| Kampanye Sinai dan Palestina |
|---|
| Bagian dari Teater Timur Tengah Perang Dunia I |
Berkas:Ottoman artillerymen with 10.5 cm Feldhaubitze 98-09.jpg Prajurit artileri Kekaisaran Ottoman dengan meriam 10,5 cm Feldhaubitze 98/09 sesaat sebelum Pertempuran Hareira dan Sheria di tengah serangan ke Palestina Selatan, tahun 1917. |
|
| Pihak terlibat |
|---|
|
|
|
| Tokoh dan pemimpin |
|---|
|
|
|
| Pasukan |
|---|
|
|
|
| Kekuatan |
|---|
|
Sekitar 1.200.000 total sepanjang kampanye.
Pada Januari 1915: ±150.000 prajurit.
Pada September 1918: 467.650 personel
(120.000 prajurit tempur, 134.971 pekerja, 53.286 unit transportasi). |
Diperkirakan 200.000–400.000 total.
Pada Januari 1918: 257.963 personel (menurut catatan Başkomutanlık Vekâleti Harp Ceridesi). |
| Korban |
|---|
|
Total sekitar **175.000–185.000** korban:
- 17.000 tewas/hilang
- 44.000 terluka
- 1.400 tertangkap
- 6.000 meninggal karena penyakit
- ±110.000 sakit atau tidak layak tempur
(Sumber: British War Office, 1922; Allenby Final Report, 1919) |
Total sekitar **210.000–240.000** korban:
- 26.000 tewas/hilang
- 84.000 terluka
- 79.000 tertangkap (setelah runtuhnya Beersheba–Damaskus)
- ±41.000 meninggal karena penyakit dan kelelahan
(Sumber: Edward J. Erickson, "Ordered to Die", 2001; ATASE Harp Ceridesi, 1919) |
Kampanye Sinai dan Palestina merupakan bagian dari Front Timur Tengah dalam Perang Dunia I, yang berlangsung antara Januari 1915 hingga Oktober 1918. Dalam kampanye ini, Kekaisaran Britania, Republik Ketiga Prancis, dan Kerajaan Italia berperang bersama pasukan Pemberontakan Arab melawan Kekaisaran Utsmaniyah, Kekaisaran Jerman, dan Kekaisaran Austria–Hungaria. Konflik ini dimulai dengan upaya pasukan Utsmaniyah untuk menyerang Terusan Suez pada tahun 1915, dan berakhir dengan ditandatanganinya Gencatan Senjata Mudros pada tahun 1918, yang menandai berakhirnya kekuasaan Utsmaniyah atas wilayah Suriah Utsmaniyah.
Pertempuran pertama terjadi pada Januari 1915, ketika pasukan Utsmaniyah yang dipimpin oleh perwira Jerman melakukan invasi ke Semenanjung Sinai, wilayah yang saat itu diduduki Britania sebagai bagian dari Protektorat Mesir. Serangan itu bertujuan menyerang Terusan Suez tetapi gagal. Setelah berakhirnya Kampanye Gallipoli, para veteran Britania membentuk Pasukan Ekspedisi Mesir (Egyptian Expeditionary Force, EEF), sementara veteran Utsmaniyah membentuk Tentara Keempat Utsmaniyah untuk memperebutkan wilayah Sinai pada tahun 1916. Pada Januari 1917, satuan baru Desert Column berhasil merebut kembali seluruh wilayah Sinai dalam Pertempuran Rafa. Keberhasilan ini diikuti oleh dua kekalahan EEF dalam Pertempuran Gaza Pertama dan Pertempuran Gaza Kedua pada Maret dan April 1917, di wilayah selatan Palestina.
Setelah kebuntuan antara April dan Oktober 1917 di Palestina Selatan, Jenderal Edmund Allenby memimpin serangan yang berhasil merebut Beersheba dari Korps III Utsmaniyah. Pertahanan Utsmaniyah di wilayah itu berhasil ditembus pada 8 November, dan pasukan Sekutu memulai pengejaran. Keberhasilan berikutnya diraih di Pertempuran Mughar Ridge (10–14 November) dan Pertempuran Yerusalem (17 November–30 Desember). Namun pada Maret 1918, Serangan Musim Semi Jerman di Front Barat memaksa Britania mengirim sebagian besar pasukan dari Timur Tengah ke Eropa, sehingga laju ofensif sempat terhenti. Serangan dilanjutkan kembali pada September 1918 dalam Pertempuran Megiddo (1918), sebuah operasi manuver besar yang menjadi titik balik kampanye.
Kemenangan infanteri di Pertempuran Tulkarm dan Pertempuran Tabsor membuka celah di garis depan Utsmaniyah, memungkinkan Korps Berkuda Gurun melakukan manuver pengepungan terhadap pasukan infanteri yang bertempur di Pegunungan Yudea. Pasukan ini kemudian memenangkan Pertempuran Nazaret dan Pertempuran Samakh, serta merebut Afulah, Beisan, Jenin, dan Tiberias. Dalam serangkaian pertempuran berikutnya — termasuk Pertempuran Sharon, Pertempuran Nablus (1918), dan Serangan Transyordania Ketiga — pasukan Sekutu menghancurkan tiga tentara utama Utsmaniyah, menangkap puluhan ribu tawanan dan banyak perlengkapan perang. Setelah pengejaran lebih lanjut, Damaskus dan Aleppo jatuh ke tangan Sekutu, sebelum akhirnya Kekaisaran Utsmaniyah menandatangani Gencatan Senjata Mudros pada 30 Oktober 1918, yang secara resmi mengakhiri Kampanye Sinai dan Palestina.
Setelah perang, wilayah-wilayah bekas kekuasaan Utsmaniyah di Suriah dan Palestina dibagi melalui sistem mandat Liga Bangsa-Bangsa. Prancis memperoleh mandat atas Suriah dan Lebanon, sementara Kekaisaran Britania mendapatkan mandat atas Mesopotamia (kini Irak) dan Palestina. Perpecahan wilayah ini menandai Pembagian Kekaisaran Utsmaniyah.
Kampanye ini kurang dikenal oleh publik pada masa perang. Di Britania Raya, banyak yang menganggapnya sebagai operasi kecil yang membuang-buang sumber daya yang seharusnya difokuskan ke Front Barat, sementara rakyat India lebih tertarik pada Kampanye Mesopotamia dan pendudukan Bagdad. Di Australia, koresponden perang resmi baru tiba di wilayah ini pada Agustus 1917 — Kapten Frank Hurley, fotografer resmi pertama Australia, menyusul kedatangan Henry Gullett sebagai koresponden resmi pada November 1917.
Dampak jangka panjang dari kampanye ini sangat besar. Setelah perang, muncul negara-negara baru di wilayah bekas Utsmaniyah: Republik Turki berdiri pada 1923 setelah Perang Kemerdekaan Turki, sementara mandat Eropa berakhir secara bertahap — dengan berdirinya Kerajaan Irak (1932), Republik Lebanon (1943), Kerajaan Yordania (Transyordania) dan Republik Arab Suriah (1946), serta Negara Israel (1948).