Selat ini menyediakan satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia ke samudra lepas dan merupakan salah satu titik rawan strategis terpenting di dunia.[3] Selama tahun 2023–2025, 20% gas alam cair (LNG) dunia dan 25% perdagangan minyak melalui laut melewati selat ini setiap tahunnya. Ini adalah sumber utama produk minyak bumi untuk Eropa dan Asia dan telah digambarkan sebagai "kritis" bagi keamanan energi Eropa.[4] Ini juga merupakan satu-satunya jalur maritim untuk beberapa wilayah Teluk termasuk Qatar, Kuwait, dan Bahrain, dan gangguan di selat ini dapat menyebabkan kekurangan pasokan yang parah.[5]
Selat ini secara tradisional tidak pernah ditutup untuk waktu yang lama selama konflik di Timur Tengah (tidak seperti Selat Tiran/Bab-el-Mandeb)[6] meskipun Iran kadang-kadang mengancam akan menutup selat tersebut,[7][8] dan persiapan untuk memasang ranjau telah dilakukan.[9] Namun, selat ini menjadi fokus utama komunitas internasional selama Perang Iran 2026 yang mengakibatkan krisis Selat Hormuz.[10]