Pada abad-abad berikutnya, kekaisaran Asiria, Babilonia, Akhemeniyah, dan Makedonia menaklukkan wilayah tersebut. Dinasti Ptolemaik dan Seleukia bersaing memperebutkan kendali atas wilayah ini selama periode Helenistik. Namun, dengan berdirinya dinasti Hasmonean, penduduk Yahudi setempat berhasil mempertahankan kemerdekaan selama satu abad sebelum akhirnya digabungkan ke dalam Republik Romawi.[7][8][9] Menyusul munculnya Kekristenan, yang dianut oleh dunia Yunani-Romawi di bawah pengaruh Kekaisaran Romawi, demografi wilayah tersebut bergeser ke arah umat Kristen, yang menggantikan orang Yahudi sebagai mayoritas penduduk pada abad ke-4. Akan tetapi, tak lama setelah Islam terkonsolidasi di Semenanjung Arab di bawah kepemimpinan Muhammad pada abad ke-7, kekuasaan Kristen Bizantium atas Tanah Israel digantikan melalui penaklukan Muslim atas Levant oleh Kekhalifahan Rasyidin, untuk kemudian diperintah oleh kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, dan Fatimiyah, sebelum ditaklukkan oleh Seljuk pada tahun 1070-an. Sepanjang abad ke-12 dan sebagian besar abad ke-13, Tanah Israel menjadi pusat perang agama yang berselang-seling antara tentara Kristen Eropa dan Muslim sebagai bagian dari Perang Salib, dengan Kerajaan Yerusalem hampir seluruhnya dikuasai oleh Dinasti Ayyubiyah pimpinan Salahuddin pada akhir abad ke-12, meskipun Tentara Salib berhasil memperluas wilayah dari pos-pos mereka yang tersisa, dan kemudian mempertahankan wilayah mereka yang terus menyusut selama satu abad berikutnya. Pada abad ke-13, Tanah Israel menjadi sasaran penaklukan Mongol, meskipun hal ini dihentikan oleh Kesultanan Mamluk, di bawah kekuasaannya wilayah ini bertahan hingga abad ke-16. Mamluk akhirnya dikalahkan oleh Kekaisaran Ottoman, dan wilayah tersebut menjadi provinsi Ottoman hingga awal abad ke-20.
Akhir abad ke-19 menyaksikan munculnya gerakan nasionalis Yahudi di Eropa yang dikenal sebagai Zionisme, yang menyebabkan meningkatnya aliyah (imigrasi orang Yahudi ke Tanah Israel dari diaspora). Selama Perang Dunia I, kampanye Sinai dan Palestina oleh Sekutu menyebabkan pembagian Kekaisaran Ottoman. Britania Raya diberikan mandat atas wilayah tersebut oleh Liga Bangsa-Bangsa, yang kemudian dikenal sebaga Mandat Palestina. Pemerintah Inggris secara terbuka telah berkomitmen untuk menciptakan tanah air bagi orang Yahudi melalui Deklarasi Balfour tahun 1917. Orang Arab Palestina menentang rencana ini, menegaskan hak mereka atas bekas wilayah Ottoman dan berupaya mencegah imigrasi Yahudi. Akibatnya, ketegangan Arab-Yahudi meningkat dalam dekade-dekade berikutnya di bawah administrasi Inggris. Pada akhir tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan pemungutan suara untuk membagi Mandat Palestina dan mendirikan negara Yahudi dan Arab di wilayahnya; pihak Yahudi menerima rencana tersebut, sementara pihak Arab menolaknya. Perang saudara pun pecah, yang dimenangkan oleh pihak Yahudi.
Tanah Israel, yang dikenal dalam bahasa Ibrani sebagai Eretz Yisrael, merupakan tanah suci orang Yahudi. Menurut kitab Taurat, Tanah Israel dijanjikan kepada tiga Patriark Yahudi oleh Tuhan sebagai tanah air mereka. Para cendekiawan memperkirakan periode ini ada pada milenium ke-2 SM. Menurut pandangan tradisional, sekitar abad ke-11 SM, beberapa kerajaan dan negara Israel didirikan di sekitar Tanah Israel; Kerajaan-kerajaan dan negara-negara ini memerintah selama seribu tahun ke depan.
Antara periode Kerajaan-kerajaan Israel dan penaklukan Muslim abad ke-7, Tanah Israel jatuh di bawah pemerintahan Kerajaan Israel, Kerajaan Yehuda Asiria, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Sassania, dan Bizantium. Keberadaan orang Yahudi di wilayah tersebut berkurang drastis setelah kegagalan Perang Bar Kokhba melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 132, menyebabkan pengusiran besar-besaran Yahudi. Pada tahun 628/9, Kaisar Bizantium Heraklius memerintahkan pembantaian dan pengusiran orang-orang Yahudi, mengakibatkan populasi Yahudi menurun lebih jauh. Walau demikian, terdapat sekelompok kecil populasi Yahudi yang masih menetap di tanah Israel. Tanah Israel direbut dari Kekaisaran Bizantium sekitar tahun 636 oleh penakluk Muslim. Selama lebih dari enam abad, kontrol wilayah tersebut berada di bawah kontrol Umayyah, Abbasiyah, dan Tentara Salib sebelum jatuh di bawah Kesultanan Mameluk pada tahun 1260. Pada tahun 1516, Tanah Israel menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah.
↑Facts On File, Incorporated (2009). Encyclopedia of the Peoples of Africa and the Middle East. Infobase Publishing. hlm.337–. ISBN978-1-4381-2676-0."The people of the Kingdom of Israel and the ethnic and religious group known as the Jewish people that descended from them have been subjected to a number of forced migrations in their history"
↑"Jew | History, Beliefs, & Facts | Britannica". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 September 2022. Diakses tanggal 2022-08-20. In the broader sense of the term, a Jew is any person belonging to the worldwide group that constitutes, through descent or conversion, a continuation of the ancient Jewish people, who were themselves descendants of the Hebrews of the Old Testament.
↑ Sebagai akibat dari perang Yahudi-Romawi pada abad ke-1 dan ke-2 M, banyak orang Yahudi terbunuh, terusir, atau dijual sebagai budak. M. Avi-Yonah, The Jews under Roman and Byzantine Rule, Jerusalem 1984 pp. 12–14
↑Mor, M. The Second Jewish Revolt: The Bar Kokhba War, 132-136 CE. Brill, 2016. P471/
↑Mor, Menahem (2016-04-18). The Second Jewish Revolt. BRILL. hlm.483–484. doi:10.1163/9789004314634. ISBN978-90-04-31463-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 June 2024. Diakses tanggal 23 September 2022. Land confiscation in Judaea was part of the suppression of the revolt policy of the Romans and punishment for the rebels. But the very claim that the sikarikon laws were annulled for settlement purposes seems to indicate that Jews continued to reside in Judaea even after the Second Revolt. There is no doubt that this area suffered the severest damage from the suppression of the revolt. Settlements in Judaea, such as Herodion and Bethar, had already been destroyed during the course of the revolt, and Jews were expelled from the districts of Gophna, Herodion, and Aqraba. However, it should not be claimed that the region of Judaea was completely destroyed. Jews continued to live in areas such as Lod (Lydda), south of the Hebron Mountain, and the coastal regions. In other areas of the Land of Israel that did not have any direct connection with the Second Revolt, no settlement changes can be identified as resulting from it.