Sejarah Ekuador mencakup keberadaan manusia di wilayah tersebut sejak 8.000 tahun yang lalu. Selama periode tersebut, beragam budaya telah memengaruhi masyarakat dan wilayah yang saat ini membentuk Republik Ekuador. Suku-suku asli mendiami daerah tersebut selama ribuan tahun sebelum diserbu dan diserap menjadi bagian Chinchasuyu dalam Kekaisaran Inka pada awal abad kelima belas.
Suku Inka kemudian ditaklukkan oleh Spanyol yang dipimpin oleh Francisco Pizarro pada awal abad ke-16. Wilayah tersebut berada di bawah Kewizuraian Peru meskipun diberikan otonomi tertentu melalui Audencia Quito yang didirikan pada tahun 1563. Pada tahun 1720, wilayah tersebut digabungkan ke Kewizuraian Granada Baru.
Saat Perang kemerdekaan Amerika Latin meletus, pemberontakan melawan Quito Audencia dipadamkan pada tahun 1812. Perjuangan tersebut dihidupkan kembali pada tahun 1820 oleh pemberontakan baru yang berasal dari Guayaquil. Kota ini juga merupakan lokasi Konferensi Guayaquil antara Simon Bolivar dan San Martin. Dari sana pula terbentuk Provinsi Bebas Guayaquil, setelah Revolusi 9 Oktober 1820. Pada awal kemerdekaannya, Ekuador dengan nama Departemen Quito merupakan bagian dari RepublikKolombia Raya, sebelum akhirnya memisahkan diri pada tahun 1830.
Ekuador mengalami periode perang saudara hingga pertengahan abad kesembilan belas, setelah itu negara tersebut akan didominasi oleh para caudillo, yang bergantian konservatif dan liberal. Pada abad kedua puluh dan kedua puluh satu, Ekuador masih terus berjuang untuk mencapai stabilitas ekonomi dan politik.