Cromer menunjukkan bahwa singa atau hewan yang mirip singa[10] yang memasuki Eropa merupakan jenis yang berukuran sangat besar. Sering ditemukan tulang singa di sedimen gua dari zaman Eemian menunjukkan bahwa Pleistosen akhir, singa gua Eropa, Panthera spelaea, terus bertahan hidup di Balkan dan Asia Kecil. Mungkin terdapat populasi yang terus-menerus berkembang yang menjangkau sampai India.[11] Singa gua muncul sekitar 600.000 tahun yang lalu dan menyebar di seluruh Eropa, melintasi Siberia dan masuk ke Alaska barat. Pembentukan bertahap hutan lebat kemungkinan menyebabkan penurunan rentang geografis singa mendekati berakhirnya zaman Pleistosen akhir.[12] Analisis filogenetis dari sampel DNA singa gua menunjukkan bahwa mereka sangat berbeda dari kerabat mereka, dan merupakan garis keturunan yang terpisah dari singa-singa di Afrika dan Asia sejak penyebaran mereka di Eropa pada zaman prasejarah, dan menjadi punah tanpa keturunan mitokondrialdi benua lainnya.[10][13]
Perilaku
Studi perbandingan antara Singa Asia dan Singa Afrika menunjukkan bahwa perbedaan habitat berpengaruh besar terhadap pola perilaku kedua subspesies ini[14]. Singa Asia cenderung memiliki struktur sosial yang lebih kecil dan longgar, dengan pejantan dewasa sering hidup soliter dan hanya berinteraksi dengan kelompok betina saat kawin atau saat mempertahankan wilayah[15]. Perilaku berburu mereka umumnya dilakukan secara individu atau dalam kelompok kecil, sesuai karakteristik habitat hutan lebat yang membatasi manuver kelompok besar.[16] Sebaliknya, Singa Afrika lebih sering membentuk pride besar dan mengandalkan strategi berburu kooperatif di ruang savana terbuka[16]. Vegetasi rapat di habitat Gir juga membuat Singa Asia lebih mengandalkan penandaan bau untuk komunikasi territorial, sementara Singa Afrika lebih dominan menggunakan vokalisasi dan sinyal visual yang efektif pada area terbuka.[17]
↑Wozencraft, W. C. (2005-11-16). Wilson, D. E., and Reeder, D. M. (eds) (ed.). Mammal Species of the World (Edisi 3rd edition). Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-8221-4. ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
↑"Molecular phylogeny of the extinct cave lion Panthera leo spelaea". Molecular Phylogenetics and Evolution. 30 (3): 841–849. 2004. doi:10.1016/j.ympev.2003.07.020. PMID15012963.