Sanam Luang (Thai: สนามหลวง, dieja [sā.nǎːm lǔa̯ŋ]; yang berarti, 'tanah kerajaan), nama resminya adalah Thong Sanam Luang (Thai: ท้องสนามหลวง), adalah lapangan terbuka dan areal publik dekat Wat Phra Kaew dan Grand Palace, Bangkok, Thailand. Sanam Luang berada di Phra Nakhon District (Distrik Phra Nakhon), dan merupakan ikon sejarah di Kota Bangkok.[1]
Berdasarkan Catatan Sejarah Kerajaan, Sanam Luang terletak di depan Wat Mahathat, yang membentang di antara Istana Utama dan Istana Depan. Dalam penyelenggaraan upacara kremasi kerajaan di Pelataran Phra Men, panggung pembakaran jenazah didirikan tepat di titik pusat, di mana paviliun Istana Utama berada di sisi selatan dan paviliun Pangeran Istana Depan di sisi utara. Selama prosesi berlangsung, ansambel musik dari kedua istana tersebut dimainkan secara bersahutan dari sisi berlawanan di Sanam Luang.[2]
Sanam Luang pada mulanya menyandang nama resmi Thung Phra Men (Thai: ทุ่งพระเมรุ) yang berarti pelataran kremasi kerajaan. Menjadi saksi bisu sejak era Raja Rama I, tempat ini diperuntukkan bagi upacara pembakaran jenazah agung para penguasa dan bangsawan tinggi. Transformasi nama terjadi di tahun 1855 ketika Raja Rama IV menetapkan nama baru, yakni 'Thong Sanam Luang', yang kemudian disingkat menjadi Sanam Luang. Sekarang, situs tersebut berada di bawah perlindungan Departemen Seni Rupa sebagai cagar budaya bersejarah.[3]
Sejarah singkat
Sanam Luang telah difungsikan sejak era Raja Rama I sebagai pusat penyelenggaraan berbagai upacara dan prosesi agung kerajaan, termasuk upacara perabuan Pangeran Istana Depan yang merupakan saudara kandung sang Baginda. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh Raja Rama II, yang juga menyelenggarakan upacara serupa bagi mendiang saudaranya, Pangeran Istana Depan di masa pemerintahannya. Kronik Kerajaan mencatat kedekatan hubungan antara kedua bersaudara tersebut melalui sebuah fragmen kisah:
"Pada awal musim angin muson, sang Raja menerbangkan layang-layang Chula (berbentuk bintang) di pelataran Kuil Buddha Zamrud, sementara Pangeran Istana Depan menerbangkan layang-layang Pakpao di Sanam Luang."
Pada masa Raja Rama III, Sanam Luang sempat dijadikan lahan persawahan. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kepada bangsa luar (terutama saat konflik dengan Kamboja dan Vietnam) bahwa Thailand adalah negeri yang subur dan makmur. Memasuki era Raja Rama IV, dibangunlah fasilitas permanen untuk Upacara Membajak Sawah Kerajaan (Royal Ploughing Ceremony), lengkap dengan dinding rendah, aula pemujaan, paviliun pengamatan, hingga panggung pertunjukan ritual.
Raja Rama V melakukan perombakan besar dengan memperluas lahan dan membongkar bangunan lama untuk persiapan perayaan seabad Bangkok (1897). Terinspirasi dari taman-taman di Keraton Jawa yang beliau kunjungi, Raja memerintahkan penanaman dua baris pohon asam yang mengelilingi Sanam Luang (kini berjumlah 783 pohon). Di era Raja Rama VI, selain untuk upacara, lahan ini juga mulai digunakan untuk lintasan balap dan lapangan golf seiring banyaknya warga asing yang datang.
Memasuki abad ke-20 dan ke-21, Sanam Luang terus menjadi saksi bisu bagi momen-momen duka nasional yang kolosal. Pada tahun 1950, lapangan ini menjadi tempat perabuan Raja Ananda Mahidol (Rama VIII)[4], disusul oleh upacara-upacara besar lainnya bagi anggota inti keluarga kerajaan, seperti Ratu Savang Vadhana[5] di tahun 1956, serta Ratu Rambhai Barni[6] pada tahun 1986. Salah satu momen yang paling membekas dalam memori kolektif rakyat Thailand adalah upacara perabuan Ibu Suri Srinagarindra[7] pada tahun 1996, sosok yang sangat dicintai karena kedermawanannya, serta perabuan Putri Galyani Vadhana[8] pada tahun 2008 dan Putri Bejaratana pada tahun 2011[9].
Puncak dari peran Sanam Luang sebagai situs pemakaman kerajaan terjadi pasca-wafatnya Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) pada Oktober 2016. Selama masa berkabung, lautan manusia memadati Sanam Luang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada raja yang telah bertahta selama tujuh dekade tersebut. Upacara perabuan agungnya yang dilangsungkan pada 26 Oktober 2017 tercatat sebagai salah satu prosesi paling megah dalam sejarah modern, di mana sebuah struktur krematorium setinggi menara dibangun khusus di tengah lapangan ini.