Sebangau merupakan salah satu permukiman tertua di Kabupaten Pulang Pisau, nama tersebut sudah ada disebut di dalam Hikayat Banjar. Sebangau merupakan daerah tersendiri tidak termasuk ke dalam wilayah Biaju Besar. Sebangau termasuk darah yang diserahkan Sultan Inayatullah (Ratu Agung) kepada Pangeran Dipati Anta-Kasuma karena itu pada abad ke-17 Sebangau termasuk ke dalam wilayah Kotawaringin.[1]
Keberadaan wilayah Sebangau, diceritakan dalam Hikayat Banjar-Kotawaringin merupakan salah satu daerah yang mengirim utusan untuk menghadiri undangan penguasa Kerajaan Negara DipaLambung Mangkurat untuk menghadiri upacara pernikahan Putri Junjung Buih dengan Pangeran Suryanata, (Rass:314) sebagai berikut:
Maka orang piadak ampat puluh hari ampat puluh malam, makan dan minum. Sagala Sakai sama datang: orang batang Tabalong, orang batang Barito, orang Batang Alai, orang batang Hamandit, orang batang Balangan dan batang Pitap, orang batang Biaju Kecil, orang batang Biaju Besar dan orang Sabangau, orang Mendawai sarta orang Katingan, orang Sampit sarta orang takluknya, orang Pambuang sarta orang takluknya, sakaliannya itu datang dangan parsambahannya. Sukaramailah piadak itu, ada barwayang di Dalam, di Pagongan orang barwayang wong, di Paseban orang manopeng, di Sitilohor orang marakit.
Keberadaan wilayah Sebangau, diceritakan dalam Hikayat Banjar-Kotawaringin merupakan salah satu daerah yang mengirim pasukan perang untuk membantu Raja Banjar Pangeran Samudera (Sultan Suryanullah) melawan pamannya Pangeran Tumenggung (Raja Negara Daha):
Perkembangan selanjutnya nama wilayah Sebangau jarang disebut lagi sebagai daerah yang berdiri sendiri karena sudah digabung ke dalam wilayah Dayak Besar pada zaman masa kolonial Hindia Belanda seperti yang tertulis di dalam kontrak pernjanjian antara Kesultanan Banjar dengan pihak kolonial Hindia Belanda.[2]
Berdasarkan CONTRACT MET DEN SULTAN VAN BANDJERMASIN 4 Mei 1826. / B 29 September 1826 No. 10, yang dibuat Sultan Adam dari Banjar dengan pihak kolonial Belanda, Sebangau dimasukan ke dalam wilayah Dayak Besar.[2]