Dra. Satyawati Suleiman (7 Oktober 1920–26 Februari 1988) adalah seorang arkeologwanita pertama dari Indonesia.[1] Beliau lebih dikenal dengan panggilan Ibu Leman atau Ibu Yati di kalangan sahabatnya.[2]
Ia menamatkan pendidikan nya di Hogere Burgerschool di Prins Hendrik School pada tahun 1940. Lalu awalnya ia dan teman karib nya mendaftar di Recht Hogeshool alias Fakultas Hukum sekarang. Namun, ia tidak lama mengikuti kuliah di RH karena pada tanggal 4 Desember 1940 di buka Fakulteit der Letteren en Wijsbegeerte atau Fakultas Sastera dan Filsafat. Maka kuliahnya sempat tertunda saat masa pendudukan Jepang, dan baru lulus menjadi sarjana Ilmu Purbakala pada tahun 1953 bersamaan dengan R. Soekmono.
Saat pada masa kuliah, beliau pernah bekerja menjadi penerjemah di sebuah lembaga asing, yaitu British Information Service di Jakarta. Tak lama kemudian, beliau pindah bekerja di Kantor Dinas Purbakala, yang saat itu dipipimpin oleh Prof. Dr. A. J. Bernet Kempers. posisinya di kantor pada saat itu adalah student assistent dan mendapat gaji bulanan. [3]
Karier
Satyawati Suleiman telah memulai kariernya sebelum lulus menjadi sarjana dengan bekerja di Dinas Purbakala sejak tahun 1948. Pada tahun 1958 hingga 1961, ia pernah menjadi perwakilan Indonesia sebagai Atase Kebudayaan di India. Selama bertugas di India, ia banyak menimba pengetahuan tentang candi dan arca sehingga menjadi sumbangsih pengetahuan dalam penelitian ikonografi di Indonesia. Kemudian pada tahun 1961 hingga 1963, ia masih ditunjuk sebagai Atase Kebudayaan di Inggris.[1]
Pasca menjadi Atase Kebudayaan, Satyawati Suleiman kembali ke Indonesia dan menjabat sebagai Kepala Bidang Arkeologi Klasik dari tahun 1963 hingga 1973 di Lembaga Purbakala dn Peninggalan Nasional (LPPN). Pada tahun 1973, ia menggantikan Soekmono sebagai kepala LPPN periode sebelumnya. Ia pada tahun yang sama juga menjadi penanggung jawab Proyek Pemugaran Candi Borobudur. Saat Satyawati Suleiman menjabat sebagai kepala LPPN hingga berakhir tahun 1977, lembaga tersebut berubah nama menjadi Pusat Penelitian dan Peninggalan Nasional.[4]
Selepas menjabat kepala LPPN, ia masih bekerja sebagai Ahli Peneliti Utama di Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional hingga tahun 1985, sekaligus juga menjadi Governing Board pada SEAMEOProject on Archaeology and Fine-Arts (SPAFA).
Kehidupan pribadi
Menurut O. W. Wolters dalam tulisannya berjudul "In Memoriam: Satyawati Suleiman, 1920-1988" , sebelum meninggal Satyawati Suleiman pernah bercerita kepada teman-temannya jika pensiun nanti akan mengisi waktu luangnya dengan merawat kolam ikan di rumahnya. Namun, teman-temannya mengatakan jika hal tersebut dilakukan hanya akan membuatnya bosan. Hingga pada tahun 1985, Satyawati Suleiman diberikan sebuah hak untuk mempertahankan kantornya di Pusat Penelitian dan Peninggalan Nasional. Hak tersebut kemudian ia manfaatkan untuk menulis serta membantu para sarjana muda dalam membenahi artikel publikasi.[5]
Hasil karya
The Ancient History of Indonesia
Ancient Indonesian Art of The Central and Eastern Javanese Periods, (1971)
Concise Ancient History of Indonesia, (1974)
The Archaeology and History of West Sumatra, (1977)
Monuments of Ancient Indonesia, (1981)
A Few Observations of The Use of Ceramics in Indonesia, (1984)
Sculptures of Ancient Sumatra, (1999)
Rujukan
12Wolters, O.W. (1988). "In Memoriam: Satyawati Suleiman, 1920-1988". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 46: 122–125.