Sere Bissu (ᨔᨙᨑᨙ ᨅᨗᨔᨘ) adalah suatu gerak tari yang dilakukan oleh sekelompok komunitas Bissu dalam acara adat. Sere Bissu ini merupakan salah satu ritual adat yang ada di Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Kehadiran Bissu ini sudah ada sejak sebelum Raja Bone Pertama yaitu La Ubbi Manurunge Ri Matajang. Pada masa Kerajaan Bone, Sere Bissu ini bukan merupakan pertunjukan tari melainkan ritual keagamaan sebagai bentuk permohonan dengan Dewata Suewae (Allah Yang Maha Esa) kepada masyarakat penduduk bumi, raja dan hal lain yang berhubungan dengan dunia maya. Sere Bissu ini dilakukan pada sebuah ritual adat seperti ritual pelantikan kerajaan pada masa lampau. [1]
Asal usul dan Makna
Sere Bissu berasal dari bahasa Bugis"bessi" yang berarti "bersih" atau "murni". Hal ini mencerminkan status Bissu sebagai sosok yang suci dan murni secara spritual, yang mewujudkan energi laki-laki dan perempuan. Mereka dianggap suci dan memiliki posisi unik dalam masyarakat suku Bugis, berperan sebagai pemandu spritual, penyembuh dan mediator.
Tarian Sere Bissu merupakan bagian penting dari budaya Bugis, yang mewujudkan kepercayaan, nilai, dan trasdisi mereka. Tarian ini berfungsi sebagai pengingat akan peran untuk Bissu dan pentingnya mereka dalam menjaga harmoni spritual dan ketertiban sosial.
Sejarah
Sejak masa pemerintahan Raja Bone pertama, To Manurung (1326–1358 M), tarian bissu telah hadir sebagai bagian dari rangkaian tarian Maggiri. Pada masa itu, tarian Maggiri berkembang dan menjadi salah satu kesenian istana Kerajaan Bone, sehingga tari ini memiliki posisi dalam tradisi kerajaan.[2]
Fungsi
Dahulu, tarian ini ditampilkan hanya dalam beberapa upacara khusus, termasuk pada mappalili arajang di musim tanam padi, mattompang arajang di pelantikan raja, upacara perkawinan dan kematian raja serta dalam ritual ketika terjadi wabah.[3] Namun, seiring perkembangannya, tarian ini turut ditampilkan dalam pertunjukan budaya dan festival seni yang tampil di berbagai tingkatan: lokal, nasional, hingga internasional.[4]
Pelaksanaan
Tarian ini hanya dapat ditampilkan oleh seorang bissu. Gerakannya dimulai dengan ragam gerak Ma’ddewata, yang diiringi lantunan mantera dari Puang Towa (pemimpin para bissu) dan didampingi oleh Bissu pasere.[4] Setelah itu, mereka membentuk lingkaran dan menampilkan gerakan sere lemmaq, yakni gerakan halus yang diyakini sebagai jalan masuknya roh ke dalam tubuh para Bissu. Bacaan mantera tersebut juga disertai bunyi seperangkat alat musik tradisional seperti dua gendang, gong, lae-lae, kancing, ana’ beccing, pui-pui, curiga, laguni, dan suji kama.[3]
Pada puncak tarian ini, tabuhan gendang makin cepat dan Puang Matowa bersama pendampingnya mulai melakukan ragam gerak Maggiri, yakni gerakan mencabut senjata tajam (keris atau badik) dan menusukkannya ke bagian tubuh seperti leher, dada, perut, atau pelipis tanpa menimbulkan luka atau darah. Gerakan ini turut diikuti oleh bissu lainnya, sehingga formasi tari tidak lagi membentuk lingkaran. Ritual ini mencapai akhirnya saat ketukan gendang perlahan menurun, dan Puang Matowa kembali ke posisi lingkaran sambil berangsur-angsur sadar.[4]
Properti
Terdapat beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk upacara, termasuk: pungo-pungo, lancu, tello tali, panampa, tempat siri, patangareng, oje, kipas, payung persegi empat, tudageng juju maraja, cakko-cakko, moro, bulo pangilu, walida, anjacae waempong, walasuji, simpe’, baku urang, batu laga atitikeng, sabangaeng, dapo, bulo paseya-seya, paramattaeng, sinangke, adupang-dupang, cici kole, sinte, pinceng batu, bassi banrangan (tombak berhias rambut/bulu kuda), dan bendera empat warna (merah, putih, hitam, kuning).[3]
Referensi
↑Pusdatin Kemendikbudristek (2020). "Sere Bissu". Budaya Kita. Diakses tanggal 05 Oktober 2024.
123Lathief, Halilintar; HL, Niniek Sumiani (2000). Tari Daerah Bugis(PDF). Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)