Alur
Tari adalah seorang ibu yang memiliki dua orang anak yakni Bian dan Hanif. Sewaktu kecil, ibunya (Anggun) mengusirnya dan adik laki-lakinya (Kadar), sehingga hal tersebut membuat Tari menyimpan rasa dendam kepada ibunya. Suatu hari Tari mendengar kabar mengenai ibunya yang sedang sekarat. Walaupun awalnya merasa enggan untuk mengunjunginya, pada akhirnya Tari berangkat ke kampung ibunya setelah diminta oleh Kadar.
Kadar yang berhutang pada pinjol, berharap dapat menemukan sesuatu milik ibunya yang dapat dipakainya untuk membayar hutang. Saat menggeledah lemari di rumah ibunya, ia menemukan sebuah surat sertifikat tanah dan sejumlah uang, yang langsung diambilnya. Keesokan harinya, Hanif mencari mainan mobil-mobilannya yang hilang, dan dia menemukannya sedang berbunyi di bawah kasur yang ditiduri neneknya. Pada saat Hanif ingin mengambil mainan tersebut, Anggun tiba-tiba jatuh dari kasur menimpa Hanif dan kejang-kejang. Kadar membawa Anggun kembali ke kasur tetapi kemudian Anggun memuntahinya. Sesudah kejadian tersebut, Kadar memanggil Ki Husein, orang pintar yang sebelumnya pernah mengatakan kepada Mbok Yati bahwa Anggun dikuasai oleh roh jahat. Ki Husein melakukan ritual untuk mengambil susuk yang ada dalam tubuh Anggun. Setelah susuk diambil, tubuh Anggun yang sebelumnya seperti gadis berusia muda langsung berubah menjadi sebuah mayat yang sangat tua. Ki Husein berpesan kepada Kadar untuk menyimpan susuk tersebut guna dikembalikan ke tempat asalnya. Mayat Anggun ternyata tidak boleh sembarangan langsung dikuburkan, melainkan harus dilarutkan di sebuah danau dalam gua pada hari Kamis Kliwon, tujuh hari setelah kematiannya.
Pada hari pertama, setelah memandikan jenasah, Tari beberapa kali mendengar Anggun yang berkata "Lungo saiki!" (Indonesia: "Pergi sekarang!"). Malamnya, Anggun muncul menakut-nakuti Bian. Beberapa hari kemudian, sosok Anggun terus muncul menghantui Bian dan Hanif. Pada hari ke-4, Tari pergi ke kota dengan Mbok Yati untuk membeli tiket bus pulang mereka. Kadar yang diminta untuk menjaga keponakannya, malah menggunakan kesempatan tersebut untuk pergi mabuk-mabukan dan menghabiskan malam dengan seorang wanita yang ternyata adalah Nyi Rukmosora. Keesokan harinya, Kadar terbangun di tengah kuburan. Di hari ke-5 malam, Bian secara misterius melakukan ritual bersama sekumpulan wanita bertopeng pada mayat Anggun sambil berkata "Ojo mblenjani janji" (Indonesia: "Jangan mengingkari janji"). Tari yang sudah tidak tahan dengan semua yang terjadi memutuskan untuk menguburkan Anggun keesokan harinya. Setelah penguburan selesai, saat mereka kembali ke rumah, mayat Anggun terlihat kembali berada di sana dipenuhi dengan serangga yang berterbangan. Pada hari ke-7, mereka memanggil kembali Ki Husein, di mana dia menuntun mereka untuk membawa mayat Anggun ke sebuah gua. Ki Husein kemudian melakukan ritual dan menenggelamkan mayat Anggun ke dalam sebuah danau kecil di dalam gua. Malamnya, Tari mencoba untuk memakai topeng yang ditemukan Hanif sebelumnya. Setelah memakai topeng tersebut, dia melihat masa lalu ibunya. Akibat hidupnya yang sangat sulit, Anggun ternyata pernah melakukan sebuah ritual yang mengubah hidupnya tetapi menyebabkannya terkena sebuah kutukan akibat susuk yang ada dalam dirinya. Untuk mencegah susuk tersebut menurun ke anaknya, dia mengusir anak-anaknya waktu mereka kecil. Anggun meminta Tari untuk mengembalikan jarum susuk yang dikeluarkan oleh Ki Husein untuk dikembalikan ke tempat asalnya. Hanif secara tiba-tiba terangkat dan dibawa oleh sebuah kekuatan misterius. Tari membawa susuk yang disimpan Kadar ke danau dalam gua, tempat mereka menenggelamkan Anggun. Setelah mereka mengembalikan susuk tersebut, Tari meminta agar Hanif dikembalikan kepadanya. Sebuah suara menjawab dengan menagih janji yang pernah diucapkan oleh Anggun. Kadar menjawab bahwa dia bersedia menjadi tumbal untuk memenuhi janji tersebut. Tak lama kemudian, Hanif muncul dari air, tetapi sebagai gantinya Kadar ditarik masuk ke dalam air. Seorang wanita bertopeng kemudian muncul, bersama dengan sekumpulan wanita bertopeng lain yang menahan Kadar di air. Tari kemudian memecahkan topeng yang dia pegang sehingga menyebabkan topeng wanita bertopeng tersebut ikut pecah dan lenyap ditelan air, diikuti oleh para wanita yang lain yang juga lenyap. Saat semuanya merasa bahwa mereka telah selamat, tiba-tiba Kadar ditarik masuk ke dalam air dan tidak kembali lagi.
Pada hari ke-100 setelah kematian Anggun, muncul seorang wanita bertopeng berbaju putih di rumahnya yang kini kosong.